Akibat “Full Day School” Anak Terlantar di Jalan

0
1228
Diskusi: Ketua PCNU Kabupaten Tegal, H Akhmad Wasari, menyampaikan materi pada diskusi publik ’menolak FDS’ yang diselenggarakan PC PMII Tegal, di Tugu Monumen GBN Slawi, Senin (14/8/17). Foto: Istimewa

Slawi, nujateng.com – Banyak kalangan menilai, sekolah yang menerapkan sistem full day school akan menelantarkan siswanya di jalan hingga sore hari. Akibat sekolah hingga jam 4 sore, akan banyak siswa yang “kleleran” karena kurangnya moda transportasi.

“Ada hal-hal yang perlu kita ketahui bersama yang merupakan dampak dari FDS. Seperti belum tersedianya transportasi. Sehingga banyak anak terlantar di jalan ketika sore hari,” tegas Ketua PCNU Kabupaten Tegal, H Akhmad Wasari, pada diskusi publik ’menolak FDS’ yang diselenggarakan PC PMII Tegal, di Tugu Monumen GBN Slawi, Senin (14/8/17) sore.

Hadir dalam diskusi publik ini, Ketua RMI NU Kabupaten Tegal KH Syamsul Maarif, serta kader PMII dan simpatisan. Selain soal problem transportasi, masalah juga pada fasilitas umum lainnya. Seperti warung makan, musholla atau masjid, serta uang jajan.

“Ketika waktunya pulang, tapi belum tersedianya kantin sekolah yang memadai, pastinya anak didik banyak yang makan diluar sekolah yang menyebabkan terganggunya waktu belajar atau bahkan tidak makan,” tambahnya.

Merusak Tatanan Madin

Dalam sambutannya, Ketua PC PMII Kabupaten Tegal, M. Iqbal Fadil menyampaikan FDS sangat berpotensi merusak tatanan Madrasah Diniyah (Madin). Padahal, Madin sudah berjalan di Indonesia selama puluhan tahun.

“Keberadaan Madin sangat penting sebagai tempat menempa akhlak dan moral. Sehingga kita sebagai Kader PMII harus menjadi garda terdepan untuk menolak kebijakan FDS demi kemaslahatan,” katanya.

Di Kabupaten Tegal ada sekitar 750 Madrasah Diniyah dan 91 Pondok Pesantren yang juga didalamnya menaungi Madin. Sehingga dengan adanya FDS akan sangat berpotensi menyebabkan hancurnya Madin.

“Oleh karena itu RMI NU Kabupaten Tegal dengan tegas menolak FDS,” tegas Ketua RMI NU Kabupaten Tegal, Kyai Syamsul Maarif yang pada kesempatan itu turut hadir.

Dampak lain juga terlihat dari kondisi fisik anak didik yang sudah terforsir sehingga ketika malam menjadi malas belajar. Selain itu, FDS akan sangat berdampak pada lemahnya interaksi sosial anak didik, terhadap lingkungan dirumah menyebabkan munculnya sikap apatis dan materialistis.

“Dengan adanya FDS tentu akan muncul biaya tambahan untuk anak didik disekolah, yang tentunya akan melahirkan masalah baru bagi orang tua. Hal yang paling penting yang merupakan dampak adanya FDS adalah akan menyebabkan anak didik keluar dari Madrasah Diniyah, sehingga FDS harus segera kita sikapi dengan penolakan,” tandasnya.[Ceprudin/005]