Berdamai dengan Ibn al-Faridl (1235 M)

0
408
Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh (tengah) dalam acara kunjungan tokoh Syi'ah Iraq beberapa waktu lalu. [Foto: Ceprudin]

 

Oleh:

KH. Ubaidullah Shodaqoh

(Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah)

Sungguh mengenaskan nasib penyair yang berjuluk “Sulthon al-Asyiqin” ini. Beliau dituduh kafir dan diusir dimana-mana karena beberapa syiir cintanya yang digubah dari pengalaman meditasi selama 15 tahun di Makkah. Ya tentu karena sudut pandang seni sastra yang dilihat dengan kacamata hitam putih, maka kesimpulannya menuju pada kafir atau mukmin.

Syiir ibn al-Faridl masih dapat kita nikmati dari lantunan Rim Banna. Suara lengking merdunya dalam membawakan judul “( زدني بفرط الحب فيك تحيرا)” —berilah aku tambahan cinta yang menderu padaMu dengan segala kegaulan– sungguh menyayat dengan apresiasi penuh. Memang syiirnya mengandung kalimat yang kebacut pula. Karena dia meminta melihat Tuhan secara nyata. Padahal ijmak ulama mengatakan siapa yang mengaku-aku melihat Tuhan dalam keadaan orang tersebut terjaga maka sudah pasti kekufurannya.

Mungkin juga salah satu dasar justifikasi masyarakat Kairo atas kekufurannya diantaranya dari lyrik:

و اذا سالتك ان أراك حقيقة * فاسمح ولا تجعل جوابي لن ترى
ان الغرام لهو الحياة فمت به * صبا و حقك ان تموت و تعذرا

 

“Ketika aku meminta-Mu untuk memandang-Mu dengan sadar dalam kehidupan ini maka mohon permakluman. Dan janganlah Engkau jawab ‘ sama sekali kamu takkan dapat melihatku ‘. Ketahuilah, sesungguhnya keterikatan cinta adalah kehidupan, dan matilah engkau dengan keterikatan cinta dalam keadaan rindu yang tiada terperi.”

Tentu kita tahu betapa sulitnya mendamaikan funun keilmuan, misal tashowwuf, fiqh, kalam. Apalagi berdamai dengan ahlu al-dlohir yang tektualis.

Ternyata perdamaian itu barang mahal, sulit dan rumit. Hanya mereka yang tak bertendensi dan bersih hati yang mudah mengerti untuk berdamai. Orang-orang yang berakal cethek kaya kita lebih mengedepankan kepentingan dan emosi, atau sumbu pendek istilah saat ini, atau sarkasmenya “penthol korek”.

Saya sungguh lega, pada akhir kajian Ramadlon yang ditutup dengan 17-an di pondok sebelah, menemukan di shohifah terakhirnya mbah Kyai Nawawi Banten rahimahulloh wa nafaana biulumih, yang bersandarkan pendapat Syaikh Shodruddin al-Qounawi murid Syaikh Muhyiddin rahimahumalloh. Beliau mbah Kyai Nawawi mengajak kami para pembaca Fathu al-Majid-nya untuk berdamai dengan Ibn al-Faridl rahimahumulloh.