Menjadikan LTM NU Sebagai James Bond

0
849

Oleh : H. Jagarin Pane SE MM

Organisasi keagamaan terbesar di negeri kepulauan nan elok ini mempunyai puluhan juta ummat, punya ratusan ribu Masjid yang tersebar di pelosok negeri. Masjid-masjid tersebut tentu berkarakter ahlu sunnah wal jamaah, sebuah simbol marwah karomah yang mengedepankan pola syiar dakwah indah, ibadah rahmatan lil alamin dan hubbul wathon.

Lembaga Takmir Masjid (LTM) NU yang tersebar di seluruh Indonesia punya amanah yang besar untuk mampu merawat, mengembangkan dan melindungi ketakmiran Masjid yang berkarakter ahlu sunnah wal jamaah. LTM harus mampu berperan sebagai James Bond alias Jaga Mesjid dan Bendera Organisasi NU. Peran itu harus tegas, lugas tetapi tetap mengedepankan semangat ukhuwah.

Contoh dekatnya adalah Masjid Jamik Al Amanah atau Masjid Jamik Jomblang. Dinamai Masjid Jamik Jomblang oleh para pendirinya pada tahun 1933 karena berada di kawasan Jomblang pada masa penjajahan, berganti menjadi kelurahan Jomblang dan terakhir menjadi kelurahan Candi. Masjid ini adalah satu-satunya Masjid milik organisasi Nahdlatul Ulama di Semarang karena berdasarkan prasasti yang ada menyebut jelas bahwa Masjid dibangun Nahdlatul Ulama bagian ketakmiran.

Sayangnya dalam urut perjalanan “kehidupan syiar dakwahnya” selama puluhan tahun Masjid NU ini tidak menampakkan marwah dan martabat yang proporsional. Masjid ini menderita lahir bathin karena kurangnya perhatian masyarakat disekitar Masjid dan kualitas ketakmirannya sendiri yang tak mampu bangkit. Yang terjadi kemudian adalah beberapa petak tanah wakaf Masjid diakui sebagai milik seorang dua orang warga.

Barulah pada tahun 2005 diadakan renovasi serambi Masjid atas inisiatif kita yang kemudian di respons baik termasuk oleh Ketua RW setempat. Jadilah serambi seperti yang terlihat megah sekarang. Sayangnya ternyata Ketua RW yang didapuk menjadi Ketua Takmir ternyata seorang MD dan berupaya meniadakan qunut subuh. Bahkan sebuah keluarga yang berada di samping Masjid yang mengklaim sepetak tanah wakaf sebagai miliknya, berupaya menghilangkan bukti prasasti yang menjelaskan siapa dan tahun berapa Masjid karomah ini didirikan. Dengan izin Allah upaya itu gagal.

Kisruh kemudian terjadi diantara pengurus Takmir. Kita yang menjadi inisiator renovasi Masjid tapi kemudian tidak ingin berkonflik lalu berada diluar ketakmiran. Isyu MD dikumandangkan oleh anggota Takmir untuk menjatuhkan ketua Takmir, padahal karakter mereka setali tiga uang. Ketua Takmir yang hampir tak pernah sholat lima waktu berjamaah, tak mampu memakmurkan Masjid versus anggota Takmir yang sami mawon perilakunya, menggelapkan dana Masjid bahkan menjadikan salah satu gudang Masjid sebagai tempat bakar menyan, jampi-jampi dan tabur kembang. Ini fakta yang sangat memalukan.

Begitu kelamnya wajah Masjid sampai tahun 2013, ketika KH Muhammad Irsyad (Alm) menemui kita untuk mencari solusi kesemrawutan Masjid bersejarah ini. Setelah pertemuan dua kali maka dibentuklah pengurus NU Rranting Candi yang selanjutnya memilih Ketua takmir. Alhamdulillah pelantikan pengurus Ranting NU diadakan di ruang utama Masjid pertengahan Sya’ban 1435H. dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dihadiri oleh para pengurus NU Semarang, Kyai, Santri, Nahdilyin. Padahal pada waktu pelantikan suasana belum kondusif karena masih banyak provokasi dan hasutan terutama dari keluarga yang ada disamping Masjid.

Setelah ketakmiran dibentuk barulah borok dan kebusukan pengurus lama terkuak jelas. Manipulasi dana zakat muzakki jutaan rupiah selama bertahun-tahun terbuka. Dana Masjid banyak disalahgunakan. Mereka yang berada di kepengurusan lama tersingkir dengan cara yang tidak terhormat dan memang tidak pantas karena akhlak yang tercela mulai dari hobby selingkuh, pemain judi, peminum. Sekali lagi ini fakta yang sangat memalukan.

Pengurus Takmir yang sekarang ini tetap menjadi sumber fitnah dari sekelompok warga sekitar yang jumlahnya hanya 4-5 KK. Tetapi kita tegas dan lugas sembari selalu berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pengurus NU kota Semarang termasuk para Kyai dan Banser. Terakhir setahun lalu, sekelompok warga yang 4-5 orang ini dengan dukungan ketua Takmir lama yang nota bene ketua RW berupaya membangun IPAL (Septik Tank raksasa) persis di depan jalan masuk Masjid.

Kita berupaya keras untuk menggagalkannya, tidak pantas Masjid bersejarah dan karomah didekatnya ada kumpulan najis skala besar yang kalau bocor baunya akan menyengat kemana-mana. Akhirnya pengurus NU kota Semarang turun tangan dan bersilaturrahim ke Walikota menjelang Ramadhan tahun lalu. Diputuskan bahwa IPAL di relokasi. Kita juga tidak tinggal diam, bersama beberapa warga yang tak setuju dibangun IPAL kita mengadu ke Lurah kelurahan Candi kemudian beritanya masuk koran Suara Merdeka. Alhamdulillah Masjid bersejarah milik syah NU ini diselamatkan Allah dari kejahatan sekelompok orang itu yang memang selalu menjadikan Masjid ini sebagai sumber fitnah.

Sekarang dengan izin Allah, Masjid Al Amanah yang karomah ini berkembang pesat syiar dakwahnya dan kinclong bangunannya serta bersih cemerlang Masjidnya. Kita membangun menara Masjid yang dananya hampir seluruhnya didapatkan dari masyarakat yang bukan didekat Masjid. Sound System canggih dari donasi PT Pegadaian. Kita punya CCTV yang dipasang di beberapa titik didalam dan di halaman Masjid. Kita mendapatkan bantuan bedug raksasa dari seorang pengusaha nahdliyin yang hanya kalah besar dari bedug MAJT. Genset juga kita punyai untuk menjaga kelangsungan catu daya manakala listrik padam. Kita punya perlengkapan hadrah yang lengkap, kita punya kantor sekretariat, dan terakhir kita punya unit usaha RPK (rumah pangan kita) untuk sembako murah kerjasama NU-Bulog.

Pesannya adalah, perlu menjadi seorang berkarakter “James Bond” demi menjaga nilai-nilai Masjid yang berkarakter ahlu sunnah wal jamaah. Berapa banyak Masjid aswaja diserobot kemudian diganti warnanya. Qunut subuh dilarang, tidak boleh sholawatan, tahlilan no, bedug dihilangkan, tongkat khatib dibuang. Masjid jadi kering nilai syiar dan pujian. James Bond alias jaga mesjid dan bendera organisasi NU adalah tugas utama LTM-NU. Berhadapan dengan orang-orang berkarakter jahat dan zalim terhadap Masjid aswaja perlu menjadi seorang fighter alias penempur untuk menggempur. Karakter nahdilyin yang sejatinya santun sekali waktu perlu diperlihatkan “kapasitas militansinya”. Itu juga karakter seorang kader penggerak NU.

Kita tidak mencari musuh tetapi kalau musuh dihadapan yang jelas-jelas menzalimi Masjid, memfitnah Masjid, dan menganggap Masjid Aswaja “kampungan” dan penganut bid’ah serba ada, maka kita wajib menghadapinya dengan counter attack. Saatnya nahdilyin unjuk kehormatan, unjuk marwah dan unjuk kekuatan. LTM ada di garis komando dan kita sebagai kader penggerak siap untuk itu.

Semarang 12 Juli 2017
Penulis adalah Ketua Takmir Masjid Jamik NU Al Amanah dan Wakil Ketua LTM PCNU kota Semarang