Gelombang Penolakan “Full Day School” Terus Menggelora

0
1753
Ribuan Massa: Ribuan masa aksi tolak full day school di Tasikmalaya Jawa Barat memadati area aksi. Foto: Istimewa.

Semarang, nujateng.com – Gelombang suara penolakan terhadap “full day school” terurs menggelora. Aksi massa di daerah-daerah terus dilakukan silih berganti. Semua satu suara, menuntut supaya Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertindak tegas untuk melarang sekolah melaksanakan “full day chool”.

“Hari ini di Kabupaten Semarang bergerak dan bergejolak. Massa menolak Permendikbud No. 23 Tahun 2017. Selamatkan Taman Pendidikan al-Quran (TPQ), Madrasah Diniyah (Madin), dan pesantren,” tegas Ketua Koalisi Masyarakat Peduli Pendidikan (KMPP) Jateng Hudallah Ridwan, di Kantornya, Jumat (18/8/17).

Seperti informasi yang beredar, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Semarang mengintruksikan kepada semua elemen masyarakat, Lajnah, Banom, serta organisasi kepemudaan NU untuk turun aksi pada hari ini. Rencananya, aksi akan dimulai usai Sholat Jumat di depan Masjid Agung Ungaran, Kabupaten Semarang.

Datang ke Istana

Gus Huda, sapaan akrabnya, menjelaskan aksi penolakan terhadap rencana presiden untuk mengatur tentang full day school akan terus berlanjut. Selama presiden tidak mengambil langkah tegas, gejolak aksi massa di berbagai daerah akan terus berlanjut. Bahkan, katanya, tidak mustahil jika massa dari berbagai daerah itu akan datang ke Istana Negara di Jakarta.

“Kemarin di berbagai daerah, Kota Semarang, Banyumas, Magelang, dan Sleman, dan lainnya serentak turun aksi menolak full day school. Belum lagi yang diluar Jateng seperti Tasikmalaya Jabar, DIY, dan Jatim. Hari ini di Kabupaten Semarang dan akan disusul aksi dari Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes dan Grobogan,” jelasnya.

Dengan adanya aksi-aksi di berbagai daerah, lanjut Huda, menandakan bahwa sekolah hingga jam 4 sore betul-betul akan merugikan madrasah, TPQ, dan pesantren. “Karena itu kami dan seluruh daerah tegas menolak. Pokoknya cabut aturan itu tanpa tawar menawar, ini murni suara masyarakat bawah,” tegasnya. [Cep/005]