Kang Muayyad dan Sandal Mbah Kyai yang Hilang

0
1238

Oleh: Salwa Nida
(Mahasiswi Hukum Perdata Islam Fakultas Syariah UIN Walisongo Semarang)

Srek, srek, srek… para santri bergegas menuju kamar masing-masing. Seketika masjid pondok tampak sepi. Lampu-lampu neon yang biasanya menerangi ruangan terbuka itu mati semua, tinggal lampu bohlam warna putih yang tetap menerangi di sudut masjid seluas 100 m2.

Seseorang duduk di atas anak tangga masjid, sembari menikmati hembusan angin pagi hari, laki-laki berkulit sawo matang sedang mengamat-amati sepasang sandal yang tertata rapi di depannya. Sandal berwarna hitam, kusam dan agak sobek di bagian bawahnya. Sandal slop ukuran 42 itu tak terlihat mahal, mewah apalagi modis. Aura yang terpancar dari sandal ini adalah kuno.

Seorang santri muda, gagah, tinggi dan berwajah kota sepertiku tak layak memakai sandal khas orang sepuh. Sandal jepit. Bolehlah, karena tak pernah ada diskriminasi bagi pemakainya. Nah, sandal ini khusus bagi orang sepuh berusia kisaran 70 tahunan. Tapi ocehan-ocehan seperti itu tak pernah ku hiraukan, kuanggap saja angin berlalu. Empat tahun lamanya kesetiaanku dalam merawat dan menjaga sandal ini dari ghosoban santri yang kepepet. Sejenak memori lamaku terbuka, impuls-impuls masa lalu menjalar ke otakku.

***

“I’mala laisa u’milat ma duna in # ma’a baqon nafyi wa tartibin zukin”

Lantunan bait nadham Alfiyyah malam itu terasa hangat dalam pelukan jiwa. Seluruh santri berkumpul di aula pondok, rutinitas yang tak pernah tertinggal yaitu melantunkan Alfiyyah 20 bait sebelum ngaji kitab bersama kyai. Bagi yang sudah hafal, melantunkan Alfiyyah sangatlah ringan daripada melafalkan bahasa Inggris. Tapi bagi santri yang masih merintis hafalannya, kitab Alfiyyah bagai azimat yang selalu dibawa kemanapun, kecuali kawasan rawan misalnya kamar mandi.

Malam adalah keindahan, karena malam yang mengajakku untuk bertamasya melewati kegelapannya. Sampai pagipun hadir menjemputku untuk kembali. Tek.. tek.. tek.. tak ada lagi bisikan-bisikan yang terdengar kecuali suara tongkat Mbah Kyai Umar . beliau berjalan menuju mimbar aula, dengan kawalan santri ndalem, beliau sangat berhati-hati saat melangkah. Bahkan terkadang santri ndalem itu menggandeng lengannya dan membantu beliau yang hendak duduk. Beliau adalah pusat perhatian para santri ketika sedang mengajar ngaji, lemah lembutnya sikap beliau yang terpancar melalui sinar wajahnya sangat dikagumi santrinya. Kacamata berbentuk segi empat besar dikeluarkan beliau dari sakunya.

Mulailah ngaji kitab malam itu dengan suasana hening. Posisi paling strategis untuk kabur dari ngaji yaitu dekat dengan pintu. Sengaja kupilih tempat itu agar aku bisa melewati keindahan malam ini dengan sempurna. Bulan sabit yang menggantung dilangit seolah memberi isyarat padaku supaya segera melangkahkan kaki .

“Yad, malem iki arep metu neh?” tanya Syafiq yang tampaknya mengamati gerak gerikku dari tadi.

“Iyolah, tapi nunggu bentar biar entuk barokah,” jawabku lirih.

“Kamu itu lho, ajeg.. iki sing mucal Mbah Yai isih arep keluyuran. Piye iso entuk barokah?” Kalam ampuh Syafiq selalu menyertaiku, tapi kubiarkan saja kalam itu menjadi angin yang sekedar  menelesup telingaku. Langsung saja ku lancarkan niat ini. Kuhadapkan badan ini ke arah pintu keluar dan mulai berjalan mengendap-endap. Hanya ada sinar rembulan dan satu lampu neon yang menerangi gelapnya depan aula. Dari kejauhan terlihat bayangan seseorang yang sedang berjalan menuju aula, segera tanganku meraih sandal terdekat dan kabur menjauhi aula. Tak kusangka usaha terdesak ini berhasil, gerbang pondok sudah terlewati. Brak.. kujatuhkan sandal ini ke tanah dan kupakai di kaki. Alhamdulillah pas. Pas ukurannya, dan pas pasangannya. Jarang sekali aku meng-ghoshob dan beruntung.

Setapak demi setapak kurangkai jejak kakiku menuju warung pak Slamet. Bunyi jangkrik dan kodok di sawah sepanjang  jalan semakin membuat merdu keindahan malam ini. Bisik angin yang menabrak dedaunan melepas semua beban berat di punggung. Sejauh 100 meter warung kecil Pak Slamet sudah terlihat, warung dengan julukan remang-remang itu selalu ramai dikunjungi pemuda. Pemuda-pemuda menyebutnya remang-remang karena minimnya pencahayaan disekitar  warung pak Slamet. Di radius 100 meter itulah terdapat pos ronda, dan sudah menjadi adatku Yaitu menitipkan baju koko dan sarung, sehingga yang menempel di badanku tinggal kaos lengan pendek dan celana pendek. Kumantapkan langkah kakiku menuju warung pak slamet.

“Yadi rene…” itulah panggilanku bagi mereka. Nama asliku Muayyad, namun kusuruh mereka memanggilku Yadi, berbeda ketika aku di pondok semuanya mengenalku dengan panggilan Muayyad. Ini adalah cara keduaku untuk menghilangkan identitas santri. Warung Pak Slamet ramai oleh pengunjung, mereka tak sekedar ngopi ataupun makan sego kucing, tapi juga nonton layar tancep. Malam yang mencekam telah melebur dalam suasana canda tawa. Hiburan seperti ini yang selalu kuharapkan, suasana formal di pondok makin membuat sumpek saja.

***

Pena para santri berhenti menghiasi kitab kuning gundulnya, doa menjadi penutup malam ini, dan Mbah Yai harus segera istirahat kembali. Kang Rais sebagai santri ndalem sudah siap siaga mengawal Mbah Yai. Hal yang tak pernah hilang dari Mbah Yai sesudah mengajarkan ngaji adalah mengembangkan senyumnya kepada para santrinya.

Bagi para santri, senyum adalah tanda kasih sayang beliau kepada mereka. Beliau beranjak dari tempat duduknya dan berjalan perlahan, di depan pintu Mbah Yai berdiri sejenak menunggu Kang Rais menyiapkan sandal beliau. Kang Rais celingak-celinguk, sandal Mbah Yai tidak ada di tempat. Sangat mengherankan, sandal yang biasanya ditaruh pada tempat yang sama tiba-tiba lenyap. Satu persatu barisan sandal diamatinya. Mbah Yai pun paham dengan tingkah Kang Rais itu, dan memintanya untuk pinjam sandal dari salah satu santri. Segera ia menjalankan dhawuh Mbah Yai.

“Nang aku nyilih sandal siji kanggo Mbah Yai. Ojo balik pondok sedurunge aku rene meneh,” kata Kang Rais.

“Ya kang,” jawab salah satu teman santrinya.

Semua santri masih berdiam diri di tempat dan tak ada satupun yang berani beranjak dari zona duduknya. Mereka mulai gaduh menanyakan apa yang terjadi, ada pula yang sejenak terlelap, ada pula yang tak sabar makan malam.

Begitu Kang Rais datang, hening menghampiri jajaran para santri yang sedari tadi duduk. Kang Rais tidak sendiri, ia ditemani dua bodyguard-nya. Dua bodyguard-nya adalah Kang Ghofur dan Kang Rozaq. Mereka berdua mencari sesuatu di antara sandal-sandal santri, dengan bersenjata senter usaha mereka tak menuai hasil. Sandal Mbah Yai benar-benar hilang.

Kang Rais sebagai pemandu sangat geram. Ia mengumumkan kepada para santri mencari sandal mbah Yai yang telah sah dinyatakan hilang. Hanya sepasang sandal yang hilang mampu menghebohkan satu pondok. Bukan hanya sekedar milik Mbah Yai, tapi sandal itu punya filosofi yang mendalam. Sandal itu merupakan pemberian dari teman akrab Mbah Yai, Yaitu Mbah Yai Nafi’. Mbah Yai Nafi’ memberikan oleh-oleh sandal kepada Mbah Yai Umar setelah pulang dari Yaman. Sandal langka tersebut sebagai kenangan terakhir dari Mbah Nafi’, karena setelah itu Mbah Yai Nafi’ wafat.

Kian larutnya malam ini tak memberikan jawaban pasti. Syafiq yang mengetahui kepergian Muayyad dan memungkinkan dugaan ghoshob tidak memberi tahu Kang Rais dengan alasan takut terkena semprot dari Kang Rais. Waktu telah menunjukkan jam 12, semua santri dipersilahkan kembali ke kamarnya. Karena ada perasaan takut bersalah dari Syafiq ia pun merancang ide. Baru beberapa menit masuk kamar, ia tergesa-gesa keluar.

“Kang, Muayyad gak ada di kamar,” kata Syafiq.

“Tadi dia gak ikut ngaji?” tanya Kang Rais.

“Saya tadi liat dia ikut ngaji, tapi saya gak liat dia lagi,” jawab Syafiq.

“Wes iso dipastikan iki, pelakune Muayyad. Balik neng kamar sampeyan! (Sudah bisa dipastikan kalau pelakunya Muayyad),” kata Kang Rais menimbali.

Embun pagi membasahi pepohonan yang rindang akan daunnya, dingin merasuk dalam jiwa. Dan gigitan-gigitan nyamuk menusuk tajam kulit kusam sengatan asap rokok. Aku langsung terbangun dari gubuk kecil beratap pelepah pisang. Hanya sarung  yang lusuh dan bau menyelimutiku. Sarung yang hampir dua minggu tak kucuci lumayan menghangangatkan badanku, meskipun aroma sedapnya yang tak seperti aroma mie sedap selalu menggantung pada lubang hidungku.

***

Pagar pondok sedikit terbuka, takut untuk ketahuan bukan lagi menjadi alasan masuk pondok. Bismillah, gerbang pondok terbuka. Tiba-tiba saja dua orang berpeci, berbaju koko putih, berekspresi garang meskipun wajah aslinya macam pelawak, berdiri tegap di hadapanku, mereka melihat ke arah kakiku, kupikir mereka melirik sarungku, ternyata…

“Itu sandal siapa?” tanya Kang Ghofur dengan membelalakkan matanya ke arahku.

“Lepas sandalmu!” perintah Kang Rozaq sambil menginjak kakiku.

Kebingunganku mulai memuncak, ada apa dengan sandal ini? Kulepaskan sandal tua ini dari kakiku dan Kang Rais muncul dari belakang Kang Ghofur dan Kang Rozaq.

“Makin pinter aja kamu Muayyad! Sudah berkakli-kali kena takzir tak pernah puas, malahan kamu menantang kami untuk membuat takziran yang lebih berat. Mulai dari hafalan, lari, bersihkan kamar mandi, nyuci baju satu kamar, nyuci karpet masjid, nyapu-ngepel masjid, adzan, imam sholat, tak pernah jera. Kesalahan kecilmu dari mulai ketiduran, kelayaban malam, tidak setor hafalan, ghoshob sandal, ghoshob pakaian teman dan sekarang kamu ghoshob sandalnya Mbah Yai buat kelayaban malam. Apa yang kamu inginkan wahai saudara Muayyad?” kata Kang Rais dengan wajah muram.

Sangat miris sekali, ternyata aku telah meng-ghoshob sandal Mbah Yai. Sedari tadi aku seperti melihat orang yang sedang tampil membaca puisi. Tapi ternyata mereka menghujamkan kalimat yang membangunkanku dari mimpi semalam. Yaa… aku ghoshob sandal Mbah Yai, tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Pasrah saja dengan situasi ini.

Aku digiring Kang Rais dan kawan-kawan ke ndalem (rumah Kiai, red) untuk menghadap Mbah Yai dengan penampilan tak pantas dan kesalahan yang makin menjatuhkan martabatku. Aku duduk di lantai keramik marmer, meski ada kursi-kursi di sana, tapi rasanya tak pantas tubuhku ini mengotori kursi mewah Mbah Yai. Mbah Yai menghampiriku dengan penampilan beliau yang kubilang santai, beliau tersenyum dan menatapku. Seolah tak ada rasa marah dari wajah beliau.

“Sandal saya pakai saja, jangan ghoshob lagi. Ngaji yang rajin biar mondoknya gak sia-sia.  Kalo pengen nonton, ke ndalem saja gak usah keluar ngabisin duit,” dhawuh Mbah Yai dengan kelembutan sikapnya.

“Inggih Mbah Yai,” kataku serasa cukup untuk menjawab nasehat beliau.

Air mataku seketika ingin mengalir, harapku dengan airmata kesalahanku luntur. Tapi itu konyol, kutahan sangat-sangat agar tak menetes. Ku tundukkan wajahku di hadapan Mbah Yai dan ku cium tangan suci beliau. Tangan Mbah Yai mengelus pundakku .

“Saya gak marah sama santri saya, karena mereka sedang berjihad,” tutur Mbah Yai.

Ungkapan itu sangat menggetarkan hati. Semakin ku sadari semua tingkah jelekku di sini, tak ada kemuliyaan dari diriku ketika aku menghadap Mbah Yai. Semua keburukan yang ku buat adalah nyata dan kebaikanku hanyalah fatamorgana.

***

Sandal ini hal yang remeh tapi kesalahanku tak bisa diremehkan. Aku ini santri tapi aku sudah berbuat berani sama kyai. Barokah yang kucari dengan kesalahan akhirnya mengantarkan pada kesadaran setelah kesalahan yang besar pula. Andaikan beliau tidak ridla dengan tingkahku ini tak akan pernah ku dapatkan secuil barakah dari beliau.

Ini bukan sebesar apa kesalahan yang dibuat, melainkan sikap besar seperti apa untuk menghadapi kesalahan orang lain. Selalu ku ingat jiwa besar Mbah Yai. Sandal ini adalah amanah terbesar bagiku, beliau telah meninggal tapi kenangan sandal ini selalu melekat. Sandal ini membawa barokah yang besar, kedudukanku di pondok bukan santri biasa lagi, aku menjadi santri ndalem yang selalu mengawal Mbah Yai. [002]