Suka Duka Dakwah Mbah Raoyan Menggoro Tembarak

0
439

Oleh: Slamet Ja’far
(Pengurus Radio NU Temanggung) 

Membaur dengan budaya dan tradisi. Itulah cara elegan para walisongo mendakwahkan Islam di Indonesia, tak terkecuali di tanah Jawa. Banyak tradisi-tradisi yang sengaja dimodifikasi para sesepuh para walisongo beserta para pewaris perjuangannya. Tradisi nyadran misalnya. Tradisi ini merupakan tradisi berkumpul membawa sesaji di bawah pohon yang besar di suatu desa tertentu. Lambat laun tradisi ini tetap dilestarikan namun bergeser dari sisi esensi tradisi sebelumnya. Dari segi tempat yang tadinya di bawah pohon besar dipindah ke serambi masjid. Kemudian dari sesaji diubah menjadi sedekah bagi sesama warga. Kemudian dari isi acara yang diisi dengan siraman rohani berserta bacaan tahlin dan dzikir lainnya. Itulah sekelumit contoh para wali dan penerusnya mengkodifikasikan islam yang mengakomodir budaya tanpa memberangusnya. Selain itu sebutlah ‘selapanan’. Sistem kalender Jawa memakai dua siklus hari: siklus mingguan yang terdiri dari tujuh hari (Ahad sampai Sabtu) dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari lima hari pasaran (Pon sampai Pahing). Penggunaan hari siklus mingguan dan pekan pancawara kini cukup lazim di tengah masyarakat. Penggunaan dua model hari tersebut cukup masyhur di Jawa. Hingga menjadi acuan banyak kegiatan-kegiatan paruh 35 harian, yang sering kita dengan dengan istilah selapanan.Yakni, setiap hari tertentu dipastikan akan muncul setiap 35 hari ke depan. Kita misalkan hari jum’at kliwon, pasti akan jatuh kembali pasca 34 hari berikutnya.

Berkaitan dengan selapanan. Akhir-akhir ini cukup mafhum menjadi istilah yang cukup latah di tengah masyarakat kita (utamanya kukuban Temanggung dan sekitarnya). Istilah tersebut nyaris mengalamai bermakna lebih spesifik. Yang tadinya bermakna luas, berarti dari satu hari yang muncul setiap 35 hari berikutnya (senin pon dan sebagainya) menjadi sebuah hari yang diisi dengan pengajian di serambi masjid setiap 35 hari satu kali. Terkesan jauh memang pemaknaan ini, namun inilah fakta di daerah Temanggung dan sekitarnya. Bila masyarakat menyebutkan kata ‘selapanan’ kebanyakan mengartikan pengajian per 35 hari di serambi masjid di desa tertentu. Seperti di desa penulis, dulu pengajian selapanan diisi oleh Simbah Kiai Raoyan (Menggoro), Simbah Kiai Kosim (Greges) dan Simbah KH Zaenuddin (Brongkol) kisaran tahun 90-an. Dan berjalan hingga saat ini berganti generasi yang ke-3 pasca beliau wafat. Dalam tulisan ini akan penulis titik beratkan kepada Simbah Kiai Raoyan sebagai Kiai Pengasuh pengajian selapanan yang tidak hanya digelar di desa penulis saja.

Menurut data yang tertera pada KTP Mbah Yan (sebutan Simbah Kiai Raoyan) beliau lahir tahun 1934. Adapun yang tertera pada Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama, beliau terlahir tanggal 31 Desember 1934. Beliau merupakan putera pertama dari 5 bersaudara dari Simbah Kiai Asmu’i. Mbah Wawi, Mak Nduk (Pager Gunung Grabag Magelang), Pak Lukman dan Mbah Sidah merupakan ke-4 saudara beliau.  Beliau seangkatan dengan Al Maghfurllah Simbah Kiai Nasukha Utsman, Simbah KH.Cholil Asy’ari Bolong Selopampang (teman mondok di Payaman Magelang yang diasuh oleh Simbah Kiai Siradj Payaman), dan Simbah Ismail (Sempu Secang) beliau putra dari KH Ali1 Secang Magelang.

Tempat Mondok Mbah Yan

Mbah Yan pernah nyantri di Tegalrejo Magelang dibawah asuhan Simbah Kiai Chudlori. Beliau merupakan santri angkatan pertama di API Tegalrejo. Almaghfrullah simbah KH Abdurrahman Chudlori –Pengasuh API Tegalrejo setelah Mbah Chudlori– merupakan momongan beliau semasa kecilnya. Selain disana beliau juga pernah nyantri di Kerten Secang Magelang (asuhan Simbah Kiai Nasroddin), nyantri di Pondok Pirikan Secang, di Pondok Tretek Kediri (asuhan Kiai Juweni), Dremo Kediri, dan juga mondok di Pondok Payaman Magelang (asuhan Simbah Siradj / Romo Agung). Dan beliau berbaiat thoriqoh Sadziliyah kepada Simbah Dalhar Watucongol Muntilan Magelang.

Macam-macam Karomah Mbah Yan

Selamat Dari Kepungan Begal

Ketika perjalanan menuju pesantren, beliau melewati sebuah hutan yang kebetulan 5 begal hendak menghadang. Beliau mencari akal untuk selamat dari hadangan kelima begal tersebut. Beliau melepaskan bajunya, uang dimasukkan kedalam buntalan baju tersebut, dan berlagak seperti orang gila.

“Wah, jebul wong edan! Dijarke wae” kata salah satu begal. (Ternyata orang gila, sudah dibiarkan saja lewat)

Akhirnya kawanan begal tidak menghiraukan lewatnya Raoyan kecil di dalam hutan tersebut. Selamatlah Pak Raoyan dari kubangan begal tersebut.

Melewati Banjir Tanpa Basah

Suatu ketika Bapak Raoyan hendak menuju suatu tempat, yang harus melewati sebuah sungai padahal sungai tersebut sedang dilanda banjir besar.

“Pak, panjenegan lewat mana?” tanya salah satu orang yang kebetulan juga baru saja melewati sungai tersebut.

“Saya lewat sungai tadi!” jawab Bapak Raoyan.

“Apa iya? Kan sekarang baru ada arus yang besar di sungai tadi (baca.banjir).

“Tidak itu, kenyataanya saya bisa lewat sampai disini!” jawab Bapak Raoyan.

Semua orang keheranan.

Membantu Memperlancar Persalinan

Pernah juga, suatu hari beliau makan di sebuah warung meskipun dengan uang saku yang sangat mepet beliau memberanikan diri makan di warung tersebut. Beliau makan seadanya dan memesan cabe untuk dimakan, cukup banyak beliau memakan cabe hingga para pengunjung warung banyak yang keheranan melihat pemandangan yang ganjil itu.

“Wah, ini pasti bukan orang sembarangan, pasti orang sakti” Gumam salah satu pengunjung warung.

Kebetulan dari salah satu pengunjung warung tersebut ada yang memiliki seorang isteri yang hendak melahirkan, namun hampir satu hari penuh bayi tak kunjung keluar.

“Pak, isteri saya mau melahirkan, tapi sampai seharian ini kok belum juga lahir, bolehkan saya meminta do’a untuk itu?” tanya salah satu pengunjung warung.

“Boleh, carikan saya air putih!” perintah Pak Raoyan.

“Baik pak!”

Tak lama kemudian air putih didapat dan langsung diberikan kepada Pak Raoyan.

“Bismillahhirrohmanirrochim” Dengan basmalah tersebut Pak Raoyan menyuwuk air putih tersebut. “Air ini dibawa pulang untuk diberikan kepada isteri sampeyan!” perintah Pak Royan kepada peminta do’a.

“Baik Pak”

Singkat cerita air putih dibawa pulang dan diminum isteri peminta do’a tadi. Tak lama bayi keluar dengan mudahnya. Setelah lahir Pak Raoyan dijemput oleh eminta do’a tadi untuk dipersilahkan mampir kerumah dan dijamu dengan makanan yang beraneka ragam.

Berjalan Cepat (Ilmu Melipat Bumi)

Pernah juga ketika Simbah Kiai Raoyan sowan kepada Kiai Hamid Pasuruan Jawa Timur. Ketika itu yang ‘diderekke’ Putra beliau (Gus Kafi) dan Bapak Khadis Koripan. Waktu itu malam sudah menunjukkan pukul 3. Simbah Kiai Raoyan berniat izin pamit kepada Kiai Hamid Pasuruan.

“Nderek bade pamit Yai!”, kata Simbah Kiai Raoyan. (Saya mohon pamit Kiai!)

“Mangkih riyin Kiai, ampun keseso!”, timpali Kiai Hamid. (Nanti dulu Kiai jangan tergesa-gesa)

“Lha meniko dalem kedah ngimami wonten masjid niku Yi!”, desak Simbah Kiai Raoyan. (Saya harus ngimami sholat subuh di masjid Yai)

“Pun njenengan maos niki Kiai!”, sambung Kiai Hamid memberikan ijazah do’a dengan membaca ‘Ya Hailushi’2 selama perjalanan, ijazah tersebut diterima dan diamalkan oleh Simbah Kiai Raoyan. (Sudah nanti baca do’a ini Kiai)

Beliau bertiga akhirnya pamit dari rumah Kiai Hamid Pasuruan. Setelah itu Simbah Kiai Raoyan berujar kepada Gus Kafi dan Bapak Khadis Koripan.

“Kowe cekelan aku, ojo mlingak-mlinguk ndelok’e mburi”, pesan Simbah Kiai Raoyan. (Kamu pegangan jangan menoleh ke belakang)

Selama perjalanan di dalam bus, seakan di belakang berjelal ramai sekali. Penderek Simbah Kiai Raoyan tidak berani menoleh kebelakang seperti pesan Simbah Kiai Raoyan. Akhirnya tiba beliau bertiga di jogja, setelah itu berjalan seperti diatas trotoar. Menyusuri itu Bapak Khadis Koripan tiba-tiba menoleh, yang akhirnya tertinggal di jogja. Adzan subuh persis Simbah Kiai Raoyan dan Gus Kafi sampai di jalan masuk desa Menggoro.

Dari cerita tersebut Simbah Kiai Raoyan mampu berjalan kilat dari Pasuruan pukul 3 pagi sampai Menggoro Tembarak menjelang subuh.

Ketika berziarah ke makam tanggung tlogomulyo, malam itu Pak Raoyan mengaja Bu Ning (Isterinya).

Mbah Raoyan berpesan :”Mengko sak durunge pitung jangkahan ojo nglingak-nglinguk” (Sebelum tujuh langkah, jangan menoleh ke belakang) perintah Simbah Raoyan kepada isterinya.

“O gih!” jawab Bu Ning.

Perjalanan tersebut ditempuh melewati beberapa desa. Selama perjalanan tak ada satupun orang yang menyapa seperti biasanya, padahal beliau berdua juga berpapasan dengan banyak orang selama perjalanan.

Satu minggu berikutnya beliau bedua kembali berziarah ke makam tanggung lagi, seperti satu minggu sebelumnya Simbah Raoyan juga berpesan. :”Mengko sak durunge pitung jangkahan ojo nglingak-nglinguk” (Sebelum tujuh langkah, jangan menoleh ke belakang) perintah Simbah Raoyan kepada isterinya.

“O gih!” jawab Bu Ning.

Perjalanan tersebut ditempuh lama sekali, yang akhirnya menimbulkan rasa penasaran Simbah Raoyan.

“Opo mau sampeyan mlinguk? Tanya Simbah Raoyan. (Apa kamu menengok ke belakang?)

“Enggih pak! Kulo panci penasaran, ngih kulo saestu nyuwun pengapunten, monggo kulo nderek mawon menawi bade dipun dukani!” jawab Bu Ning dengan jujur. (Iya pak, saya memang menegok ke belakang karena saya penasaran, saya minta maaf, silahkan kalau saya mau dimarahai karena saya memang salah)

Lantaran itu perjalanan ditempuh hingga berjam-jam, tidak seperti seminggu sebelumnya.

Suatu hari ada tamu yang bermaksud sowan kepada Simbah Raoyan. Bu Ning dan Mbah Raoyan berpapasan, Bu Ning mengambil sandal dari luar dan Simbah Raoyan mengambil sandal dari dalam, beliau hendak keluar rumah dan berpapasan di dalam rumah beliau, selang kisaran 1 menit berikutnya ada suara ketukan pintu dan salam dari tamu tersebut. “Assalamu’alaikum” ucap tamu beruluk salam.

“Wa’alikum salam” jawab Bu Ning yang ada di dalam rumah.

“Simbah Raoyan wonten bu?” Tanya sang tamu. (Simbah Raoyan ada Bu?)

“Lha, nembe niki mawon mendet sandal, dereng wonten 1 menit niki, bopo boten papsan?” jawab Bu Ning. (Barusan ini di rumah ngambil sandal, belum ada 1 menit, apa tidak ketemu berpapasan?)

“Boten Bu”, jawab tamu. (Tidak Bu)

Bu Ning bertanya kepada para santri dan tak ada yang tahu keberadaan Simbah Raoyan, setelah dicari akhirnya ketemu di sebuah warung pasar Gondang yang berjarak hampir 1 KM, di warung tersebut beliau sudah menghabiskan 1 piring nasi, padalah belum ada 1 menit meninggalkan rumah.

Pernah ketika malam, Simbah Raoyan sedang mengisi pengajian selapanan. Simbah Raoyan pulang.

“E, Mbah Yan kok wis kundur, kok cepet temen, tindak’an raono sing nderekke.” Gumam Bu Ning keheranan. (E, Mbah Yan kok sudah pulang, kok cepat sekali, berjalan tidak ada yang megantar) Bu Ning tidak menanyakan alasan mengapa Simbah Raoyan pulang lebih cepat.

Selang tengah malam Simbah Raoyan pulang dari pengajian selapanan, lantas Bu Ning menanyakan alasan kepulangan lebih awal tadi.

“Lha, pak kok wau kundur gasik keng nopo? Nopo wonten ingkang ketilar?”, tanya Bu Ning. (Lha, kok tadi pulang lebih awal kenapa? Apa yang barang yang tertinggal?)

“Bali? aku ora bali?” jawab Simbah Raoyan. (Pulang? saya tadi tidak pulang?)

“Ha njur sinten sing kundur wau niko?”, jawab Bu Ning penasaran. (Ha, lantas siapa tadi yang pulang itu?)

Diberi Bantuan Mbah Nyai Brintik

Ketika suatu malam Simbah Raoyan membaca al Qur’an, ada seorang tamu mengetuk pintu. Tamu tersebut datang membawa uang Rp 25.000,- untuk memperbaiki pesantren yang sudah hampir rusak, tamu tersebut ialah Simbah Nyai Brintik seorang Wali yang dimakamkan di makam Jogopati Tembarak, beliau merupakan salah satu santri dari Sunan Kalijogo.

“Assalamu’alaikum ..”.

“Wa’alaikumsalam ..”.

“Monggo pinarak ..”.

“Meniko kulo aturi arto Rp 25.000,- kagem modal pondok, kulo Nyai Brintik”.

Mengisi Pengajian Selapanan Dengan Berjalan Kaki

Setiap jadwal pengajian selapanan Mbah Yan selalu mengajak Mbah Hayen. Setiap jam 11 siang beliau datang untuk menghampiri Mbah Hayen. Kadang kala Mbah Hayen masih di sawah dan beliau menunggu dengan sabar. Adakalanya putra Mbah Yan (Gus Kafi) sering ikut ‘klayu’ dan akhirnya ditinggal dirumah Mbah Hayen, lambat laun karena kebiasaan itu hingga kini silaturahim tetap dilestarikan seperti saudara sendiri. Lumayan banyak pengajian selapanan yang diasuh Mbah Raoyan diantaranya dusun Ngaglik, Krajan, Dukuh Mudal, Jurang Jero, Ngawen, Jokopati, Keron, Klumpit, Tengon, Jragan, Sembir, Botoputih, Bendan dan beberapa tempat yang belum terdeteksi oleh penulis.

Dalam berbagai hal, Simbah Raoyan menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, tanpa kendaraan ataupun hewan tunggangan. Baik itu menuju ziarah maupun mengisi pengajian selapanan. Entah siang maupun malam.Setiap jalan beliau telusuri demi dakwah menyebarkan islam kepada masyarakat, dan biasanya beliau lebih memilih jalan terabas (bukan jalan utama). Entah memang zaman yang belum mengfasilitasi kendaraan ataukah itu sengaja beliau lakukan dalam rangka tirakat atau alasan lain, kami belum menemukan alasan tersebut secara pasti. Dari kebiasan jalan kaki tersebut Alloh mengaruniai beberapa karomah yang dilekatkan pada pribadi Simbah Kiai Raoyan. Suatu hari selepas mengisi pengajian selapanan di dusun Sembir. Hari sudah larut dan diselingi hujan lebat, malam itu juga Mbah Yan yang ditemani Mbah Hayen pulang berjalan kaki melewati 6 dusun, dusun Sembir-Kuncen-Tagung-Malangan-Singang-Ndalem-Jlamprang-Menggoro, sesampainya di dusun Tagung Botoputih terdapat sungai yang harus dilewati beliau berdua. Banjir besarpun tak terelakkan memenuhi badan sungai.

“Pak Yan, teng lepen tagung mesti mawon banjir wong ket wau jawoh boten kendel”, kata Mbah Hayen. (Pak Yan, di sungai tagung pasti saja banjir karena dari tadi hujan belum selesai)

“Wis meneng wae kang hayen, teko mengko melu aku”. Sahut Mbah Yan menjawab kata Mbah Hayen. (Sudah kamu diam saja, nanti tinggal ikut saya)

Benar perkiraan Mbah Hayen, sungai tagung penuh dengan air banjir yang mustahil di lewati dengan jalan kaki.

“Niko Pak Yan banjire!”, kata Mbah Hayen sambil merinding. (Itu Pak Yan benar-benar banjir)

“Wis meneng wae!”, lagi-lagi Mbah Yan menimpali Mbah Hayen. (Sudah kamu diam saja!)

Selesai menjawab pertanyaan Mbah Hayen, tiba-tiba mata Mbah Hayen takjub bukan kepalang, dalam satu kedipan mata beliau berdua sudah sampai di dusun Malangan (sebelah selatan dusun Tagung) melewati banjir di sungai tagung tanpa basah sedikitpun.

“Kae Kang Hayen nek ndelok banjir!”, kata Mbah Yan sebagai penanda bahwa beliau berdua telah melewati sungai tagung. (Itu Kang Hayen kalau mau lihat banjir!)

Tak hanya berziarah dan mengisi pengajian saja Beliau lakukan dengan jalan kaki. Rupanya Simbah Kiai Raoyan juga berjalan kaki untuk mengikuti pengajian bersama Mbah Mangli (KH.Hasan Asy’ari Mangli Ngablak Magelang). Hal ini beliau lakukan bersama dengan Mbah Hayen selama 6,5 tahun. 1,5 tahun beliau berdua berjalan dan 4 tahun ditempuh dengan sepeda onthel. Bahkan menghabiskan 4 sepeda onthel ketika itu bersama Mbah Hayen.

Gemar berziarah kubur ke makam Auliya’

Mbah Yan merupakan sosok Kiai yang sangat gemar berziarah ke makam wali. Diantara ziarah yang beliau wiridkan ialah ke Ke makam Mbah Nyai Brintik di Jokopati Tembarak dan Makam Wali Tanggung Tlogomulyo. Beliau itu lakukan tiap hari senin, baik siang ataupun malam hari. Karena menurut beliau para wali setiap hari jum’at semua wali berangkat ke Makkah.

Mendidik Santri

Selain berdakwah dengan media pengajian selapanan, Mbah Yan juga mendidik beberapa santri di Pondok Pesantrennya. Beliau mendirikan Pondok sebelah Masjid Jami’ Menggoro. Dalam mendidik santrinya Mbah Raoyan tidak hanya memberikan pengajian kitab kuning saja, beliau juga mendidik santri dengan jalan ‘tirakat’. Pernah keenam santrinya disuruh untuk puasa mutih selama 7 hari, berbuka dengan waluh dan hanya makam ketela pohon. Malamnya berziarah dan mujahadah di makam wali jokopati adapun ketika pagi pulang ke rumah Mbah Hayen Ndalem. Keeman santri beliau itu adalah Bapak Usup Kandangan, Bapak Khoiri Kediri (alm),  Bapak Fathoni Klumpit, Bapak Umar Kasihan, Bapak Baidhowi Gambasan, dan Bapak Tamzis Greges. Selain itu pernah juga beberapa orang yang pernah nyantri kepada beliau yakni Bapak Ansori Menggoro (Lurah Pondok), Bapak Imron (Menantu), Bapak Khayen (Ngenden), Bapak Aspar (Menggoro) serta yang lainnya.

Mbah Yan Kapundut

Ketika itu bulan Syawwal. Simbah Raoyan berpuasa sunnah 6 hari setelah iedul fitri. Salah satu makanan pembuka favorit beliau adalah kolak tape. Karena masih dalam suasana lebaran tentu saja masih jarang orang berjualan tape di pasar Gondang Tembarak. Saking butuhnya beliau nekat mencari tape di pasar Selopampang –karena pasar Selopampang lebih besar daripada pasar Gondang—berharap ada di pasar tersebut. Naas, sesampai beliau masuk ke kampung (Menggoro) beliau terjatuh setelah turun dari angkot. Beberapa warga membawa beliau ke rumah. Selepas itu beliau jatuh sakit selama 10-an hari. Hari demi hari hingga 7 hari kemudian sakit semakin parah. Hampir 3 harinan beliau enggan untuk makan dan minum. Innalillahi wa innailaihi rooji’uun. Tepat 14 Syawwal beliau meninggalkan keluarga dan santrinya, beliau dipanggil kedapa Alloh swt. Bertepatan 14 Syawwal tersebut hingga kini dilestarikan sebagai Haul tahunan untuk beliau.Semasa hidupnya beliau pengamaln sholawat Nabi, makan tak heran setiap peminta ijazah pasti diberikan ijazah bacaan Sholawat Nabi31000 X setiap harinya. Beliau meninggalkan 1 isteri dan 7 anak.

 

 

Foot note :

  1. Simbah KH Ismail (Sempu Secang) beliau putra dari KH Ali Secang Magelang yang memiliki silsilah Thoriqoh Qadiriyyah wa Naqsyabndiyyah jalur dari simbah KH Shiddiq Zarkasyi Berjan Purworejo. (Mengenal KH Nawawi Berjan Purworejo Khalista Surabaya hal.170).
  2. Bahasa Ibrani.
  3. Ijazah tersebut bacaan sholawat dengan lafadz : “Allohumma Sholli ‘ala Muhammad” 1000 x setiap hari tidak harus satu majelis.

Sumber :

  1. Wawancara dengan Simbah Hayen Imam Masjid Ndalem Jokopati Tawangsari Tembarak, Pada 4 Desember 2016 di kediaman beliau.
  2. Wawancara dengan Bu Ning. Beliau isteri ke-dua Mbah Yan yang tinggal di sebelah barat rumah Mbah Yan di Menggoro Tembarak. Pada 27 Desember 2016 di kediaman beliau.
  3. https://id.wikipedia.org/w/index.php?search
  4. Sumber lainnya.