Makam Sunan Madusari di Dusun Botoputih Temanggung. [Foto: Slamet Ja'fari]

Oleh: Slamet Ja’far
(Pengurus Radio NU Temanggung)

Sunan Madusari, sebuah nama yang cukup asing di telinga kita, terutama warga Temanggung. Apalagi warga luar Temanggung. Bila Anda berkesempatan berkunjung ke Tembarak, bisa Anda sempatkan untuk berziarah ke makam beliau. Makam beliau terletak di sebelah barat dusun Botoputih, sebelah timur makam Ngawen, persis di pinggir jalan raya sebelah kanan jalan bila Anda datang dari arah timur. Masyarakat sekitar menyebutnya “Makam Gasari” atau “Nggasari”. Makam beliau dikerumuni beberapa pohon yang cukup tinggi, bebatuan hijau (karena dikerumuni lumut hijau) yang memenuhi di atas pusara makam. Nuansa alami dan natural bisa Anda nikmatiditempat tersebut karena jauh dari kerumunan hiruk pikuk manusia, meskipun di pinggir jalan namun terasa sunyi dan senyap.

Sunan Madusari merupakan sebuah julukan. Seperti nama sunan yang lain. Sunan Kalijogo, Sunan Bonang, Sunan Ampel, Sunan Geseng juga nama sunan lainnya. Sedianya semua sunan tersebut memiliki nama asli. Termasuk Sunan Madusari ini. Beliau bernama Sayyid Muhammad bin Utsman Basyaiban. Beliau berasal dari Magelang Jawa Tengah. Termasuk satu dari kesekian wali mastur” yang memang jarang diketahui kewaliannya. Beliau salah satu dzurriyyah Rasul yang memiliki banyak keistimewaan. Satu diantara keistimewaan beliau yakni tangan yang selalu bersambung erat kepada tangan Baginda Rasulillah Muhammad Saw.

Meskipun beliau keturunan Nabi, namun beliau juga memiliki kebiasaan seperti manusia pada umumnya. Makan, tidur, mencari nafkah, berkeluarga, menghidupi keluarga dan kebiasaan lainnya. Sehingga tak heran bila suatu saat beliau juga dirundung beberapa masalah yang cukup pelik untuk dipecahkan. Masalah keluarga dan ekonomi merupakan beberapa masalah yang cukup menghimpit kehidupannya. Lazimnya manusia beriman beliau memutuskan untuk bermunajat. Tentu saja dengan hajat mencari petunjuk kepada Allah untuk mencari jalan keluar guna terbebas dari masalah yang sedang merundung. Munajat dengan kontinu beliau lakukan. Hingga suatu saat beliau mendapat sebuah wisik (ilham). Dalam wisik-nya disebutkan bahwa beliau mendapat perintah untuk melakukan perjalanan ke arah utara untuk mencari tempat riyadlah dan bermunajat. Itu sebagai wasilah mencari jalan keluar dari masalah dan untuk memohon tercapainya hajat hidup yang selama ini beliau idamkan. Dalam wisik-nya tergambar jelas: ”Bila dalam perjalanan menemukan tanah yang manis dan wangi, berhentilah dan itulah tempat bermunajat yang aku sebutkan”, demikian wisik yang terekam dalam relung Sunan Madusari.

Perjalanan pun beliau lakukan sesuai wisik yang beliau terima. Langkah demi langkah beliau lakukan, naik dan turun gunung tanpa berputus asa, keluar masuk hutan belantara tetap beliau lakoni. Menyusuri sungai dan apapun dalam seluruh perjalanannya. Akhirnya lelah menghampiri sang Habib. Beristirahatlah beliau di sebuah sungai.

Sungai itu dipenuhi air yang jernih dan sebuah mata air cukup besar. Di tengah peristirahatannya, tak terasa aroma wangi nan harum tercium oleh hidung mancung beliau. Beliau cium wewangian tersebut dan ternyata berasal dari tanah tempat beliau beristirahat. Setelah itu beliau mecoba mengecap tanah tersebut dan kebetulan ternyata rasanya manis.

Beliau beranjak dari peristirahatan. Beliau mengelilingi daerah sekitar sungai tersebut dan akhirnya bertemulah dengan sebuah goa. Beliau masuk dan di dalamnya terdapat ribuan sarang tawon madu memenuhi isi goa. Karena saking banyaknya, hingga madu dari sarang tawon menetes memenuhi tanah yang ada di dalam goa itu. Dan meresap hingga ke bagian dalam tanah, sehingga tanah disekitar goa menjadi manis. “Inilah tempat yang saya cari selama ini”, bisik sang habib dalam hatinya.

Setelah pencarian tersebut selesai, munajat dan riyadlah beliau lakukan di dalam goa tersebut. Hingga sekian lama beliau bermunajat, akhirnya beliau bertemu Rasulullah Saw dalam sebuah mimpinya. Betapa bahagia beliau bertemu sang Datuknya. Rasa bahagianya tak mampu tertandingi oleh apapun. Bahkan dunia seisinya tak mampu menandingi keindahan dan kebahagiaan bertemu dengan sang Nabi pujaan. Buah dari kebahagiaan yang memuncak, sang sunan pun lupa akan semua masalah dan hajat yang selama ini terkandung dalam hasratnya, seakan pertemuan dengan Baginda sudah menjadi sebuah jawaban dari segala permasalahan yang menimpanya selama ini.

“Apa permintaan dan hajatmu?” tanya Kanjeng Nabi.

“Saya tak ada hajat apapun Ya Rasul, kecuali diperkenankannya tanganku selalu memegang tanganmu ya Rasul!”, pinta sang sunan kepada Nabi.

Akhirnya Nabi mengabulkan hajat sang sunan, sehingga tangan keduanya saling bertautan. Rasa bergemuruh bahagia yang dipenuhi getaran nubuwah dari kajeng Nabi terus mengalir ke dalam juz-juz rohaniyah dan jasmaniyah sang sunan. Kebahagiaan, ketenteraman dan rasa berkecukupan bertambah seiring masuknya nur nubuwah ke dalam jasad dan rohaninya. Tak terasa air mata sang sunan mengalir bagaikan anak sungai yang mengalir dari sumber mata air telaga rajab yang diliputi semerbak wewangian memenuhi seluruh alam.  Tangisan dari relung hati menyesakkan dada mendorong energi yang ada di seluruh tubuh berkumpul dan bercampur dengan nur nubuwah Rasulillah Saw. Lupa akan semua hajat yang diharap selama bermunajat dan istighotsah selama riyadlohnya. Sang Sunan pun larut tenggelam dalam kebahagiaan yang mendalam lantaran perjumpaannya dengan Baginda, hingga ia tak lagi peduli akan semua hajat yang ia simpan selama ini. Ia tak lagi hiraukan segala kebutuhan duniawi, semuanya sirna lantaran dekapan tangan Baginda, hingga enggan untuk dilepaskan.

“Mintalah kepada Alloh, segala hajatmu akan ku sampaikan, segala kesusahan dan kesulitanmu akan ku mintakan hilang dari kehidupanmu”, pinta Rasul kepada sang sunan.

“Tidak ya Rasul, aku sudah tak butuh dan perlu apapun selagi hati dan tangan ini masih dalam genggaman tanganmu. Ini semua sudah cukup melebihi apapun yang saya butuhkan. Tak ada rasa berkecukupan selagi engkau masih menggenggamku dalam keadaan seperti ini”, jawab sang sunan menikmati suasana.

“Lantas apa yang kau inginkan sekarang?”, tanya Rasul.

“Hamba hanya ingin jangan kau lepaskan tangan ini sampai kapanpun, meskipun hamba harus meninggalkan jasad ini demi kelanggengan bersua bersama engkau”, jawab sang sunan.

“Benarkah hanya ini yang engkau mau? Bukankah kau ingin kembali pada keluargamu?”, tanya Rasul kembali.

“Tidak ya Rasul. Bawalah rohku bersamamu dan jangan pernah lepaskan genggaman tangan ini, itu semua sudah cukup menjadi hajatku”, sergah Sang Sunan kepada Baginda.

“Baiklah kalau ini sudah menjadi hajatmu”, pungkas Rasul menerima permintaan sang sunan.

Akhir cerita Rasululloh membawa sang sunan dan meninggalkan jasadnya di tengah hutan tempat dia bermunajat. Waktu berotasi hingga 40 hari, keluarga sang sunan sangat mengharap kepulangannya. Hari itu merupakan hari kepulangan yang telah dijanjikan sang sunan kepada keluarganya. Tengah malam keluarga didatangi sebuah suara gaib yang mengabarkan kematian sang sunan. Tempat dan segala wasiat terdengar jelas oleh suara gaib tersebut. Tanpa menunggu waktu akhirnya keluarga bergegas mencari jasad sang sunan. Alangkah terkagumnya seluruh keluarga sang sunan, karena melihat pemandangan yang sangat musykil. Segala ubo rampe upacara pemakaman telah siap meskipun di tengah hutan. Bahkan jasad sang sunan pun sudah di mandikan dan dikafani. Siapa gerangan yang telah merawat jenazah sang sunan? Rasa penasaran senantiasa meliputi keluarga. Ternyata jasad sang sunan dirawat oleh para malaikat penjaga bumi. Makam sang sunan tersebut kini terletak di sebuah desa Botoputih Tembarak. Nama yang cukup masyhur masyarakat menyebutnya dengan “Makam Gasari” atau “Nggasari”. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad. [002]

Catatan:
Cerita ini disarikan dari wawancara penulis dengan Kiai Syifaul Fuad Al Ghofar & Nur Budiman (Ketua Ansor Tembarak Temanggung).