Untuk Pintar, Santri Cukup Sangu Gorengan

0
360
Budayawan Semarang, Prie GS (pegang mic) saat menjadi tuan ruma halal bi halal bersama beberapa komunitas beberapa waktu lalu. Foto: Ceprudin.

Semarang, nujateng.com- Santri adalah sebutan bagi para pencari ilmu di pondok pesantren. Santri terkenal dengan kesopanan, ketawadlu’an dan kesederhanaannya dikala menuntut ilmu. Para santri tetap semangat menuntut ilmu dan tak pernah mengeluhkan keterbatasan materi.

Keluhuran budi santri inilah yang memikat Budayawan Semarang, Prie GS. Mas Prie, sapaan akrabnya, amat tertarik dengan iklim pesantren. Karenanya, beberapa program acaranya dengan stasiun televisi mengundang santri-santri sebagai tamu undangan.

“Waktu itu saya mengundang santri yang membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) tertawa terpingkal-pingkal. Ceritanya ada santri Gus Yusuf di Magelang yang disuruh menyebutkan nama tiga menteri oleh Presiden. Jawabannya, satu Prabowo, dua Ahok, tiga, Megawati,” tutur Prie GS, dalam acara halal bi halal di kediamannya beberapa waktu lalu.

Ya, cerita ini beredar luas di internet. Di Youtube, video yang merekam saat santri asal Pekalongan ini ditanya presiden nama-nama menteri sudah ditonton jutaan orang. Karena isinya yang menarik dan mengundang gelak tawa.

“Memang santri itu sangat polos. Ketika ditanya oleh saya, apa yang kamu rasakan ketika bicara dengan Presiden, dia jawab, ya biasa saja. Ketika saya tanya apa yang membuat kamu dredeg (grogi), jawabnya, ya hanya ingin sepedanya saja,” jawa si anak dengan polosnya.

Semua Doa Dibaca

Usut punya usut, santri yang diajak dialog dengan presiden sudah sangat lama menginginkan sepeda ontel. Bukan untuk dirinya, namun untuk orang tuanya. Mendengar kabar dari pengurus pesantren akan ada presiden datang dan membagikan sepeda, ia akhirnya berdoa sekuat tenaga untuk mendapatkannya.

“Akhirnya betul, santri ini berdoa setiap waktu dan bacaan yang dia bisa, dia bacakan untuk doa. Dan hebatnya, dari ribuan santri ini, dia yan dipilih untuk maju berdialog dengan presiden. Hebatnya lagi, begitu dapat sepeda, tidak dia pakai sama sekali, tapi langsung dikirimkan ke orang tuanya ke Pekalongan,” tambah Prie GS.

Dibalik cerita itu, ada keprihatinan dan ketabahan pada santri. Hampir merata, anak-anak yang menempuh pendidikan di pondok pesantren dari kalangan ekonomi terbatas. Namun mereka selalu bersemangat dalam menimba ilmu agama dan bersekolah di madrasah.

“Si santri ini, sudah sangat lama memimpikan sepeda karena kasihan dengan orang tuanya ketika ke sawah jalan kaki. Karena itu ia ingin belikan sepeda. Nah, ketika ditanya kamu ongkosnya berapa, dia jawab yang sedikit, kadang cukup dan kadang tidak.

Ketika saya tanya, ketika tidak cukup karena apa, dia jawab, karena banyak hafalan. Saya kalau menghafal harus sambil makan gorengan,” jawab sang santri, seperti diceritakan Prie Gs. Jadi, untuk pintar santri itu tak perlu biaya tinggi, tapi cukup dengan gorengan, santri semangat menghafal. [Ceprudin/004]