Bagi Pesilat Pagar Nusa, NKRI adalah Harga Mati

0
1940
Ketua Dewan Pendekar Abah Hendro Syufaat bersama Ketua PSNU Pagar Nusa Kota Semarang Lukman Muhajir. Foto: Istimewa

Semarang, nujateng.com– Organisasi badan otonom Nahlatul Ulama yang membidangi Pencak Silat, Pagar Nusa, menyatakan siap menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari radikalisme maupun terorisme. Bagi pesilat Pagar Nusa, NKRI adalah harga mati, dan Pancasila harus tetap jaya. Sedikitpun tidak boleh ada gerakan radikal dibiarkan hidup sehingga merusak negeri yang telah diperjuangkan kemerdekaannya oleh para pahlawan bangsa ini.

Pandangan sikap tersebut disampaikan ketua Pimpinan Cabang Pencak Silat NU (PSNU) Pagar Nusa Kota Semarang, Lukman Muhajir  dalam gladi resik Pelantikan, Rapat Kerja Pengurus dan Pelatihan Pencak Silat untuk Pelatih, di Gedung Balaikota Semarang, Sabtu, (5/8/2017) kemarin.

Lukman mengajak semua pesilat untuk membela tanah air dan menjaga negara dari rongrongan kaum radikal yang anti demokrasi, anti Pancasila dan suka menebar teror kepada pemerintah maupun rakyat.

“Semua pesilat, termasuk pesilat Pagar Nusa, sudah pasti dilatih secara disiplin dan dididik berjiwa kesatria. Menjunjung tingi kehormatan dan pantang melakukan tindakan tercela. Tentu sangat tepat untuk menjaga negeri kita dari kaum radikalis dan teroris yang tidak memiliki semua sifat dan sikap itu,” tandasnya.

Menurut Lukman, pengaruh radikalisme sudah sangat jelas merusak jiwa masyarakat. Orang-orang yang mengaku beragama dan sok suci, sudah sedemikian kejinya sehingga suka memfitnah dan menuduh tanpa bukti. Lalu menyakiti, menganiaya bahkan membunuh dengan cara sangat sadis tanpa belas kasihan sedikitpun.

Contoh yang paling nyata dan terbaru adalah peristiwa jamaah masjid di Bekasi yang menuduh seorang tukang servis elektronik yang mampir sholat sebagai pencuri amplifier masjid. Lalu si pria malang itu dikejar, dianiaya dan dibakar sampai mati usai ia beribadah.

“Itu bukti nyata radikalisme telah merusak nilai-nilai budaya kita. Orang Indonesia yang katanya religius, begitu keji membakar orang yang dituduh maling. Itu kalau bukan karena pengaruh ajaran. (Abdus Salam/003)