Cara Membersihkan Hati Menurut Abu Bakar Ash-Shiddiq

0
623

Oleh: KH Ahmad Nadhif Abdul Mujib, Lc
(Dewan Instruktur Pengurus Pusat GP Ansor)

الحمد لله الذي عمت آلاؤه جميع مخلوقاته. فأبى أكثر الناس إلا كفورا. ونصب من الآيات الباهرات ما دل على وحدانيته فعميت بصائر الكافرين والمنافقين فما زادتهم إلا نفورا. وبصّر المؤمنين في التفكير في آياته فأشرقت قلوبهم بالإيمان به منا وتيسيرا

أحمده سبحانه حمد عبد عرفه حق معرفته. وأشكره شكرا كثيرا. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أرسله بالحق بشيرا ونذيرا، وداعيا إلى الله بإذنه وسراجا منيرا. اللهم صل على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وأصحابه ومن تعبهم بإحسان إلى يوم الدين وسلم تسليما كثيرا

أما بعد فيا أيها الناس اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون

Hadirin Rohimakumullah

Sayyidina Abdullah bin Abi Quhafah atau dipanggil juga dengan panggilan ‘Atiq bin Abi Quhafah adalah tokoh agung yang paling populer dengan panggilan mulia Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq, bergelar Kholifatu Rosulillah Saw. Ibnu Ma’in menyatakan bahwa Sayyidina Abu Bakar dipanggil ‘Atiq adalah karena ketampanannya. Beliau tercatat paling faham dalam bidang nasab dan keturunan-keturuan kaum Quraisy.

Amr bin ‘Ash suatu ketika bertanya kepada Rasulullah: “Siapakah lelaki yang paling engkau sukai?”. Nabi menjawab: “Abu Bakar”. Dalam dakwah-dakwah Nabi, terutama pada era-era pertama, Abu Bakar selalu menghaturkan bantuan materi kepada Rasululllah, hingga beliau pernah berkata:

ما نفعني مال ما نفعني مال أبي بكر

“Tidak ada harta benda yang paling bermanfaat bagi dakwahku, seperti manfaat harta benda yang aku terima dari Abu Bakar.”

Dan Nabi pun pernah bersabda:

لا يبغض أبا بكر وعمر مؤمن، ولا يحبهما منافق

“Tidak ada seorang mukmin yang bisa membenci Abu Bakar dan Umar. Sebagaimana tidak ada seorang munafiq yang bisa menyukai keduanya”.

Bahkan kepada Sayyidina Ali, Nabi bersabda: “Wahai Ali, Abu Bakar dan Umar adalah pemimpin kaum tua di surga. Jangan engkau beritakan ini kepadanya selama keduanya masih hidup.” Masyaallah, begitu mulianya Sayyidina Abu Bakar, dan juga Sayyidina Umar bin Khattab.

Hadirin Rohimakumullah

Karena keistimewaan-keistimewaan seperti itulah, maka tidak heran jika perkataan-perkataan Sayyidina Abu Bakar juga terhitung sangat istimewa. Dalam memaknai dan mengurai sejumlah ayat Al-Quran dan Hadis Nabi, Abu Bakar juga terhitung istimewa.

Suatu ketika, turun ayat 41 Surah Ar-Rum yang berbunyi:

ظهر الفساد في البر والبحر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون

Secara harfiyah, terjemahan ayat ini adalah sebagai berikut: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, adalah agar supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.”

Dalam memaknai ظهر الفساد في البر والبحر, Abu Bakar lebih suka memaknai seperti ini: “Telah nampak kerusakan pada lisan dan hati manusia, bukan sekedar kerusakan pada daratan dan lautan, melainkan kerusakan pada lisan dan hati.” Darat dimaknai sebagai lisan dan laut dimaknai dengan hati.

Lautan diumpakan hati karena lautan seperti tak berbatas luas dan kedalamannya. Lautan seolah dapat menampung segala hal tanpa pernah penuh sesak. Lautan bisa menampung sekian ratus juta meter kubik air, sebagaimana bisa menampung berbagai macam ikan dan karang serta tetumbuhan laut yang indah-indah. Sebagaimana juga dapat menampung berbagai sampah dan kotoran serta pencemaran-pencemaran lainnya. Demikian juga dengan hati. Ia bisa menampung dan diisi dengan berbagai macam ketaatan dan ibadah. Hati kita sebenarnya sanggup untuk diajak berpikir dan menggagas segala bentuk kebaikan. Namun hati ini pun juga sanggup untuk diisi dengan sejuta keburukan dan kemaksiatan. Itulah hati yang sangat luas, seluas lautan.

Hadirin Rohimakumullah

Karena kesiapan hati yang sedemikian dahsyat itu, karena kemampuan hati yang luar biasa, baik dalam kebaikan maupun keburukan, maka tidak mengherankan jika Rasulullah Saw bersabda:

ألا إن في الجسد مضغة، إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب

“Ingatlah, pada jasad itu terdapat segumpal daging yang jika ia baik maka seluruh bagian jasad itu menjadi baik dan jika ia buruk maka seluruh jasad juga akan ikut menjadi buruk. Itulah hati.”

Hadirin Rohimakumullah

Suatu ketika Imam Abu Hafs bersama sejumlah santrinya berkunjung ke kota Baghdad pada masa Imam Junaid Al-Baghdadi, salah satu panutan dunia tarekat Ahlussunah Wal Jama’ah.

Disebutkan oleh shahibul hikayat bahwa para santri Imam Abu Hafs terlihat sangat rapi berjalan mengawal guru mereka, terlihat sangat disiplin dan rapi bahkan melebihi para pengawal raja atau pasukan militer manapun.

Melihat ini, Imam Al Junaid bertanya: “Wahai Abu Hafs, apakah anda mengajari santri-santri itu dengan pelajaran-pelajaran kemiliteran?” Abu Hafs menjawab: “Tidak, wahai Al Junaid. Aku tidak mengajarkan mereka pelajaran-pelajaran kemiliteran. Namun Alhamdulillah, aku mengajarkan mereka cara membersihkan hati. Dan aku yakin bahwa jika hati mereka telah menjadi baik, maka mereka akan menjadi disiplin, rapi, dan perilaku mereka akan menjadi lebih positif.”

Hadirin Rohimakumullah

Dengan kata lain, melihat perangai para santri Imam Abu Hafs seperti itu, kita mungkin bisa berkesimpulan kuat bahwa “selama hati kita itu bersih, selama akhlaq kita itu baik, maka ajaran-ajaran etika dan bahkan ajaran-ajaran keilmuan lainnya akan mudah menghinggapi diri kita. Seolah-olah ajaran-ajaran selain etika itu akan dengan sendirinya include dan katut atau turut serta secara otomatis setelah adanya etika baik yang tertanam dan setelah hati kita ini bersih dari berbagai penyakit.

Maka kita semakin memahami arah sabda Nabi yang pertama kali menyatakan بعثت لأتمم مكارم الأخلاق, aku diutus untuk menyempurnakan etika yang mulia, sebelum sabda Nabi بعثت معلما, aku diutus sebagai pengajar.

Hadirin Rohimakumullah

Lebih jauh Imam Al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin menyatakan bahwa hati adalah laksana medan pertempuran utama antara kebaikan dan keburukan. Kepada hati, para malaikat membisiki kita dengan bisikan-bisikan kebaikan. Namun pada hati pula, Iblis membisiki kita dengan seabrek keburukan. Malaikat lewat bisikan hati mengajak kita kepada segala kebaikan menuju ridlo Allah. Sedang Iblis lewat bisikan hati pula mengajak kita kepada segala keburukan menuju murka Allah.

Sedemikian dahsyat peperangan yang berkecamuk antara Malaikat dan Iblis di medan pertempuran yang bernama hati, maka tidak mengherankan jika hati kita ini hampir setiap saat seperti tergoncang hebat, atau gonjang-ganjing dalam bahasa Jawa.

Hadirin Rohimakumullah

Lebih jauh, perlu dimengerti bahwa di antara makhluk Allah yang sanggup menerima kehadiran cahaya Allah Yang Maha Agung juga hanya hati. Gunung Sinai yang kokoh tinggi menjulang itupun tak mampu menerima kehadiran tajalliy Allah sebagaimana yang difirmankan dalam surah Al-A’raf 143:

فلما تجلى ربه للجبل جعله دكا وخر موسى صعقا

“Dan tatkala Tuhannya ber-tajally (atau terjemahan harfiyahnya: menampakkan diri) kepada gunung itu, dijadikannyalah gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.”

Namun hanya kepada hati, Allah berkenan menghadirkan Cahaya-Nya kepada hati-hati yang suci dan hanya dipenuhi oleh Asma Allah.

Karena itu kita bisa merasakan sendiri, bagaimana para hukama’, para waliyullah begitu sejuk tatap pandangnya dan selalu keluar dari mulut mereka perkataan-perkataan baik yang penuh hikmah dan kebijaksanaan.

Itu semua tak lain karena lisan, atau daratan sebagaimana perumpaan Abu Bakar di atas, tidaklah dihinggapi kerusakan dan lebih dari itu, hati atau lautannya begitu bersih dan suci.

Hadirin Rohimakumullah

Pada tataran lain, secara kasat mata, kita melihat bahwa lautan yang bersih berikut pantainya yang indah, pasti akan selalu mengundang minat para wisatawan untuk beramai-ramai mengunjunginya. Demikian juga para awliya’ yang berhati bersih juga pasti menjadi obyek kunjungan tetamu dan para zairin hinggapun para awliya’ itu sudah meninggal dunia secara jasad mereka. Maka hendaknya tidak boleh lupa dari ingatan kita akan kebenaran firman Allah tentang para awliya’ itu, yaitu firman:

ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله أمواتا بل أحياء عند ربهم يرزقون

“Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu telah mati. Justru mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”

Hadirin Rohimakumullah

Pada akhirnya, menjadi pertanyaan kita, bagaimana hati itu bisa bersih bagai lautan biru yang tenang lagi luas dan tidak bergejolak ombaknya?

Jawabannya ada pada paparan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang mencoba menjelaskan salah satu hadits yang berbunyi:

لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب

Secara bahasa, hadits ini singkatnya berarti: “Malaikat tidak akan sudi memasuki rumah yang ada anjingnya.” Namun Abu Bakar dengan sangat bijak berkata: “Hadits itu bisa bermakna yang lebih dalam lagi, yaitu: “Rohmat Allah tidak akan memasuki hati yang ada penyakitnya.” Masyaallah. Begitu indah paparan Abu Bakar yang mengibaratkan Malaikat sebagai Rahmat Allah, rumah sebagai hati dan anjing sebagai penyakit. Sehingga, sekali lagi kita perlu merenungi secara lebih seksama bahwa “rahmat Allah tidak akan sudi masuk ke dalam hati yang masih dihinggapi berbagai penyakit”.

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو الغفور الرحيم، وقل رب اغفر وارحم وأنت أرحم الراحمين

=== Khutbah II ===

الحمد لله المنعوت بصفات التنزيه والكمال. وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ثني الخصال. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصبحه والتابعين. عباد الله اتقوا الله فإنكم عليه تعرضون. واعلموا أن الله صلى على نبيه في كتابه المكنون وأمركم بذلك فأكثروا من الصلاة عليه تكونوا من الفائزين. اللهم صل وسلم عليه وارض عن الأربعة الخلفاء، وبقية العشرة الكرام وآل بيت نبيك المصطفى. وعن الأنصار والمهاجرين والتابعين إلى يوم الدين

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات رب العالمين. ونسألك اللهم دوام العناية والتأييد، بحضرة مولانا سلطان المسلمين المؤيد بالنصر والتمكين. اللهم انصره وانصر عساكره وامحق بسيفه رقاب الطائفة الكافرة، وأيد بسديد رأيه عصابة المؤمنين. واجعل بفضلك هذا البلد آمنا مطمئنا. وارفع اللهم مقتك وغضبك عنا. ولا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا يا أرحم الراحمين

اللهم إليك نسأل فلا تخيبنا، وإليك نلجأ فلا تطردنا، وعليك نتوكل فاجعلنا لديك من المقربين. إلهي هذا حالنا لا يخفى عليك. فعاملنا بالإحسان إذ الفضل منك وإليك. واختم لنا بخاتمة السعادة أجمعين

عباد الله  إن الله يأمركم بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي. يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكر الله أكبر