Gus Huda: Jokowi Akan Membunuh Madin Secara Perlahan

0
2249
Surat Pernyataan: Salah satu bentuk surat yang diniliah Hudallah Ridwan sebagai paksaan kepada siswa adalah ”surat pernyataan dukungan” penerapan full day scool. Foto: Istimewa.

Semarang, nujateng.com – Koordinator Koalisi Masyarakat Peduli Pendidikan (KMPP) Jawa Tengah, Hudallah Ridwan menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) mempunyai program pendidikan yang akan membunuh madrasah diniyah (Madin) secara perlahan.

“Presiden (Jokowi) mengatakan, kalau sekolah lima hari ‘full day school’ tidak ada keharusan. Artinya, Presiden mendukung sekolah yang sekarang memberlakukan sekolah lima hari dengan cara memaksakan kepada siswa,” tegasnya, saat ditemui di kantornya, Jl. Dr Cipto 180 Semarang, Jumat (11/8/17) siang.

Seperti ramai diberitakan, pemerintah tengah menyusun Perpres tentang Program Pendidikan Karakter untuk mengganti Permendikbud No. 23 Tahun 2017 tentang jam sekolah. Permendikbud itulah yang mengatur tentang 5 hari sekolah selama seminggu dengan durasi 6 jam pelajaran setiap harinya.

“Begini, jadi perlu saya tegaskan, perlu saya sampaikan bahwa tidak ada keharusan untuk lima hari sekolah ya, jadi tidak ada keharusan full day school,” kata Jokowi di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakata Pusat, seperti dikutip dari detik.com Kamis (10/8/17).

Tidak Tegas

Menurut Gus Huda, sapaan akrabnya, Presiden tidak tegas mencabut atau memberlakukan program full day school. Bermula dari inilah, maka sekolah-sekolah yang sekarang secara diam-diam memberlakukan full day school, akan merasa didukung oleh Jokowi.

“Jadi intinya begini, Presiden tidak mengharuskan full day school diterapkan, artinya kebijakan ini tidak dicabut. Nah, sekolah-sekolah yang sekarang menjalankan full day school, artinya jalan terus. Padahal, Madin yang santrinya sekolah di sekolah yang menerapkan full day school, sekarang madinnya mat,” jelas Gus Huda.

Hemat Gus Huda, Presiden Jokowi tidak tegas dalam bersikap terhadap kepentingan yang mengancam madrasah. Pemerintah sama sekali tidak menimbang suara-suara dari masyarakat akar rumput.

“Kurang apa kami menjelaskan soal keluhan full day school ini kepada Presiden. Kami juga sudah mengabarkan melalui media, bagaimana kepala-kepala dinas dan kepala sekolah memaksakan kebijakan full day scool ini kepada siswa. Sisiwa mau tidak mau manut, apalagi dengan alasan ini dan itu, pasti orang tua wali murid takut dan manut,” tambahnya. [Ceprudin/003]