Aksi Tolak “Full Day School”, NU Tegal Akan Kerahkan 20 Ribu Massa

0
1500

Semarang, nujateng.com- Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tegal beserta lembaga dan Banomnya akan mengerahkan 20 ribu massa untuk melakukan aksi damai menolak Permendikbud No 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah.

Aksi damai yang akan diselenggarakan pada Jumat 25 Agustus 2017 mulai pukul 13.00 WIB itu agendanya long march dari gedung NU Kabupaten Tegal menuju Taman Rakyat Slawi (Trasa), lalu dilanjutkan orasi dan istighatsah.

Menurut Ketua Aksi Damai Tolak Lima Hari Sekolah, H Nur Kholis, aksi yang melibatkan banyak massa itu sudah dimusyawarahkan dengan Polres Kabupaten Tegal. “Meski aksinya orang-orang NU itu damai, aman, tertib, dan tidak meninggalkan sampah, tapi kami tetap berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Terutama mengantisipasi ada oknum-oknum tertentu yang hendak melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan. Insyaallah akan berjalan lancar,” katanya kepada nujateng.com, Minggu (20/8/17).

Sebagian Kecil

Koordinator Lapangan (Koorlap) Aksi Damai Tolak Lima Hari Sekolah, Zaki Mubarok, menjelaskan bahwa pengerahan massa yang berjumlah 20 ribu di Kabupaten Tegal bukan pekerjaan yang sulit. Pasalnya, penduduk kabupaten yang dipimpin oleh Bupati Enthus Susmono itu rata-rata tidak setuju dengan diberlakukannya sekolah lima hari.

“Aksi ini selain menindaklanjuti intruksi dari PWNU Jawa Tengah dan PBNU, juga atas desakan dari masyarakat. Semuanya merasa dirugikan dengan Permendikbud tentang lima hari sekolah. Bagaimana tidak, Permendikbud itu mengancam madrasah diniyah. Banyak orangtua khawatir anaknya tidak lagi bisa belajar mengaji gara-gara sekolah pulangnya sore,” papar Zaki yang juga pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Bakti Negara (STAIBN) Tegal.

Zaki sendiri menilai, masyarakat di Kabupaten Tegal sebenarnya tidak butuh dikoordinir untuk mengikuti aksi ini, karena kekompakan warga NU dan masyarakat secara umum yang peduli terhadap madrasah diniyah dan TPQ masih sangat terjaga.

“Kabupaten Tegal itu kota santri, basis NU di Jawa Tengah. Rata-rata NU, banyak yang peduli terhadap masa depan agama dan intelektual anak-anaknya, jadi semuanya sudah tergerak ingin menyampaikan aspirasi melalui aksi ini. Jadi 20 ribu itu bagi warga Kabupaten Tegal baru sebagian kecil. Masyarakat di sini sangat kompak,” katanya.

Di Kabupaten Tegal sendiri beberapa waktu yang lalu menjadi tempat deklarasi penolakan lima hari sekolah yang dilakukan alim ulama se-Jawa Tengah. Dalam deklarasi yang dihadiri Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh, Bupati Kabupaten Tegal Enthus Susmono menyampaikan bahwa ia bagian dari kepala daerah yang pertama kali dan paling keras dalam menolak Permendikbud No 23 Tahun 2017. [AR/002]