Rais Syuriah: Kalau Ada Perintah Turun Jalan, Kita Siap

0
2915
Menyampaikan Pesan: Rais Syuriah PWNU Jateng, KH Ubaidullah Shodaqoh menyampaikan pesan disela Rakor PW RMI NU Jateng dengan PC RMI NU Jateng, Sabtu, (15/7/17). Foto: Ceprudin

Semarang, nujateng.com – Rais Syuriah PWNU Jateng, KH Ubaidullah Shodaqoh betul-betul serius menanggapi Permendikbud No. 23 Tahun 2017 tentang hari sekolah. Menurutnya, warga Nahdliyin se Jawa Tengah sedang menunggu komando dari PBNU untuk kapan menggelar aksi turun jalan.

“Ini kita pasrahkan kepada tokoh di pusat, kalau ada perintah turun (-jalan, demo), kita siap. Bahkan di bawah (warga NU) sudah pada gatel, dikon opo enak’e (disuruh apa enaknya), siap,” tutur Gus Ubaid, sapaan akrab KH Ubaidullah Shodaqoh, disela Rakor PW RMI NU Jateng dengan PC RMI NU Jateng, di Kampus UIN Semarang, Sabtu, (15/7/17).

Seperti santer diberitakan, Permendikbud No. 23 Tahun 2017 tentang hari sekolah banyak ditentang oleh masyarakat. Pasalnya, Permen itu mengatur delapan jam sekolah, selama lima hari dalam seminggu. Artinya, santri madrasah (ngaji madrasah sore) tidak bisa mengaji karena waktunya dihabiskan untuk sekolah.

 

Mendikbud Ngotot

Kendati pun banyak penolakan, Mendikbud Muhadjir Effendy bersikukuh, ngotot akan menerapkannya. Perkembangan terakhir, lima hari sekolah dengan delapan jam sehari segera akan diberlakukan. Karena itu, masyarakat termasuk warga Nahdliyin geram.

Gus Ubaid melanjutkan, bagi lembaga pendidikan pesantren sejatinya tak menjadi persoalan. Karena memang pesantren sudah lebih dari delapan jam belajar. Namun, katanya, yang akan bermasalah madrasah-madrasah diniyah yang jumlahnya ribuah di Jawa Tengah.

”Tapi bagaimana dengan keberadaan madrasah diniyah? Ini simbol yanga sangat penting. Jika madrasah ini hidup, lulusan pesantren itu tak perlu ke Jakarta mencari maisah, mereka bisa cocok tanam atau angon wedus sembari mulang ngaji di madrasah,” terang Pengasuh Ponpes Al-Itqon, Bugen, Tlogosari, Semarang ini. (Ceprudin/003)