Pesantren Amanat Terakhir Pertahanan Indonesia

0
1975
Cak Nun saat tampil di Ponpes Al Falah Salatiga didampingi pengasuh Ponpes Nyai, Lathifah Zoemri (kerudung coklat). Foto; Abdus Salam

Salatiga, nujateng.com – Hidup itu harus mempunyai kontruksi dan anatomi, seperti halnya dalam tubuh kita, jika kaki kanan gerak (jalan) ke depan maka kaki kiri akan berada di belakang, tidak mungkin akan bebarengan gerak ke depan bersamaan. Pandangan tersebut diungkapkan Emha Ainun Najib atau yang sering dikenal dengan Cak Nun dalam cara haul pertama KH. M. Zoemri RWS yang digelar di halaman Ponpes Al Falah, Rabu malam (21/9).

Lha Indonesia iki ora ceto kontruksine, menteri siji karo liyane bertentangan, sikil siji maju, sikil sijine yo pengen maju akhire kesrimpet dewe, nek sijine maju yo sijine nek mburi, dadi beriringan.  Negoro itu harus begitu aturannya,” jelasnya kepada para ribuan jamaah.

Cak Nun juga mengilustrasikan apa yang ada pada negara Indonesia, menurutnya martabat bangsa Indonesia saat ini letaknya hanya tinggal di pesantren, asalkan masih ada pesantren di Indonesia maka bangsa ini masih mempunyai martabat.

“Jadi amanat pesantren itu pertahanan terakhir umat islam dan bangsa Indonesia. Kalau toko-toko, kafe itu menjaga martabat atau tidak? Tinggal pesantren yang menjaga martabat, sekolah wae ora, sebab di sekolah itu gak penting apik, sek penting pinter. Kalau di pesantren nomor siji kudu apik,”tandas Cak Nun.

Tidak hanya itu, Cak Nun juga menambahkan bahwa urut-urutan kotruksi itu harus tepat, jangan sampai terbalik-balik. Sandang, pangan dan papan itu harus urut, tidak boleh dibolak-balik. Yang terpenting itu sandang, baru pangan terus papan.

“Ini menjadi dasar, cara gampangnya, begini, seng penting aku iso mangan ora duwe omah gak popo, semisal seperti lepek, cangkir dan tutupnya. Sirah- awak -sikil, jadi hidup itu harus anatomistik susunane kudu ceto,” tutur Cak Nun. (Abdus Salam/003)