Kiai As’ad: Kader Penggerak Harus “Ta’ashshub” Kepada NU dan NKRI

1
214235
KH As’ad Said Ali (kanan) dan Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shadaqoh (kiri) di atas mobil dalam apel kesetiaan kader penggerak NU Jawa Tengah di pantai Petanahan Kabupaten Kebumen Jawa Tengah, Minggu (16/4/17) pagi. [Foto: Bams]

Kebumen, nujateng.com- Kader penggerak adalah orang NU yang punya komitmen tinggi terhadap NU dan Aswaja. Bisa dikatakan, orang yang ikut Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) adalah orang yang ta’ashshub (fanatik, red) kepada NU sekaligus NKRI.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2010-2015, KH As’ad Said Ali, dalam Apel Kesetiaan Kader Penggerak NU Jawa Tengah di pantai Petanahan Kabupaten Kebumen Jawa Tengah, Minggu (16/4/17) pagi.

Di hadapan puluhan ribu kader penggerak NU se Jawa Tengah, Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) periode 1999-2010 itu, menjelaskan bahwa dalam kehidupan beragama dan bernegara, kata ta’ashshub memiliki dua makna, positif dan negatif. Ta’ashshub bermakna positif apabila ukuran fanatik terhadap agama sama besarnya dengan fanatik kepada negara, dalam hal ini kesetiaan terhadap Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

“Kalau ta’ashshub hanya kepada agama, sehingga mengkafirkan orang-orang yang berbeda dan mengancam Pancasila, itu namanya ta’ashshub yang negatif,” jelasnya.

Melalui apel kesetiaan kader penggerak NU Jawa Tengah, penulis buku Al-Qaeda: Tinjauan Sosial-Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya itu berharap kepada para kader supaya benar-benar menjadi penggerak dan penopang NU dalam menjaga Islam ahlussunnah wal jama’ah dan NKRI. “Para kader harus senantiasa taat kepada para ulama, jangan sampai membentak, melototi ulama, kita harus manut kepada ulama,” pesannya.

Aksi 4 November

Bagi Kiai As’ad, belakangan warga NU kurang aktif dalam menjaga empat pilar kebangsaan. Hal ini salah satunya dibuktikan dengan adanya aksi 4 November, yakni Aksi Bela Al-Quran yang dikomando ormas yang anggotanya sangat sedikit, namun mampu memprovokasi orang-orang NU yang menempati jumlah mayoritas di negeri ini.

“Empat November kemarin, kita mayoritas tapi dipimpin minoritas. Malu, kita ini malu. Jangan sampai ke depan terjadi lagi,” tandasnya.

Dengan menggerakkan kembali para kader, warga NU diharapkan tahu siapa yang sesungguhnya menjadi lawan bagi orang-orang NU yang punya kewajiban menjaga Aswaja dan NKRI. Setidaknya, menurut Kiai As’ad ada dua lawan yang harus dipahami para kader, yaitu orang-orang yang mengkafir-kafirkan orang NU dan kaum sekuler yang mengancam Pancasila dan NKRI.

“Saingan kita sesungguhnya adalah orang yang mengkafir-kafirkan kita. Dalam al-Quran disebutkan: Idzhab ilâ fir’auna innahû thaghâ (Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas, red). Mereka adalah thagha (orang yang melampaui batas). Yang kedua adalah kaum sekeuler yang juga thagha,” paparnya. [AR/002]