Alwi Shihab: Islam Menganjurkan Dialog

0
226

Salatiga –nujateng.com, Islam merupakan agama yang menganjurkan untuk melakukan dialog. Terhadap umat Kristen dan Yahudi, al-Qur’an menyebut mereka dengan ahl al-Kitab,yang memiliki kitab suci. Dengan menggunakan kata ahl, yang berarti keluarga, ada makna keakraban dan kedekatan hubungan di dalamnya. Fakta sejarah dimana umat Nabi Muhammad yang berhijrah ke Ethiopia dan mendapatkan perlindungan dari Raja Negus (Najashi) yang beragama Kristen juga menunjukan bagaimana hubungan yang harmonis itu terjalin.

Alwi Abdurrahman Shihab, Menteri Luar Negeri di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menekankan pentingnya membuka ruang dialog dalam sebuah diskusi bertajuk Mengukuhkan Pancasila, Merawat Kebhinekaan, yang diselenggarakan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Sabtu (15/7). Pemegang dua master dan dua gelar doktor tersebut menilai bahwa di atas pundak pemuka agama, terletak kewajiban untuk mensosialisasikan konsep moderasi. “Juga penting menghindari sikap ekstrem atau berlebihan. Tujuannya adalah menciptakan masyarakat penengah atau adil yang dalam bahasa Qur’annya disebut ummatan wasathan,” terang laki-laki kelahiran 19 Agustus 1946 tersebut.

Alumnus Universitas Ain Syams Mesir dan Temple University ini mengingatkan bahwa ada bahaya yang menghadang umat Islam, ketika dakwah gagal mengangkat pengetahuan Islam penerimanya. “Bahaya itu adalah ekstremisme agama yang sesungguhnya bertentangan dengan teks Islam. Padahal teks-teks Islam jelas menghimbau umat Islam untuk menolak kekakuan dan kebekuan dalam beragama,” tukas ayah tiga putra tersebut.

Ciri pertama kalangan ekstremis adalah fanatisme dan intoleran. “Mereka menolak untuk mengubah pendapatnya, tetap pada prasangka dan tidak bisa melihat kepentingan orang lain dan tujuan syariat,” terang adik ahli tafsir, M. Quraisy Shihab ini. Orang seperti ini, kata Alwi, bukan hanya mengklaim dia yang paling benar tetapi juga mengatakan orang lain salah dan bodoh. Menjadi kritis lagi karena kemudian kerap melabeli praktek keagamaan orang lain sebagai bid’ah, kufur dan sesat.

Indikator berikutnya dari mereka yang tergolong kelompok ini adalah soal kurangnya pengetahuan dan wawasan tentang tujuan, semangat dan esensi agama. Seraya mengutip Al-Syatibi dalam Al-I’tisham, Alwi mengatakan bahwa kurangnya pengetahuan agama dan kesombongan adalah akar munculnya penyebutan bidah serta perpecahan umat dan menggiring perselisihan internal dan perpecahan umat perlahan-lahan.

Dalam konteks masyarakat Indonesia, Alwi melihat bahwa segala bentuk moderasi keagamaan, aik dalam menilai, berinteraksi dengan kelompok lain, maupun dalam menjalankan tuntunan agama perlu mendapat dukungan. “Karenanya, usaha untuk mencari titik temu dalam ajaran agama-agama dunia untuk mencegah terjadinya kekerasan harus perlu terus ditingkatkan,” terang Alwi yang pernah mengajar Hartford Seminary, Harvard Divinity School, dan Auburn Theological Seminary of New York.

Sebagai negara yang majemuk, upaya untuk menegakan Pancasila pertama-tama harus dimulai dengan meluruskan pemahaman keagamaan yang keliru. Langkah ini harus dilanjutkan dengan mengenalkan dialog, dimana umat beragama mempersiapkan diri untuk melakukan diskusi dengan umat agama lain yang berbeda pandangan tentang kenyataan hidup. “Namun, perlu digarisbawahi bahwa pelaku dialog harus bersikap toleran dan berpandangan pluralis karena dialog antaragama untuk mencapai saling pengertian dan respek apabila salah satu pihak tidak bersikap toleran,” katanya mengingatkan. (T-Kh/001)