PCNU Banjarnegara Tolak Kebijakan Sekolah 5 Hari

0
402
Ketua Pengurus Besar Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama, Dr KH Manarul Hidayat MA bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Kapolres Banjarnegara dalam acara "Ngumpulke Balung Pisah II Warga NU" di Pondok Pesantren Al Fatah Parakancanggah Banjarnegara, Minggu (16/7). [Foto: Evie]

Banjarnegara, nujateng.com- Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banjarnegara, Zahid Khasani menyampaikan bahwa organisasi yang dipimpinnya menolak kebijakan pemerintah sekolah 5 hari atau Full Day School (FDS).

“PCNU Banjarnegara menolak FDS,” katanya yang disampaikan berulangkali dalam acara silaturrahim dan halal bi halal warga nahdliyin Banjarnegara di Pondok Pesantren Al Fatah Parakancanggah Banjarnegara, Minggu (16/7).

Dalam acara yang mengusung tema “Ngumpulke Balung Pisah II Warga NU”, Gus Zahid menyampaikan jika program tersebut tetap dilaksanakan, kemungkinan 75 persen pelajar di Indonesia akan mengalami pengikisan moral.

Ketua Pengurus Besar Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), KH Manarul Hidayat, juga dalam ceramahnya menyampaikan keberatannya terhadap program sekolah 5 hari. Baginya, kebijakan tersebut dapat mengancam eksistensi madrasah dan pondok pesantren yang selama ini menjadi benteng moral masyarakat. “Negara tanpa agama tak bermoral,” ungkapnya.

Pendiri dan Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Al-Mahbubiyah Jakarta itu menambahkan, bahwa pendidikan di pondok pesantren memiliki keistimewaan tersendiri, yaitu memadukan antara kebutuhan intelektual, spiritual dan moral.

“Pesantren lain dari pada yang lain. Dalam pesantren, semua ilmu diajarkan termasuk ilmu umum dan pendidikan moral. Jika sekolah 5 hari tetap diterapkan, maka lama kelamaan semua pelajar tersibukkan dengan sekolahnya sehingga pesantren pun terabaikan. Di saat pesantren sudah terabaikan, maka moral anak bangsa akan hilang,” tuturnya. [Evie-AR/002]