Pakar Ilmu Tafsir: Al-Quran Menggambarkan Kenikmatan Ahli Surga Bukan Pesta Seks, Tapi Melihat Dzat Tuhan

0
1206

Semarang, nujateng.com- Belakangan warganet dibikin heboh dengan penggalan video ceramah seorang ustadz seleb Syamsuddin yang menjelaskan kepada jamaahnya, bahwa salah satu kenikmatan di surga adalah pesta seks. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam mengisi program acara pada stasiun televisi swasta nasional Trans TV.

Video tersebut menjadi viral dan banyak yang mengkritiknya lantaran seseorang yang menyandang gelar ustadz itu menggambarkan isi surga seperti tempat prostitusi. Meski demikian, tidak sedikit yang memahaminya sebagai kebenaran agama karena disampaikan oleh seorang “ustadz”.

Pernyataan tersebut membuat banyak orang penasaran, apakah benar keadaan di surga seperti yang disampaikan ustadz seleb itu? Jika benar, apakah ilustrasi tersebut terdapat di dalam al-Quran? Atau pernyataannya keliru? Berikut wawancara redaktur nujateng.com dengan pakar ilmu tafsir Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Dr. H. Akhmad Arif Junaidi tentang surga dalam al-Quran pada Rabu (19/7/17).

Bagaimana gambaran surga yang diceritakan dalam Al-Quran?

Surga itu sebenarnya gambaran soal kenikmatan tertinggi dari derajat manusia. Orang itu mempunyai perspektif masing-masing dalam memahami surga itu apa. Gambaran-gambaran dalam al-Quran itu kan bahwa surga itu suatu area yang sangat indah. Bahasanya jannatin tajrî min tahtihal anhâr, dipahami sebagai tempat yang di bawahnya ada air mengalir yang jernih.

Dalam konteks masyarakat Arab, masyarakat (yang tinggal di) padang pasir, itu bisa saja tempat yang sangat indah. Maka gambaran surga dalam al-Quran, dengan konteks masyarakat yang tinggal di padang pasir ya seperti itu.

Ini termasuk juga dalam konteks masyarakat Arab pada masa itu, yang namanya perempuan ya menjadi objek kenikmatan dari para laki-laki. Maka kemudian orang itu isi otaknya, oh nanti kamu di surga itu bisa berkumpul dengan perempuan yang paling cantik, secantik-cantiknya yang diinginkan, dan sepuas-puasnya.

Nah itulah maka kemudian ustadz Syamsudin (ceramah) begitu. Jadi berpikir, tidak terlalu salah, tetapi karena kalau dikontekskan dengan ayat yang lain maka kenikmatan yang paling tinggi bagi manusia itu nanti ketika di surga melihat Allah.

Kan ada ayat wujûhun yaumaidzin nâdliroh, ila robbihâ nâdhiroh. Wajah-wajah dari orang-orang ahli surga pada hari itu jadi berseri-seri, karena mereka melihat wajah dzat Tuhan. Itulah kenikmatan tertinggi (para ahli surga). Kalau hanya pesta seks dan lain sebagainya kan tidak ada apa apanya.

Lalu bagaimana para mufassir menggambarkan surga?

Tafsiran itu sesuatu yang sangat fleksibel. Kalau sampeyan tanya jumlah penafsiran, maka banyaknya sejumlah para mufasir itu. (Ibaratnya) ada satu ayat, saya tuliskan dalam papan tulis, kemudian ada tiga puluh mufassir datang di kelas itu, maka jumlah mufassir itu ya sejumlah orang yang datang itu.

Nah, maka kalau ada orang yang menafsirkan kenikmatan surga dengan pesta seks, berarti itulah gambaran surga menurut dia. Gambaran seseorang itu sangat dipengaruhi oleh alam pikirnya. Kalau alam pikirnya seks, ya seks. Tapi kalau ndak, ya tidak.

Beda dengan kalau alam pikirnya itu Tuhan, maka kenikmatan tertinggi itu ketika bertemu dengan Tuhan. Maka puncak dari kenikmatan itu ya melihat Dzat Tuhan di surga.

Meskipun memang ayat ini juga bisa diperdebatkan. Kalangan Asy’ariyah itu mengatakan nanti manusia di surga bisa melihat Dzat Tuhan. Tetapi kalangan Mu’tazilah tidak. Az-Zamaksyari, mengatakan bahwa (makna) nâdliroh tidak melihat dengan mata kepala, tetapi maknanya melihat kebesaran Tuhan, jadi melihat keagungan Tuhan, tidak melihat Dzat secara wujud.

Lalu, bagaimana gambaran dakwah yang tepat, apalagi pada masa modern ini? 

Ya saya rasa seorang dai itu harus paham target atau sasaran dakwahnya. Kalau sasaran dakwahnya (misalnya), maaf, para maniak seks, ya boleh. (Ia boleh saja menggambarkan) bahwa nanti di surga bisa main seks dengan perempuan manapun dan berapa kali sehari, misalnya. Boleh-boleh saja. Jadi kelompok-kelompok tertentu itu kan ada, yang menjadikan seks itu sebuah kenikmatan tak tertandangi.

Nah, pada kasus ustadz seleb Syamsudin saya anggap salah sasaran. Dia mengaggap bahwa audien, pemirsa, orang yang ada di hadapannya dianggap maniak seks, sehingga kemudian dia memberikan penafsiran-penafsiran itu. Tapi mungkin juga, dia pada intinya ingin menggambarkan bahwa surga itu tempat segala kenikmatan. Kalau para sufi ya menggambarkannya kenikmatan yang tak terhingga, melihat Dzat Tuhan. [Ceprudin-AR/002]