Dirintis Bertahun-tahun, Madin Ini Terancam Gulung Tikar

0
1492

Semarang, nujateng.com – Akibat diberlakukannya sekolah delapan jam selama lima hari, Madrasah Diniyah (madin) dan TPQ Masjid Al Barokah Kelurahan Tambakaji Kota Semarang ini mulai kekurangan murid. Berkurangnya murid ini bukan tak mungkin mengarah pada pembubaran dua lembaga pendidikan agama ini.

Berkurangnya siswa madrasah tersebut bermula dari sosialisasi dari SD Negeri Tambakaji 05 tentang pelaksanaan program sekolah lima hari sekolah. Sosialisasi itu diselenggarakan pada Rabu, 2 Agustus 2017.

Ketua Takmir Masjid Al Barokah, Ary Sumari mengeluhkan adanya kebijakan pemberlakukan sekolah lima hari yang seakan diam-diam itu. Ary menilai, penyelenggaraan program sekolah lima hari telah mengancam kelangsungan pendidikan TPQ dan Madin yang telah dirintis bertahun-tahun.

”Di wilayah RW 1 Kelurahan Tambakaji Kota Semarang telah menyelenggarakan pendidikan TPQ dan Madrasah Diniyah sejak lama dengan rincian di Masjid Al Barokah berjumlah 124 anak dan di Mushola Baiturridwan ada 65 anak. Total ada 189 anak. Tapi ketika delapan jam sekolah berlaku, anak-anak tidak ngaji lagi,” katanya.

Baca Tulis al-Quran

Penyelenggaraan sekolah di Madin dan TPQ sendiri dilaksanakan mulai 15.00 hingga 17.00 WIB. Dua sekolah yang lumrah disebut sekolah arab ini bertempat di Masjid Al Barokah dan di Mushola Baiturridwan. Menurut Ary, pendidikan TPQ dan Madin selama ini sangat membantu orang tua di wilayah RW 1 dan sekitarnya dalam membekali anak tentang baca tulis Al Quran dan penguatan aqidah.

“Apalagi pendidikan TPQ dan Madrasah Diniyah telah berjalan dengan baik dan Madrasah Diniyah telah memiliki gedung sekolah tersendiri. Bagimana jika, sekolah lima hari betul-betul berjalan terus dan tidak dibatalkan. Ini Madin dan TPQ sudah pasti gulung tikar,” tuturnya.

Ketua Yayasan Pendidikan Nurul Ulum, Mustholehudin, mengeluhkan hal serupa. Mustholeh menyatakan, penyelenggaraan program sekolah lima hari telah mengancam TPQ dan Madin. “Sehubungan dengan pelaksanaan program 5 hari sekolah yang diselenggarakan di SD Tambakaji 05 kami menolak program tersebut. Pendidikan kami telah berjalan dengan baik selama ini,” tandasnya.

NU se Jateng Menolak

Menyikapi hal yang sama, PWNU Jateng mengeluarkan perintah keras dan terbuka untuk menentang Permendikbud No. 23 Tahun 2017 yang mengatur pelaksanaan lima hari sekolah. PWNU Jateng perintahkan semua PCNU di wilayahnya menggelar aksi massa menentang kebijakan tersebut.

PWNU mengeluarkan surat berisi instruksi kepada semua Pimpinan Cabang NU (PCNU) di Jateng untuk menyampaikan sikap tegas kepada kepala daerahnya masing-masing terkait penolakan pelaksanakan kebijakan lima hari sekolah.

Tak cuma itu, masing-masing PCNU juga diperintahkan mengkoordinasi badan otonom dan lembaga-lembaga yang beafilisasi ke NU serta elemen masyarakat lainnnya untuk menggelar aksi penolakan secara massif. “Aksi penolakan agar dilakukan secara tertib dengan tetap menjunjung tinggi akhlaqul karimah dan meminta restu serta dukungan kepada para kiai dan tokoh NU setempat,” demikian isi surat tersebut.

Surat resmi tersebut ditandantangi oleh Rois Syuriah PWNU Jateng, KH Ubaidillah Shodaqoh; Katib Syuriah PWNU Jateng, KH Ahmad Sya’roni; Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng, Abu Hafsin PhD; dan Sekretaris PWNU Jateng, Moh Arja Imroni. [Ceprudin/03]