Burdah dan Rindu Al Bushiri Kepada Nabi Muhammad

0
560
[Foto: www.ward2u.com]

Oleh: KH Muhammad Nashrullah Huda
(Sekretaris LBM NU Jawa Tengah)

أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَم

Makna Mufradat
Salam artinya jenis pohon.

Dzî salam artinya tanah yang ditumbuhi pohon salam, yang dimaksud adalah daerah antara Makkah dan Madinah, dekat dengan daerah Qadid.

Jarâ artinya mengalir deras. Al Bushiri sengaja menggunakan lafadz jarâ yang berarti mengalir deras, bukan lafadz sâla yang bermakna mengalir (saja), karena beliau ingin menggambarkan tangisan yang terjadi adalah tangisan yang sangat dahsyat.

Muqlah artinya bola mata, wadah bertemunya bagian hitam dan putih pada mata. Bagian hitam saja yang berfungsi untuk melihat disebut hadaqah. Lafadz muqlah meski berbentuk mufrad namun bermakna tatsniyah, dua bola mata.

Terjemah Bebas
Apakah karena teringat tetangga di tanah Dzi Salam sana engkau deraikan air mata bercampur darah duka?

Makna Ijmaliy
Al Bushiri menulis syair ini sebagai pembuka dalam rentetan Qasidah Burdah. Syair ini syair pertama dalam beberapa syair tentang bercumbu dalam aduan cinta. Syair ini ditulis sebagai pertanyaan atas kondisi seseorang yang terbunuh oleh cinta, menderita karena asmara, sakit karena rindu.

Seolah-olah Al Bushiri bertanya: “Apa yang menyebabkanmu hingga air mata bercampur darah mengalir deras dari dua bola matamu? Apakah karena mengingat kekasihmu yang berada di tanah Dzi Salam sana? Jika itu penyebabnya maka apa yang menimpamu ini tak layak dicemooh, tak patut disalahkan, karena teringat kekasih memang membuat dada bergemuruh hingga menimbulkan kesedihan yang luar biasa. Bila menangis seolah yang keluar adalah darah, saking nyesek-nya.”

Dalam syair ini Al Bushiri menggambarkan perasaannya, rasa cinta dan rindunya kepada Baginda Nabi Muhammad Saw dan para sahabat hingga membuatnya meratap dan menangis karena cinta yang teramat dalam. Dengan menyebut daerah yang sering ditempati kekasihnya yakni tanah Dzi Salam semakin membuat perasaannya hancur berkeping-keping akibat perasaan rindu yang tiada tara.

Benar apa yang ditulis seorang penyair :

لا يعرف الشوق إلا من يكابده  #  ولا الصبابة إلا من يعانيها

“Tak ada yang bisa mengenal rasa rindu kecuali mereka yang menderita karena cinta # Tak ada yang bisa tahu luapan cinta kecuali mereka yang merasakan sendiri.”