Spanduk “Sesat” di Perempatan

0
960
Foto: liputan6.com

Oleh: Umar Nasif
(Cerpenis asal Kediri Jawa Timur)

Spanduk yang dipasang oleh orang tak dikenal di perempatan sebuah desa membuat warganya kasak-kusuk. Spanduk itu tiba-tiba sudah ada di pagi hari. Beberapa warga yang kebetulan lewat memandanginya lekat sembari bergumam sendiri. Yang kebetulan berjalan bersama sama, berbisik membicarakan. Seorang anak kecil diam cukup lama sembari mengeja tulisan dalam spanduk itu “Mancung Aliran Sesat.” Ia pun melenggang pergi sembari tampak tak perduli.

“Spanduk itu harus disikapi dengan tegas,” ucap seseorang berpakaian batik di antara mereka. Malam itu beberapa pengikut Mancung berkumpul membicarakan spanduk itu. “Spanduk itu adalah bentuk peperangan bagi pengikutnya.”

“Anda betul, pak. Beginilah nasip kita yang minoritas. Meski berulang-ulang ada orang mereka yang mengkampanyekan toleransi, toh tetap beginilah nasib minoritas. Mereka mungkin tak merasa telah memandang sebelah mata pada kita, tapi kita sendiri bisa merasakan sikap mereka yang memandang kita berbeda,” balas seorang yang dikenal mereka bernama Tejo. Ia adalah tetua Mancung di desa itu. Wajahnya nampak tenang, namun dari pembicaraannya ia tampak sudah menguasai keadaan.

“Betul, pak. Kita harus memberi peringatan pada warga desa kalau kita tidak terima dengan pemasangan spanduk itu,” ucap Andi. Ia dikenal sebagai pemuda yang bersemangat di antara para pengikut Mancung di desa itu.

Satu lagi anggota obrolan malam itu. Seorang bernama Slamet dan sudah lanjut usia itu terlihat diam kebingungan sembari berusaha memahami apa yang sedang mereka bicarakan.

“Jaga sikapmu,” ucap Pak Tejo sembari melihat Andi. “Jangan sampai ada kerusuhan di desa kita ini. Apalagi kalau sampai merembet ke daerah-daerah lain. Ingat, pengikut Mancung itu sudah banyak tersebar di negara ini.”

“Bagaimana dengan strategi menguasai pemerintahan yang dijalankan golongan kita, pak?”

“Hus…. Siapa yang mengajarkanmu soal itu? Apa kau sudah keracunan gerakan-gerakan keras yang banyak muncul dari golongan kita itu?” Andi diam tak membalas. Slamet menjadi tampak lebih kebingungan dari sebelumnya. Orang berbaju batik tersenyum melihat gelagat mereka.

“Sejak kecil aku diajarkan Mancung itu ajaran sejati. Ajaran kebijaksanaan yang menyerukan perdamaian antar pemeluknya, juga di luar pemeluknya. Mancung tidak akan melakukan kekerasan kecuali mereka terdesak.” Ujar Pak Tejo.

“Maaf, pak. Aku hanya mendengar dari mereka tentang ada golongan kita yang berusaha mengamankan posisi ajaran kita di negeri ini,” kilah Andi. Ia menengok ke arah Mbah Slamet. Pemuda itu memegangi telapak tangan Mbah Slamet dengan erat, seolah memintanya agar tidak khawatir. “Pengikut mancung sudah ada sepersepuluh dari jumlah warga desa ini. Tentu mereka akan sakit hati melihat spanduk itu. Apalagi bila masih terpampang di tempat itu selama berhari-hari.”

Masing-masing dari mereka kemudian diam cukup lama. Selang beberapa waktu suara batuk Mbah Slamet menyedot perhatian mereka.

“Mbah Slamet pulang dulu saja, ya?” tawar Pak Tejo.

“Maafkan saya, pak. Saya baru mengenal Mancung. Masih belum tahu banyak dengan Mancung. Saya hanya bersimpati dengan Pak Tejo yang mau berbagi tentang ajaran hidup. Saya sangat terbantu dan ingin mengenal Mancung yang dianut sampeyan. Keluarga saya sendiri belum ada yang tahu Mancung. Kalau masalah spanduk itu dan bagaimana menyikapinya, he he, saya bingung. Tidak bisa memberi saran.”

Pak Tejo tiba-tiba berpaling pada sosok berbaju batik.

“Lalu bagaimana dengan sikap mereka, pak? Siapa yang memasang spanduk itu? Dan, sebenarnya siapa saja yang tidak suka dengan kehadiran pengikut Mancung di desa ini. Saya sendiri malah kurang tahu ada orang-orang dari desa ini yang tak suka dengan orang-orang Mancung.”

“Mengenai yang memasang spanduk itu, emm…. yang jelas ada semacam gelombang penolakan buat Mancung. Itu yang dapat saya simpulkan. Suasana sudah tidak tenang. Apalagi bila melihat di daerah-daerah lain gelombang penolakan Mancung sudah banyak beredar. Lembaga agama juga sudah mengambil sikap dan menyatakan Mancung sesat.”

“Kita harus memberi peringatan, pak,” ulang Andi. “Agar mereka tahu kalau kita punya massa. Mancung tidak bisa dilecehkan begitu saja.” Pak Tejo menghelai nafas cukup panjang. Ia kemudian bangkit berdiri.

“Jangan sampai ada dari golongan kita yang bertindak anarkis!” ucap Pak Tejo dengan tegas. “Jangan sampai ada tindakan atau pergerakan yang tanpa sepengetahuanku.” Andi tampak menunduk. Sejenak kemudian matanya beradu dengan si baju batik dan tampak merencanakan sesuatu. Sementara itu, Mbah Slamet masih duduk diam sembari kebingungan.

Keesokan harinya, beberapa warga mendatangi kepala desa dan mempertanyakan pemasangan spanduk itu. Mereka mengungkapkan bahwa spanduk itu hanya akan memicu konflik di desa itu. Kepala desa menjawab tidak tahu menahu tentang spanduk itu. Warga itu pun lalu berjalan menuju perempatan dan menurunkan spanduk itu.

Malam harinya terjadi kericuhan. Beberapa rumah pengikut mancung dilempari batu. Beberapa orang dipukuli. Pak Tejo sendiri diseret dari rumahnya. Ia tak berdaya di tengah kepungan orang dan hanya berteriak.

“Kami tidak ikut mendatangi rumah kepala desa dan menurunkan spanduk itu.” Ia mengucapkannya berulang-ulang. Orang-orang di sekitarnya tidak perduli. Di tempat lain, rumah Mbah Slamet telah diselimuti kobaran api yang membumbung tinggi. Keluarganya menangis histeris di luar dan terluka.

Warga yang tidak ikut diserang dan memang bukan pengikut Mancung hanya bisa diam khawatir di dalam rumah. Beberapa lelaki mengintip dari jendela dan melihat Pak Tejo dan beberapa pengikut Mancung diseret. Tapi, para lelaki yang mengintip itu tidak mengenal satupun orang yang menyeret Pak Tejo dan pengikutnya.