Peneliti Korea: Di Jawa Tengah, NU Memberi Rasa Nyaman

0
1581
Park Hee Cheol [berkacamata] sedang memberi paparan temuan penelitiannya. [Foto: Munif]

[Semarang, nujateng.com] Aktivis dan intelektual muda Nahdlatul Ulama di Jawa Tengah, banyak yang terpengaruh KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Baik dari sisi pemikiran aksi maupun aksinya. Karakter mereka tidak hanya sebagai kelompok yang memiliki penghargaan terhadap tradisi, memiliki diskursus intelektual yang terbuka, tapi juga pendamping terhadap kelompok-kelompok yang terdiskriminasi karena soal agama. Melalui aktivitasnya tersebut kelompok-kelompok minoritas seperti diberikan rasa nyaman.

Park Hee Cheol, alumnus Kangwon National University, Korea Selatan, menyampaikan hal tersebut dalam diskusi bulanan yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Lakpesdam Nahdlatul Ulama Jawa Tengah bekerjasama dengan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA). Diskusi yang digelar di Kantor eLSA itu juga menghadirkan Sekretaris PW Lakpesdam NU Jawa Tengah, Tedi Kholiludin sebagai pembanding.

Parkee, sapaan akrab Park Hee Cheol, melakukan penelitian terhadap kelompok muda NU Jawa Tengah di eLSA. Ia melihat bahwa banyak pemikiran Gus Dur memengaruhi mereka. “Ketika saya melihat, mengobservasi, sekaligus berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan mereka, pengaruh Gus Dur sangatlah kuat. Sebagai peneliti luar, saya tentu sangat ingin melihat bagaimana pengaruh itu bermula,” terang Parkee.

Pria asli Seoul itu melihat bahwa dalam prakteknya, kelompok muda NU Jawa Tengah ini memiliki empat karakter khas. Pertama, penghargaan kuat terhadap tradisi lokal. Kedua, menerima penafsiran kontekstual terhadap teks keagamaan. Ketiga, mendukung pluralisme. Keempat, melakukan advokasi terhadap kelompok minoritas.

“Dengan berpegang pada pada empat pola itulah, anak-anak muda ini melakukan kerjasama lintas agama, menebarkan Islam sebagai agama perdamaian,” kata Parkee yang menulis tesis dengan judul “Human-Centered Islam: Islamic Liberalism in an Indonesian NGO, eLSA.”

Sementara itu, pembicara lainnya, Tedi Kholiludin, memberikan apresiasi dan ucapan selamat atas kelulusan Parkee. “Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya terhadap tesisnya Parkee. Salah satunya adalah tiadanya analisa kritis dia terhadap aktivitas dan pemikiran teman-teman nahdliyyin yang ada di eLSA,” kata Tedi di pembuka presentasinya.

Tedi menambahkan, bahwa Parkee juga tidak terlalu ketat dalam membangun kerangka teoritiknya.

Meski demikian, ia mengaku tertarik dengan cara Parkee menulis tesis yang sangat naratif dan sangat hidup, sehingga mengajak pembaca untuk masuk pada situasi yang menjadi latar belakang tulisannya Parkee. “Disitu saya sesungguhnya ingin belajar pada Parkee. Dan saya yakin kemampuan itu didukung dengan pengalamannya yang sangat kaya tentang Indonesia,” tambah Tedi. [Abdus Salam/001]