Berkurban Meningkatkan Keimanan dan Pengabdian Kepada Bangsa dan Negara

0
1616

Oleh: Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M.Ag
(Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Tengah, Wakil Rektor II UIN Walisongo Semarang)

الله اكبر, الله اكبر, الله اكبر, الله اكبر, الله اكبر, الله اكبر, الله اكبر, الله اكبر, الله اكبر

الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا, وسبحان الله بكرة واصيلا لا اله الا الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

الحمد لله الذي جعل ايام الاعياد ضيافة لعباده الصالحين وجعل في قلوب المسلمين بهجة وسرورا. اشهد ان لا اله الا الله الذي جعل الجنة ضيافة الكبرى. واشهد ان سيدنا ومولانا محمدا عبده ورسولا لداعى الى تلك الضيافة جميع العالمين

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه وكل عبد الى طاعة الله مجاهدين, اما بعدفيا عباد الله اتقوالله  حق تقاته  ولا تموتن الا وانتم مسلمون,  قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ  قد افلح من تزكى وذكراسم ربه فصلى

Kaum Muslimin-Muslimat, Jama’ah Shalat Idul Adha Yang Berbahagia

Marilah kita menggunakan kesempatan ini untuk lebih meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT dengan merenungkan arti penting dan hikmah Idul Adha sebagaimana yang dilakukan saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci Makkah al-Mukarramah. Kemarin tanggal 9 Zulhijjah dan saat ini, ratusan juta kaum muslimin hari ini besama-sama mengumandangkan takbir, gemuruh memenuhi angkasa raya, serentak mengucapkan kalimah suci itu dengan penuh tadabbur dan keinsafan.

Jutaan jamaah haji itu berpakaian putih. Berpakaian putih ibarat berpakaian kain kafan, suatu gambaran kesiapan mereka untuk sewaktu-waktu dipanggil pulang ke rahmatullah. Warna putih yang menyelimuti  tubuh seluruh jamaah haji itu adalah simbol ekualitas, kesamaan posisi dan kedudukan, semua sama, tak ada preferensi yang memisahkan, tak ada pangkat  jabatan maupun kekayaan yang membedakan jamaah yang satu dengan yang lain. Itu dilakukan sebagai kelanjutan komitmen yang mereka ucapkan dalam lafal talbiyah.  Setiap jamaah haji hampir pada setiap kesempatan melafalkan talbiyah.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Kalau saja setiap jamaah memahami ikrar pernyataan yang tertuang dalam lafal talbiyah itu pasti sepulang di tanah air, sepanjang hayatnya akan menjadi insan dengan integritas tinggi. Jadi sosok berkarakter, penggerak pembangunan bangsanya, yang menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari segenap manusia, yang mempunyai tugas untuk membangun keselarasan, keserasian dan keseimbangan dalam kehidupan. Diapun menyadari  posisinya di hadapan Tuhan Allah SWT.  Makna talbiyah yang dilafalkan itu dapat kita bahasa Indonesiakan dengan : ”Ya Allah, Tuhanku, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, tak ada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya yang berhak mendapat pujian hanyalah Engkau, sesungguhnya semua yang kami nikmati dalam hidup ini hanyalah berasal dari pemberian-Mu, sesungguhnya kerajaan, kedudukan, jabatan dan kekuasaan hanyalah milik-Mu. Tak ada satupun yang menyekutui-Mu.” Haji yang beginilah yang disebut haji mabrur yang dijanjikan pahala surga.

اَلْحَجُّ  الْمَبْرُوْرُ  لَيْسَ لَهُ  جَزَاءٌ  إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Bagi haji mabrur tak ada lagi balasan yang pantas selain surga.”

Akan tetapi apabila pola pikir, ucapan, tutur bahasa, dan perbuatan mereka tidak mengalami perubahan menjadi lebih baik, tidak merasa bahwa dia adalah bagian dari masyarakat yang saling membutuhkan, tidak merasa bahwa dia adalah sama dengan yang lain, tidak merasa bahwa dia perlu bersama  yang lain, bersama-sama mendatangkan kesejahteraan dan kedamaian bagi semua orang, maka lewat mana Allah akan memberi predikat mabrur? Untuk kasus seperti ini perlu diingatkan dengan sebuah pertanyaan reflektif “Kembalilah kalian berhaji, karena sesungguhnya kamu belum berhaji”.

Marilah kita berdoa kepada Allah, semoga jamaah haji Indonesia menjadi haji mabrur, yang pola pikirnya, tutur bahasanya, tindak perbuatannya terjaga seperti saat tengah melaksanakan ibadah haji, sehingga doanya dikabulkan Allah, membangun hari esok yang lebih baik, menjadikan dirinya sebaik-baik manusia, yang  bermanfaat bagi hidup dan kehidupan. Sebagimana sabda Nabi:

خَيْرُ  النَّاسِ  أَنْفَعُهُمْ  لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak mendatangkan manfaat bagi orang lain”

Allahu Akbar 3x wa Lillahil Hamd
Kaum Muslimin Jama’ah Shalat Idul Adha yang Berbahagia

Idul Adha identik dengan qurban. Penyebutan al-Qur’an untuk kata qurban ini mengandung arti “upaya mendekatkan diri kepada Tuhan”. Sejatinya, berqurban memiliki cakupan makna yang luas, sehingga apa pun yang kita lakukan, baik yang bersifat material maupun non-material dapat terkategorikan sebagai implementasi qurban. Pada hari ini, 10 Zulhijjah, umat Islam bersama-sama menunaikan shalat sunnat Idul Adha. Di hari Idul Adha ini juga dan tiga hari tasyriq setelahnya, yaitu 11, 12, dan 13 Zulhijjah, umat Islam dianjurkan untuk menyembelih hewan qurban dan didistribusikan dua pertiga dagingnya kepada yang mustadh’afin.

Bukanlah takaran material dari hewan qurban tersebut yang menjadi tolok ukur, melainkan ketulusan untuk memupuk kedekatan kepada Sang Pencipta yang juga termanifestasi dalam jalinan silaturahmi yang erat antar sesama umat manusia. Begitulah hakikat dari ketakwaan yang diawali dengan niat suci dan berkorelasi konstruktif pada ranah sosial keseharian.

Sesungguhnya penyembelihan kurban yang kita laksanakan adalah simbolisasi dari penyembelihan nafsu-nafsu hayawaniyah yang ada pada diri kita. Nafsu merasa benar sendiri, nafsu ingin menang sendiri, nafsu tak mengenal halal dan haram, nafsu ingin memiliki materi sebanyak–banyaknya, nafsu serakah tak kenal puas, tanpa peduli kesulitan dan kesusahan orang lain. Nafsu-nafsu itulah yang harus kita amputasi di balik penyembelihan binatang kurban.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Tidak dapat mencapai Allah daging dan darah hewan yang disembelih, tetapi yang dapat mencapai adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas hidayah-Nya kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. aI-Hajj : 37)

Ketulusan dalam berqurban telah dicontohkan oleh Khalilullah Nabi Ibrahim As ketika diperintahkan untuk mengorbankan putra tersayangnya, Ismail As. Pelaksanaan perintah tersebut merupakan sesuatu yang sangat berat secara psikologis, tetapi perasaan itu terkalahkan oleh ketundukan dan ketulusan menjalankan perintah Allah SWT. Sikap Nabi Ibrahim As tersebut mengisyaratkan sebuah pesan penting bahwa kecintaan kepada Allah SWT mengatasi kecintaan kepada yang lain, sehingga mensyaratkan kesediaan mengorbankan sesuatu yang sangat dicintai demi menggapai cinta yang lebih tinggi, mahabbatullah.

Allahu Akbar 3x wa Lillahil Hamd
Kaum Muslimin Jama’ah Shalat Idul Adha yang Dirahmati Allah

Pelajaran dari Idul Qurban ini dapat menjadi spirit pengabdian kepada bangsa dan negara kita, Indonesia tercinta. Paling tidak, ada tiga hikmah yang tersirat dari peristiwa qurban Nabi Ibrahim As:

Pertama, tanggung jawab sebagai pondasi aktivitas. Nabi Ibrahim As mencontohkan tingginya rasa tanggung jawab itu dalam menunaikan tugasnya. Ia berupaya mengabaikan egoisme individunya dan istiqamah terhadap amanah yang diembannya. Ia gigih menjalankan perintah Allah, kendati tidak sejalan dengan harapannya. Begitulah sejatinya kita menanamkan rasa tanggung jawab dalam keseharian, sehingga berimplikasi positif terhadap bangsa dan negara. Egoisme pribadi dan kelompok harus ditepikan untuk memprioritaskan kepentingan bersama yang lebih utama. Ketika rasa tanggung jawab ini tertancap kokoh dalam sanubari dan terpatri dalam segenap dimensi keseharian, maka profesionalisme akan terbangun secara konstruktif.

Dimensi konkret dari tanggung jawab ini adalah senantiasa memberikan yang terbaik berdasarkan kapasitas dan kapabilitas masing-masing. Terbuka varian jalan dan tersedia aneka cara untuk mempersembahkan yang terbaik bagi negeri tercinta ini, sepanjang rasa tanggung jawab itu senantiasa menyertainya.

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, niscaya Allah danRasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amal kamu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. at-Taubah: 105)

Kedua, optimisme sebagai penopang kreativitas, Nabi Ibrahim As mencontohkan betapa tinggi optimismenya ketika ia beserta istri dan anaknya, Hajar dan Ismail, meninggalkan negeri Palestina yang tanahnya subur menuju Mekkah yang tandus. Sebuah pengorbanan besar karena harus merelakan buah hatinya itu tinggal di kawasan Mekkah yang masih tak berpenduduk saat itu. Peristiwa ini mengisyaratkan bahwa keberanian untuk mengambil risiko demi menghadapi tantangan merupakan salah satu cara yang harus ditempuh untuk meraih kemajuan.

Meninggalkan zona yang nyaman (comfort zone) yang dibarengi dengan optimisme akan keluasan rezeki yang Allah SWT sediakan akan memacu dalam meningkatkan prestasi. Nabi Muhammad SAW berhijrah dari Mekkah ke Madinah menjadi babak baru dalam peradaban Islam. Mekkah yang sangat dicintainya harus ia tinggalkan demi menggapai harapan yang lebih tinggi. Kita teringat ucapan beliau ketika meninggalkan tanah kelahirannya menuju Madinah:

والله انك احب ارض الله الي ولولا ان قومك أخرجوني ما خرجت

“Demi Allah, sesungguhnya engkau (wahai kota Mekkah) adalah bumi Allah yang paling aku cintai. Seandainya bukan penghunimu yang mengusirku, niscaya aku tidak akan keluar meninggalkanmu”.

Seseorang yang optimis pasti akan menjadi pribadi tangguh. Ia akan siap menghadapi kondisi baik dan buruk. Kalau kondisi baik yang diperoleh, segera ia bersyukur; tetapi jika kondisi buruk yang dijumpai, maka ia sikapi dengan bersabar. Tidak ada keluh kesah yang terlontar dari lisannya. Atas dasar itu, berkreasi dan berinovasi merupakan manifestasi dari optimisme itu. Pengabdian kepada bangsa dan negara dapat terejawantah dengan semangat optimisme itu, yaitu dengan berupaya seoptimal mungkin menghadirkan kreasi dan inovasi yang mengakomodasi tuntutan kekinian namun tetap berpijak pada lokalitas budaya sendiri yang terbilang kaya.

Ketiga adalah kemampuan bekerja sama dengan pihak lain sebagai pemelihara kreativitas. Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As mencontohkan kerja sama yang apik disaat mengutarakan maksudnya hendak mengorbankan putranya karena menjalankan perintah Allah SWT. Bak gayung bersambut, Nabi Ismail dengan lapang dada merespons dengan baik maksud ayahnya. Kendati yang disembelih ternyata seekor domba (kibasy) karena Allah SWT tidaklah menghendaki qurban dalam bentuk manusia, tetapi dalam bentuk hewan. Antara ayah dan anak tercipta relasi harmonis sehingga tercipta saling pengertian dalam menjalankan perintah Allah SWT. Nabi Ibrahim As dapat dijadikan teladan bagi seorang bapak, sedangkan Nabi Ismail As dapat dijadikan teladan bagi seorang anak.

Allahu Akbar 3x wa Lillahil Hamd
Saudara-saudara Jama’ah Sholat Idul Adha Yang Dirahmati Allah

Pengabdian untuk bangsa dan negara tidak dapat menihilkan peran kerja sama. Kebersamaan dan jalinan kekompakan untuk padu dalam keseharian juga menjadi prasyarat kesuksesan. Kita harus saling mendukung berdasarkan kapabilitas dan kapasitas masing-masing. Seorang anak harus patuh dan sayang kepada kedua orang tuanya, seorang siswa harus menghormati gurunya, seorang pegawai harus menghargai atasannya, seorang warga negara yang baik harus taat pada pemimpin, dan sebagainya. Di era kekinian, dibutuhkan kemitraan untuk dapat menggapai hasil yang maksimal. Sistem dan perangkat kehidupan menghendaki jalinan kebersamaan yang saling berinteraksi harmonis. Tentu saja, kerja sama hanya akan terejawantah dengan baik jika ditanamkan rasa saling percaya satu sama lain, yang didasari oleh prinsip amanah.

Kerelaan berkorban meniscayakan semakin terasahnya emosional kita yang bermuara pada kemampuan mengatasi masalah secara cermat. Semakin besar pengorbanan kepada bangsa, maka semakin besar pula kemajuan bangsa ini. Kita berharap, sekecil apa pun pengorbanan itu pasti berkontribusi bagi bangsa.

Semoga hikmah Idul Adha ini akan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan serta akhlak. Dengan semangat berqurban, pengabdian tiada henti untuk bangsa ini dapat kita berikan sesuai kapasitas dan kapabilitas kita.

Mengakhiri khotbah ini, marilah kita bermunajat kepada Allah SWT dengan tulus memohon ampunan atas dosa dan kesalahan kita, serta menerima segala amal kebajikan kita. Semoga Allah senantiasa menunjukan kita jalan yang lurus dan menghindarkan kita dari kesesatan.

Ya Allah Ya Rahman, Ya Rahim. Engkaulah Tuhan Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bukalah hati kami untuk menerima kebenaran yang Engkau ajarkan melalui Rasul-Mu Ya Allah.

Ya Allah Ya Qowiyyu, Ya ‘Aziz, Engkaulah Tuhan Maha Perkasa dan Maha Mulia. Berilah kami kekuatan lahir dan batin untuk melaksanakan tugas-tugas yang berat untuk membangun umat, bangsa dan negara kami.

Ya Allah, Ya ‘Alim, Ya Hakim, Engkaulah Tuhan Yang Maha Tahu lagi Maha Bijaksana. Berilah kami ilmu yang bermanfaat, kehidupan yang sejahtera, aman, damai, disertai ridha-Mu, Ya Allah.

Ya Allah, berilah kemampuan kepada kami untuk senantiasa memberi yang terbaik buat bangsa dan negara tercinta ini. Ya Allah, jadikanlah Idul Adha ini sebagai titik tolak semangat berqurban kami dan semangat pengabdian kami kepada negara ini. Ya Allah, limpahkanlah kedamaian dan ketenteraman bagi bangsa ini. Berkahkanlah rezeki yang Engkau senantiasa limpahkan kepada kami.

بارك الله لي ولكم في القران العظيم ونفعني واياكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هو الغفور الرحيم

*Khutbah ini akan disampaikan pada Hari Raya Idul Adha 1438 H/2017 M di Akademi Militer Magelang, Jawa Tengah.