Memahami Ide Dasar Kelompok Islamisme

0
435

 

Data Buku:

Judul               : Islam dan Islamisme

Penulis             : Bassam Tibi

Penerbit           : Mizan

Cetakan           : I, Agustus 2016

Tebal               : xxi +374

ISBN               : 978-979-433-968-8

Resensator       : Fakhrun Nisa’

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Dalam waktu 5 tahun terakhir ini, yakni setelah mencuat gerakan yang menyebut dirinya sebagai Islamic State of Syria and Iraq (ISIS) -yang di Timur Tengah sendiri lebih dikenal dengan akronim Daesh- sebenarnya memperkuat pesan utama Bassam Tibi dalam buku ini. Melalui karya yang merupakan hasil penelitian selama lebih dari tiga dekade ini, Tibi ingin mengatakan bahwa ada perbedaan mendasar antara Islam sebagai keyakinan dengan Islamisme sebagai politik keagamaan yang menggunakan simbol-simbol agama untuk tujuan politik belaka.

Pesan utama yang diusung oleh Tibi dalam buku ini tidaklah berlebihan. Kemunculan gerakan Daesh merupakan contoh nyata atas pemanfaatan simbol-simbol Islam untuk kepentingan politik. Siapa pun yang mempelajari Islam dengan jujur akan melihat perbedaan mencolok antara Islam dan praktik-praktik yang dilakukan oleh Islam radikal ini. Perilaku sadis dan brutal yang telah dilakukan oleh kelompok ini memperlihatkan secara jelas, betapa jauhnya perbedaan antara Islam dan Islamisme yang mereka usung sebagai simbol. Tindakan mereka telah merusak citra Islam sebagai agama pembawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Bahkan, kalimat “takbir” yang pada intinya mengungkapkan perasaan kerendahan hati hamba di hadapan kebesaran Ilahi, kini seperti berubah menjadi genderang perang.

Tibi mengidentifikasi bahwa ada enam tema yang menjadi dasar gerakan Islamisme, dimana ini membedakan dengan Islam sebagai keyakinan. Pertama, ambisi untuk mengubah tatanan dunia dengan daulah Islamiyyah. Gerakan Islamisme bukan semata tentang kekerasan, tapi di atas semuanya memiliki ambisi untuk mengubah tatanan dunia dengan berdasarkan konsep daulah Islamiyyah. Konsep ini menginginkan tatanan negara yang berdasarkan syari’at dan hakimiyyat Allah (pemerintahan Tuhan) untuk menggantikan kedaulatan rakyat (hal. 47).

Kedua, persepsi persaingan atas tatanan dunia melawan konspirasi Yahudi. Kelompok Islamisme berpandangan bahwa orang-orang Yahudi berambisi menguasi dunia. Mereka percaya bahwa orang-orang Yahudi memerintah dunia dari New York dan Washington, hingga sampai mereka memiliki persepsi anti-Amerikanisme. Oleh karena itu, tatanan dunia Islam yang dibayangkan oleh Islamisme merasa terancam oleh “dunia Yahudi” (hal. 67).

Ketiga, sikap terhadap demokrasi. Upaya misionaris Amerika untuk mendemokrasikan dunia Islam melalui perang Afghanistan dan Irak telah menempatkan Islamisme dalam suatu sikap yang sangat skeptis terhadap demokrasi. Hal ini selaras dengan konsep negara yang mereka usung sesuai dengan daulah Islaiyyah (negara Islam). Padahal di sisi lain, tidak diragukan lagi bahwa agama Islam sebagai sumber etika politik, dalam perjalanan reformasi agama, bisa eksis selaras dengan demokrasi (hal. 122).

Keempat, evolusi dari jihad klasik ke jihadisme teroris. Dalam Islam, jihad tidak hanya berarti “mencurahkan segenap daya upaya”, tetapi juga sebagaimana dalam al-Qur’an, yaitu implementasi qital yang berupa pertarungan fisik melawan orang-orang kafir demi membela Islam. Legitimasi dari al-Qur’an inilah yang kemudian dijadikan landasan melakukan kekerasan demi menegakan tatanan Islam bagi dunia. Evolusi jihad klasik jihadisme modern yang berupa perlawan melalui gerakan terorisme diluncurkan oleh Hasan al-Banna. Gerakan ini dimaksudkan unyuk mengembalikan siyadat al-Islam (dominasi Islam) dalam tatanan dunia (hal. 176)

Kelima, seruan untuk kembali kepada hukum syari’ah. Kelompok Islamisme menuntut untuk membentuk sebuah tatanan hukum negara yang berdasarkan syai’ah –hukum Tuhan sebagaimana yang telah diatur al-Qur’an secara tekstual. Dengan menggunakan syari’ah ini, seharusnya dijadikan sebagai konstitusi nasional, bahkan internasional dan untuk mengarahkan kode hukum yang disahkan oleh legislatif. Dengan demikian, klaim menurunkan hukum-hukum negara bukan dari musyawarah manusia, melainkan kehendak Allah. (hal. 209)

Keenam, aspirasi akan kemurnian yang diajukan sebagai klaim autenisitas. Kelompok pengusung gerakan Islamisme ini ingin memurnikan Islam dari budaya modern. Sehingga kelompok ini sangat menolak atas ide-ide dari Barat, bahkan mereka anti-Westernisme. Dalam pandangan mereka, apabila ada orang muslim yang mengikuti budaya asing dianggap sebagai muslim non-autentik –bukan lagi muslim autentik.. (hal. 236)

Dari keenam tema yang dikupas secara komprehensif dalam buku ini Tibi mengajak untuk memahami kontras dasar antara Islamisme dan Islam. Walaupun demikian, sejak tragedi 11 September, Islam secara terus-menerus mendapatkan sorotan negatif oleh dunia. Akibat anggapan negatif ini tidak hanya dirasakan oleh pengusung Islam Radikal, namun seluruh umat Islam pun ikut merasakan dampaknya. Hal ini tidak lain karena tidak banyak orang yang mengetahui atau mau membedakan antara Islam dan Islamisme.

Buku karya Tibi ini secara lugas memberikan pencerahan tentang perbedaan kedua istilah ini. Islam sebagai keyakinan yang di dalamnya mengandung ajaran mendasar tentang tatanan sosial adalah sebuah agama yang jauh lebih luas daripada Islamisme yang sempit. Ada banyak informasi menarik yang terdapat dalam buku ini dan tidak lupa sebuah gagasan yang sangat relevan tentang pentingnya membedakan Islam sebagai wahyu Ilahi dan realitas gerakan Islamis. Pesan buku ini semakin terasa relevan dalam satu dekade terakhir ini, khususnya setelah muncul dan menguatnya gerakan Daesh di Timur Tengah.