Model Berpolitik Warga NU

0
1347
KH. Ahmad Siddiq (kanan), Cak Nur dan Gus Dur.

Semarang, nujateng.com- Greg Fealy, salah seorang peneliti Nahdlatul Ulama (NU) asal Australia menyebut bahwa dasar formal pendekatan politik NU sebenarnya adalah yurisprudensi abad pertengahan. Menurutnya, fiqh memainkan peran penting dalam tradisi keberislaman NU. Dalam tradisi keilmuan Islam, fiqh berkaitan dengan pengetahuan lainnya seperti ushul fiqh dan kaidah fiqh.

Dalam “Pedoman Berfikir Warga NU” KH. Ahmad Siddiq mengatakan bahwa saat berelasi dengan pemerintah, maka tokoh NU penting untuk berelasi secara personal saat hendak memberikan pendapat. “Barangsiapa mempunjai pendapat/nasihat untuk penguasa maka djanganlah digemborkan di muka umum. Peganglah tangannja, temuilah sendirian. Kalau ia terima usul pendapat atau nasihat itu, baiklah. Kalau tidak diterimanja maka pengusul sudah memenuhi kewadjiban dan haknja,” tulis Kyai Ahmad Siddiq.

Sikap politik Ro’is Am NU pada masa Pemerintahan Soekarno, KH. Wahab Chasbullah adalah contoh tentang politik NU yang bijaksana.  Mbah Wahab menilai kalau amar ma’ruf nahiy munkar dirasa efektif jika punya pengaruh politik di lingkungan pemerintah. Ini digunakan Wahab untuk membenarkan keikutsertaaannya dalam kabinet.

Model berpolitik ala warga NU lainnya adalah luwes. Keluwesan dalam politik ini terkadang menyudutkan NU. Masyumi misalnya, kerap menganggap NU sebagai oportunis dan plin-plan. Sebaliknya NU menganggap Masyumi sebagai partai keras dan kaku.

Figur KH. Idham Cholid memainkan peran penting dalam memberi warna pola politik NU yang dinamis itu. Ketua Umum terlama yang tercatat dalam sejarah NU (1956-1984) itu telah menduduki banyak jabatan. Di bidang eksekutif, ia beberapa kali jadi menteri, baik saat masa Orde Lama maupun Orde Baru. Ketika Bung Karno jatuh pada 1966, ia menjadi anggota presidium Kabinet Ampera I dan Kabinet Ampera II dan setelah itu diangkat menjadi ketua MPR/DPR pada periode 1972-1977.

Kyai Idham Chalid dan presiden pertama Indonesia, Soekarno punya beberapa kesamaan. Salah satunya adalah keduanya adalah orator ulung. Ucapan dan retorika keduanya cukup bisa memainan psikologi masa. Bedanya, jika Soekarno tampak berapi-api, Kyai Idham lebih kalem, meski sama-sama memiliki kekuatan. Sikap Kyai Idham ini sangat dipengaruhi oleh Kyai Wahab yang berperan dalam menentukan arah dan kebijakan partai. [T-Kh/001]