Kecemburuan Tuhan

0
1100

Oleh: Sophia Salim

Judul: Sedang Tuhan Pun Cemburu

Penulis: Emha Ainun Nadjib

Halaman: xii+444

Penerbit: PT Bentang Pustaka

Cetakan: Keempat, Februari 2016

ISBN: 978-602-291-079-4

 

Jauh lebih banyak dari kehidupan ini yang tidak saya pahami dibanding yang ala kadarnya bisa saya pahami. Dan diantara hal-hal yang musykil untuk saya pahami umpamanya adalah kehebatan mentalitas sebagian atau mungkin banyak laki-laki dan perempuan. Kehebatan mereka tatkala pacaran atau bersuami istri.

Ada seorang istri yang mampu, tahan, dan memaafkan suaminya bersenggama dengan perempuan lain di depan hidungnya. Mustahil saya sanggup memahami bagaimana perasaan sang istri melirik pergulatan itu, mendengar desah napas mereka, serta bunyi-bunyi lain yang bersifat 17 tahun ke atas diflucan tablets online.

Seorang suami menjual istrinya. Mengantarkannya pagi-pagi ke rumah prostitusi dan menjemputnya pada tengah malam. Suami lain mempersembahkan sisihan hidupnya kepada atasannya demi kepentingan yang jauh lebih sekunder dibanding cinta kasih dan kesetiaan.

dan betapa mungkin anda membayangkan bisa membina kasih dengan seorang artis yang bersedia berciuman dengan siapa pun yang ditentukan oleh skenario, produser, dan sutradara. Betapa mungkin anda membayangkan tipe psikologis lelaki yang bersedia beristrikan seorang bintang dengan penuh ketenangan mengatakan kepada wartawan: “buka baju dan telanjang pun oke, asal wajar…”. saya tidak mampu merumuskan “kewajaran” macam apa yang ia maksud. Mentalitas budaya macam apa yang dikandung rohani para perempuan negeri-negeri maju (meskipun tidak semua) yang dengan bangga memaparkan seluruh identitasnya dalam majalah yang dibaca puluhan juta orang lain.

Pada saat yang sama, seorang istri setiap hari sibuk menghitung spidometer mobil suaminya dan menginterogasi secara detail dan amat metodik apakah mobil di parkir di pasar atau di “sanggrahan”. Seorang menyimpan istrinya di rumah seperti menaruh celana pendek di almari atau botol bir di kulkas. Pada saat yang sama seorang pemuda menyelenggarakan pertengkaran berhari-hari dengan pacarnya karena gadisnya ngobrol sekian menit dengan lelaki.

Sesungguhnya kita berhadapan atau dilingkupi oleh berbagai gejala kecemburuan dan ketidakcemburuan dalam skala universal, lokal-kultural. Kecemburuan yang berasal dari “takdir”.

Menurut sebagian kaum sufi, Tuhan pun merasa cemburu pada orientasi-orientasi lain yang di”tuhan”kan oleh manusia. Kecenderungan itu sengaja ditumbuhkan di dalam diri-Nya karena di alam ide penciptaan makhluk-makhluk ini Tuhan memang berniat “main cinta” dengan hamba-hamba-Nya. Kecemburuan adalah bagian dari cinta, bagian yang tidak saja penting, tetapi juga memperindah proses cinta. Kecemburuan diperlukan ketika cinta kasih dikukuhkan maupun ketika dipelihara dan ditingkatkan.

Kecemburuan bahkan semacam “motor dialektis” dari tujuh cinta Allah yang bernama tauhid. Tauhid itu bukan menyatukan Tuhan karena Tuhan memang satu. Tauhid ada proses menuju Yang Satu. Tauhid elementer ialah menyebut Tuhan itu satu. Tauhid kehidupan ialah mengelola segala perilaku hidup, per manusia maupun qua-sistem, untuk dan menuju Yang Satu.

Itulah konteks cinta kasih Allah. Pelanggaran terhadap itu bernama syirik. Syirik tidak ditandai terutama oleh pengakuan bahwa Tuhan tak satu, tetapi lebih oleh tumpahnya jiwa tenaga dan konsentrasi manusia bukan kepada Allah, melainkan hal-hal lain yang sebenarnya remeh, misalnya pangkat keduniaan, kekayaan, popularitas, atau derajat-semat picisan lainnya.

Seorang istri yang mencemburui suaminya, dalam takaran yang tepat dan konteks yang pas, sesungguhnya sedang mewakili kecemburuan Tuhan. Lembaga pacaran yang sehat, lembaga persuami-istrian, posisi suami dan posisi istri sendiri, merupakan bagian dari “jalan tauhid”. Istri adalah jalan ke cinta Allah bagi suaminya, juga sebaliknya.

Demikian juga cinta manusia kepada perbuatan baik, kepada anak yatim (baik yatim sesungguhnya atau yang diyatimkan), kepada perlombaan ilmu yang sehat, kepada kerja sama “memayu hayuning bawono”, sebenarnya merupakan “kencan-kencan percintaan” manusia dengan Tuhannya.

Konteks percintaan dengan Allah lewat berbagai bentuk kebudayaan kebajiakan itu telah diterapkan oleh banyak agama, banyak filsafat yang dikejar dan ditemukan oleh manusia sendiri, serta banyak kebajikan dan kearifan kemanusiaan lain yang dirangkum oleh manusia secara intuitif maupun intelektual.

Konteks semacam itu tidak dikenal oleh para binatang. Hanya ayam yang memiliki kelayakan untuk menjantani babon ini, lantas tiga menit kemudian ganti babon itu. Hanya kuda yang dibawa ke sana kemari untuk menumpahkan benih. Hanya anjing yang punya ketenangan untuk mengangkang kencing di hadapan siapa saja. Hanya monyet yang mendemonstrasikan persenggamaan di hadapan “kamera mata” ribuan pengunjung kebun binatang.

Akan tetapi, bahkan burung mampu bersuami istri secara tertib dan memelihara nilai rohani kesetiaan.

Terkadang binatang lebih beruntung dibanding manusia. Dunia dan nilai mereka sudah niscaya dari awal sampai akhir. Sedang dunia manusia, suka menjebak diri dengan kebebasan yang dimilikinya atau yang ia peroleh dari Tuhannya. Manusia bebas memilih, termasuk memilih bunuh diri, melenyapkan standar-standar nilai kemanusiaannya sendiri, menjual istri sendiri, menyuruh akting di depan kamera tanpa pakaian.

Soal cemburu saja pun tak gampang dikelola oleh manusia.

Inilah esai Emha Ainun Nadjib yang menggambarkan kecemburuan Tuhan kepada manusia  di dalam buku ini.

Buku kumpulan esai karya Emha Ainun Nadjib (EAN) ini membuat kita merefleksikan betapa banyaknya pertanyaan-pertanyaan atas kehidupan.  Buku ini juga Membuat kita lebih mendekat kepada Tuhan yang menciptakan kita, bukan kepada “tuhan” ciptaan kita.

Harus kita akui bahwa membaca dan memahami buku ini tidak mudah. Selain 444 halaman (buku yang cukup tebal), ada banyak konteks yang harus kita pahami. Bahkan kita bisa membaca berulang kali hanya untuk memahaminya. Kecerdasan Emha Ainun Nadjib mengolah realita kehidupan yang dilihat untuk dituangkan kedalam tulisan memang layak untuk diapresiasi. Berikut sindiran dan solusinya seringkali sangat mengena dan pas.“Angkat topi” buat Emha Ainun Nadjib dan buku ini! Juaraa!!!