Romo Magnis: NU Adalah Kunci Penjaga Pancasila

0
241

Salatiga –nujateng.com, Sebagai representasi kelompok muslim arus utama, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran kunci bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila. Pancasila adalah tekad untuk saling menghormati dan menerima.

Pernyataan diatas dilontarkan oleh Rohaniwan Katolik sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, Franz Magnis Suseno. Filusuf yang biasa disapa Romo Magnis itu menyampaikan hal tersebut disela-sela mengisi seminar “Mengukuhkan Pancasila, Merawat Kebhinekaan” yang diselenggarakan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Sabtu (15/7).

Romo Magnis melanjutkan peran kunci NU sebagai kelompok moderat ini begitu besar kontribusinya, sehingga Indonesia sebagai negara majemuk tetap bertahan dengan kebinekaannya dengan tidak mendasarkan pada salah satu ajaran agama.

“Bung Karno mencetuskan Pancasila untuk mengatasi masalah apakah dalam negara dengan mayoritas agama Islam, agama tersebut perlu diberi kedudukan khusus? Apakah kita akan menganut dasar agama atau menjadi negara sekuler?” terang Romo Magnis sembari mengajak audiens menarik ingatan pada perdebatan tentang dasar negara yang terjadi sebelum proklamasi kemerdekaan 1945.

Adalah sesuatu yang luar biasa, ketika pada tanggal 18 Agustus 1945, para wakil umat Islam menerima penghapusan tujuh kata pada sila pertama Pancasila. “Islam Indonesia menunjukkan kebesaran hati dengan tidak menuntut suatu kedudukan khusus dalam konstitusi Indonesia. Konsensus Pancasila itulah dasar mengapa kita dapat hidup bersama dengan damai,” tegas budayawan yang dianugerahi Bintang Mahaputra Utama pada 13 Agustus 2015 atas jasanya dalam bidang kebudayaan.

Selain dalam momen tersebut, kontribusi kelompok muslim moderat juga terlihat pada masa transisi setelah tumbangnya orde baru. Di era tahun 1998-201, di masa yang sangat kritis dan ketika konflik banyak terjadi di Indonesia, kelompok Islam juga tidak meminta kedudukan yang khusus. “Dan kita berulangkali dipimpin oleh negarawan-negarawan yang Islami; BJ. Habibie, Gus Dur (Abdurrahman Wahid, red), NUrcholis Madjid dan lainnya. Mereka ini  cukup berjasa memasukkan jaminan demokratis dan hak asasi manusia ke dalam Undang-undang Dasar 1945,” imbuh Romo Magnis.

Ia kemudian membandingkan situasi reformasi di Indonesia dengan Mesir. “Ketika Husni Mubarok jatuh pada 2011, Mesir pecah total. Tapi kita tidak. Meski banyak konflik terjadi, tetapi Indonesia tetap utuh. Peran kelompok Islam lagi-lagi terlihat disini,” Romo Magnis membandingkan. Seperti diketahui, Mesir mengalami transisi yang berdarah-darah mulai dari tergulingnya Husni Mubarok, terpilihnya Muhammed Mursi hingga kemudian Jenderal Abdul Fatah al-Sisy mengambil alih kekuasaan.

Salah satu alasan historis mengapa kelompok muslim moderat seperti NU memiliki komitmen kebangsaan yang kuat, menurut Romo Magnis adalah karena sejak awal, kebangkitan Islam Indonesia selalu menjadi bagian dari kebangkitan nasional. “Itulah mengapa peran mereka (NU, red) begitu jelas dalam kehidupan bangsa Indonesia,” kata penggemar wayang kulit itu mengakhir paparan. [T-Kh/001]