Membaca Perdamaian dalam Al-Qur’an

0
451

Judul                : Al-Qur’an Bukan Kitab Teror Membangun Perdamaian Berbasis Al-Qur’an

Penulis             : Dr. H. Imam Taufiq, M. Ag

Penerbit           : Bentang

Cetakan           : Kedua Maret, 2016

Tebal               : xxiv + 284 halaman

ISBN               : 978-602-7888-99-9

Peresensi        : Mukhamad Zulfa

Mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, aktif di jaringan pesantren Jawa Tengah. Bisa disapa @Mukhamad Zulfa.

 

 

Islam memilih lebih mengutamakan perdamaian dibandingkan dengan peperangan (QS. al-Anfal: 61). Perselisihan atau konflik cenderung lebih banyak mengeluarkan biaya. Disisi yang lain kita bersama harus terus menjaga perdamaian agar bisa melanjutkan peradaban yang sedang kita rintis.

Muhammad Arkoun (1928-2010) seperti yang diterangkan Suadi Putro (1998) menjelaskan bahwa Islam harus dipandang sebagai agama yang penuh dengan muatan-muatan spiritual demi kepuasan batin (rohani) manusia. Ia beragama karena kebutuhannya untuk mengingat Tuhan, bukan karena Tuhan ingin agar manusia mengingat-Nya. Jadi Islam merupakan tindakan suka rela sebagaimana tersirat dalam kata asalnya s-l-m, “menjadi aman, terjaga, utuh”. Seseorang tidak dapat menjalankan Islam demi orang lain, dan karena itu, dalam Islam pemaksaan keyakinan tidak diperbolehkan.

Menjadi Islam memiliki konsekuensi logis mengerjakan segala apa yang menjadi perintah dan menjauhi larangannya. Bentuk kepatuhan terhadap agama mutlak menjadi pedoman yang dikerjakan seorang muslim. Bila menilik lebih jauh ritual yang dikerjakan muslim tak jauh berbeda dengan agama-agama sebelumnya. Islam memiliki unifikasi dalam sistem keagamaannya. Terdapat segitiga keislaman, keimanan dan keihsanan ketiganya tak terpisahkan satu dengan yang lainnya saling melengkapi satu dengan yang lain.

Untuk mewujudkan perdamaian Islam memiliki lima pendekatan. Ini diterangkan pemikir muslim Abdul Aziz Said (2001). Pertama, menggunakan pendekatan kekuatan politik atau damai melalui paksaan kekuasaan. Kedua, pendekatan tatanan dunia atau damai melalui kekuatan hukum. Ketiga, pendekatan damai melalui kekuatan komunikasi. Keempat, melalui kekuatan kehendak tidak melakukan sesuatu berbasis kekerasan. Kelima, pendekatan transformasi damai melalui kekuatan cinta. (halaman 49-52)

Banyak varian untuk mempertahankan perdamaian. Tinggal bagaimana kita menggunakan langkah tepat dalam mengerjakan sebuah tindakan dengan meminimalkan kemudaratan. Selain itu, Islam mengajak dengan hikmah, perkataan yang baik dan berdiskusi (QS. al-Nakhl: 125). Pegangan seperti inilah yang harus kita perhatikan dalam berdakwah.

Keislaman seorang muslim berkaitan erat dengan bersyariah, beribadah hingga bermuamalah. Sedangkan fungsi iman manjadi penguat dan landasan dalam berbuat. Ibarat kita berkendara; iman merupakan pengendara itu sendiri; yang telah menyatu dalam dirimnya. Sedangkan bersyariat merupakan kendaraan itu sendiri bersama dengan rambu-rambu lalu lintas yang ada. Disisi yang lain keihsanan merupakan etika berkendara, bersopan santun dalam mengendalikan kita dalam bersyariat, tahap kepantasan dan proporsionalitas dalam berkendara.

Kiranya hanya dengan ihsan yang berbasis cinta seperti inilah ibadat dapat benar-benar jadi sumber spiritualitas yang memancurkan berkah melimpah bagi sesama, sementara keulamaan jadi sumber barometer moralitas luhur dan reformasi kemasyarakatan. Dengan demikian, agama kembali kepada perannya sebagai oase spiritualitas dan moralitas ditengah kemanusiaan yang berada dalam ancaman belakangan ini dan bukannya justru menuangkan bensin kepada kobaran api kekacauan kemanusiaan itu. Sudah waktunya Rukun Islam dan Rukun Iman dikembalikan kepada puncaknya: rukun Ihsan, pilar cinta agama. (Haidar Bagir: 2017)

Namun, dalam kehidupan tak mungkin damai terjadi terus menerus. Kadang terdapat konflik, mulai dari yang terkecil hingga menyebabkan perang antar negara. Konflik inilah yang harus kita kelola agar menjadi dinamika yang progresif, katalis yang bagus untuk mengembangkan masyarakat. Manajemen konflik menjadi penting menjadi cara untuk meredam sebab pecahnya sebuah kesatuan sebuah keluarga hingga negara.

Islam mengutuk (bentuk sebuah dosa) kekerasan baik dilakukan dalam bentuk egoisme, pertumpahan darah dan peredaran kekayaan hanya dalam orang kaya-kaya. Bahkan pemilik harta yang berlebihan akan dihukum oleh Allah (QS. al-Humazah: 1-9). Al-Qur’an memberikan banyak tawaran untuk menjaga perdamaian. Diantaranya, ucapan salam sebagai salah satu simbol muslim untuk menebar benih damai. Pembangunan mutual understanding dalam masyarakat hal ini bisa dijembatani dengan pendidikan, seminar, dialog, pengajian, musyawarah dan berbagai kerangka untuk menuju kebersamaan. Penegakan keadilan menjadi kepentingan bersama untuk bisa melindungi hak dan kewajiban sebagai warga negara dan pemerintah dengan baik.

Buku ini ringan untuk dibawa namun, berat untuk dipahami. Sehingga penyunting buku menyisipkan kisah, humor hingga pernyataan-pernyataan yang menyejukkan untuk mengurangi beratnya gizi buku. Selain itu, belum banyak contoh kongkret yang masuk sehingga pembaca harus memiliki gambaran sendiri bagaimana mengaplikasikan buku ini.