Kitab Kuning Tetap Relevan Sepanjang Masa

0
1287
Dialog dengan tema "Fikih Sosial dari Pesantren untuk Bangsa" dalam rangka Pekan Kreatifitas Santri Nasional 2016 di Stadion Maguwoharjo Sleman Yogyakarta, (28/10). [Foto: Zulfa]

Yogyakarta, nujateng.com- Pengurus Wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (PW RMI) Nahdlatul Ulama Jawa Tengah bekerjasama dengan Fikih Sosial Institut (FISI) Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA) menggelar acara dialog dengan tema “Fikih Sosial dari Pesantren untuk Bangsa” di Stadion Maguwoharjo Sleman Yogyakarta, (28/10).

Acara yang menjadi rangkaian “Pekan Kreatifitas Santri Nasional 2016” ini menghadirkan Koordinator Departemen Pendidikan dan Kajian PW RMI NU Jawa Tengah Dr. Jamal Ma’mur Asmani, dan Peneliti FISI IPMAFA Ibu Nyai Hj. Tutik Nurul Jannah sebagai pembicara.

Dalam acara yang dipandu oleh pengurus RMI NU Jawa Tengah Mukhamad Zulfa itu, Nyai Tutik menyampaikan bahwa fikih sosial produk Kiai Sahal merupakan salah satu kontribusi pondok pesantren terhadap bangsa ini.

Fikih sosial Kiai Sahal tidak hanya berhenti dalam bentuk wacana, tapi telah diwujudkannya dalam aksi nyata. “Dalam bidang pendidikan, Kiai Sahal bersungguh-sungguh dalam mengelola Pondok Pesantren Maslakul Huda. Dalam bidang pendidikan, Kiai Sahal membangun Rumah Sakit Islam Pati. Dalam perekonomian, beliau mendirikan Bank Perkreditan Rakyat Artha Huda Pati,” paparnya.

Menurut dosen IPMAFA Pati itu, kepekaan sosial Kiai Sahal Mahfudh berangkat dari pemikirannya dalam memandang pondok pesantren yang harus selalu hadir di tengah masyarakat, serta memberikan solusi atas problematika-problematika yang ada di dalamnya.

“Kiai Sahal memiliki konsen dalam bidang pemberdayaan masyarakat melalui pesantren. Pesantren menurut beliau merupakan lembaga sekaligus sistem yang harus selalu bergerak,” jelasnya.

Kitab Kuning

Pembicara lainnya, Jamal Ma’mur Asmani, menjelaskan bahwa Kiai Sahal telah melakukan banyak lompatan-lompatan pemikiran pada zamannya. “Bagi Kiai Sahal, kitab kuning tetap relevan sepanjang masa dan tempat. Tidak hanya itu, baginya kitab kuning juga mampu menjawab tantangan zaman,” katanya.

Menurut Jamal, fikih sosial Kiai Sahal harus terus dipelajari dan dikembangkan dimasa yang akan datang. “Pemikiran Kiai Sahal yang tidak mendikotomikan antara kehidupan dunia dan akhirat sangat penting bagi terciptanya masyarakat yang baik. Bagi Kiai Sahal, kehidupan dunia dan akhirat saling menguatkan. Hal inilah yang harus terus kita pupuk untuk menguatkan pemikiran-pemikirannya agar tetap bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. [Zulfa/002]