Pengorbanan Manusia untuk Menuju Kesalehan [Khutbah Idul Adha 1437 H / 2016 M]

0
798
Menristek dan Dikti RI Prof. Dr. Muhammad Nasir, M.Si., Ph.D saat berkunjung di Kantor PWNU Jawa Tengah. [Foto: Munif]

Oleh: Prof click over here. Dr. Muhammad Nasir, M.Si., Ph.D

(Menristek dan Dikti RI)

=== الخُطْبَةُ الأُولَى ===

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

اْلحَمْدُلِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنسْتغْفِرُهُ وَنَعُوْذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أنْ لاَ إلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَه ُ- وَأشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هذَا الرَّسُوْلِ الْكَرِيْمِ. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْفَازَ الْمُتَّقُوْنَ


Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah menggerakkan hati kita berkumpul di sini untuk melaksanakan shalat Idul Adha dalam rangka mencintai-Nya. Bersamaan kehadiran kita di  sini, telah hadir ±1,4 juta jama’ah haji mancanegara di Mekkah, dimana 168.000 orang berasal dari Indonesia sambil melantunkan talbiyah menyambut panggilan Allah SWT. Semoga ibadah haji mereka diterima Allah SWT dan pulang kembali ke tanah air dalam keadaan sehat walafiat.

Hari ini kita merayakan satu dari dua hari raya yang telah disebutkan oleh Anas RA, ia berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki dua hari raya dimana mereka bersenang-senang di dalamnya di masa jahiliyah (yakni hari Nairuz dan Mahrajan merupakan pilihan para pembesar pada masa itu). Maka beliau bersabda: “Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang kalian besenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu, yaitu: Hari Raya Kurban dan Hari Idul Fithri”. (Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i dan Al-Baghawi).

Hari raya kurban ini merupakan momentum untuk mengenang salah satu episode kehidupan manusia agung yang diutus oleh Allah SWT menjadi Nabi dan Rasul, yakni Nabi Ibrahim as beserta keluarga beliau. Allah SWT telah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW agar kita semua sebagai umatnya mampu mengambil keteladanan dari Nabi Ibrahim AS.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.” (QS. Al-Mumtahanah, 4).

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah SWT.

Pengorbanan yang Membawa Keberkahan

Kehidupan keluarga Nabi Ibrahim AS bersama Siti Hajar dan Ismail dilalui dengan pengorbanan demi pengorbanan dalam rangka menjalankan perintah Allah SWT.

Nabi Ibrahim AS telah merindukan datangnya anak yang saleh selama 89 tahun, dan lahirlah Ismail dari rahim istri yang dicintai Siti Hajar. Namun tak berlangsung lama, beliau diperintahkan Allah SWT untuk meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di suatu lembah tak bertuan, Mekkah, yang tidak berpenghuni dan tak ada sumber air. Nabi Ibrahim AS meninggalkan jirâb, yaitu kantung yang biasa dipakai untuk menyimpan makanan. Kantung itu berisi kurma untuk keduanya. Juga meninggalkan siqâ` (wadah air) yang berisi air minum. Kemudian Nabi Ibrahim AS berpaling dan pergi. Hajar mengikutinya sembari berkata: “Wahai, Ibrahim! Kemana engkau akan pergi meninggalkan kami di lembah yang sunyi dan tak berpenghuni ini?” Hajar mengulangi pertanyaan itu berkali-kali, namun Ibrahim tidak menoleh, tak pula menghiraukannya. Kemudian Hajar pun bertanya: “Apakah Allah SWT telah memerintahkan engkau dengan ini?”. Ibrahim menjawab,“Ya.”. Mendengar jawaban itu, maka Hajar berkata: “Jika demikian, Allah SWT tidak akan meninggalkan kami”. Lantas Hajar kembali menuju tempatnya semula. Adapun Ibrahim, ia terus berjalan meninggalkan mereka, sehingga sampai di sebuah tempat yang ia tak dapat lagi melihat isteri dan anaknya. Ibrahim pun menghadapkan wajah ke arah Baitullah seraya menengadahkan tangan dan berdoa: Rintihan beliau kepada Allah SWT diabadikan dalam Al Qur’an:

رَبَّنا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَراتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim, 37).

“Tatkala Ismail mulai beranjak dewasa dan berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata kepadanya: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”. Isma’il menjawab: “Wahai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah SWT kepadamu; insya Allah engkau akan mendapati diriku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat 102).

Di dalam tafsir Qurthubi dan Baghawi disebutkan riwayat Ibnu ‘Abbas, beliau berkata: “Ketika keduanya akan melaksanakan perintah Allah SWT, dengan tulus dan tabah sang anak berkata: “Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak. Wahai Ayahku, singsingkanlah baju engkau agar darahku tidak mengotori baju engkau maka akan berkurang pahalaku, dan (jika nanti) Bunda melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih. Dan tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku agar terasa lebih ringan bagiku karena sungguh kematian itu amat dahsyat. Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali maka sampaikan salam (kasih)ku kepada Bunda, dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka lakukanlah”. (Saat itu, dengan penuh haru) Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Allah SWT”.

Kisah Ibrahim dan keluarganya ini memberikan pelajaran yang sangat dalam kepada kita bahwa pengorbanan akan melahirkan keberkahan. Dari pengorbanan Ibrahim dan keluarganya, Kota Makkah dan sekitarnya menjadi pusat ibadah umat manusia sedunia. Sumur Zamzam yang penuh berkah mengalir di tengah padang pasir dan tidak pernah kering. Dan puncak keberkahan dari itu semua adalah dari keturunannya lahir seorang manusia pilihan: Muhammad SAW, nabi yang menjadi rahmatan lil ’alamin. Hanya dengan pengorbananlah kita meraih keberkahan. Pengorbanan akan memberikan keberkahan bagi hidup kita, keluarga, dan keturunan kita. Pengorbanan akan melahirkan peradaban besar. Kisah para pahlawan yang berkorban telah membuktikan aksioma ini. Keteladanan ini hendaknya menjadi refleksi bagi kita bangsa Indonesia yang masih terus berjuang untuk mengatasi berbagai persoalan besar dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jama’ah yang Berbahagia.

Manusia Saleh dan Pendidikan

Sosok Nabi Ibrahim AS, keluarga dan perjalanan hidup mereka memberikan gambaran kepada kita pentingnya (i) ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki iman yang benar dan melakukan amal saleh, serta (ii) proses pendidikan (tarbiyah) yang tepat dalam manusia saleh tersebut.

Makna amal saleh yang kita maksudkan di sini adalah semua perbuatan (karya, kreativitas apapun) yang dilakukan dengan sengaja, penuh kesadaran yang sesuai dan memberi manfaat bagi diri pribadi, keluarga, masyarakat dan manusia secara keseluruhan, yang dilandaskan pada keimanan kepada Allah SWT dan sesuai tuntunan Nabi SAW. Karena itu ada kesalehan individu yang menunjukkan baiknya hubungan vertikal dengan Allah SWT, kesalehan sosial yang menunjukkan baiknya hubungan horizontal sesama manusia dan makhluk Allah lainnya, dan kesalehan profesi menunjukkan profesionalitas dalam setiap bidang yang dikerjakan.

Kerinduan Nabi Ibrahim AS agar dirinya digolongkan sebagai orang saleh (orang yang senantiasa beramal saleh, shalihin), serta wujudnya generasi saleh pelanjut perjuangan beliau menjadi harapan yang terus menerus dimohonkan kepada Allah SWT.

رَبِّ هَبْ لِي حُكْماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” (QS. Asy-Syu’ara 83).

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku [seorang anak] yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash-Shafat 100).

Negara-negara di dunia, terutama Indonesia, telah diberikan karunia yang besar oleh Allah SWT dengan berbagai sumber daya alam yang berlimpah, wilayah geografis yang luas membentang serta demografi penduduk yang beragam yang menjadi prasyarat menjadi negara maju. Indonesia memiliki berbagai keunggulan bahan tambang dan komoditi pertanian yang diekspor dengan nilai tambah minim. Sebagai contoh, Indonesia merupakan penghasil no 1 di dunia untuk kelapa sawit dan panas bumi, penghasil terbesar no 2 di dunia untuk timah, dan penghasil no 3 di dunia untuk kakao, karet, nikel dan beras. produsen kakao kedua terbesar dunia, dengan menyumbang 18 persen dari pasar global.

Banyak sumber daya alam yang dihasilkan di bumi Indonesia di ekspor ke luar negeri tanpa terlebih dahulu mendapatkan sentuhan teknologi untuk meningkatkan nilai tambahnya. Sehingga kita menjualnya dalam harga yang sangat murah, kemudian kita kembali mengimpor dengan harga yang lebih mahal produk derivatif yang dihasilkan dari barang yang kita ekspor sendiri. Percepatan penguasaan teknologi dan peningkatan kualitas SDM menjadi syarat mutlak untuk peningkatan daya saing dan percepatan proses industrialisasi. Bila tidak, seluruh nilai tambah komoditas bangsa kita akan terus dinikmati negara lain.

Untuk melahirkan SDM yang shalih ini maka proses pendidikan (tarbiyah) harus diperhatikan. Meskipun kemajuan pendidikan satu-satunya penentu, tetapi merupakan proses utama dalam transformasi dan perubahan (tahawwul wa taghayyur) menuju pembentukan manusia bermutu yang mampu memikul amanah Sang Pencipta dan merealisasikan tugas-tugas kemanusiaannya untuk membangun peradaban. Dalam Islam yang menjadi fokus proses pendidikan adalah apa yang ada pada diri manusia.

لَهُ مُعَقِّباتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذا أَرادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوْءاً فَلا مَرَدَّ لَهُ وَما لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ والٍ

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar-Ra’ad 11).

Proses itu dilakukan dengan tujuan agar terjadi perubahan fundamental pada dirinya, sehingga fitrahnya berkembang dengan baik. Tentu saja pencapaian tujuan ini menuntut aktivitas pendidikan yang komprehensif, menjangkau seluruh dimensi manusia, meliputi jasmani, rohani, dan akal. Adanya pendidikan yang dapat melahirkan SDM yang saleh ini sangat penting, karena kaum muslimin harus menjadi aktor utama dalam menunaikan amanah Allah SWT untuk mengelola dan memakmurkan bumi yang telah disediakan. Kita meyakini bahwa pengelolaan kekayaan bangsa di tangan-tangan orang yang saleh akan berhasil guna dan berdaya guna untuk kebaikan manusia keseluruhan karena memang kepada merekalah bumi ini diwariskan.

وَلَقَدْ كَتَبْنا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُها عِبادِيَ الصَّالِحُونَ

Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. (QS. Al-Anbiya 105).

Pendidikan juga merupakan pilar pokok dalam pembangunan bangsa. Seluruh negara yang telah berhasil mencapai kemajuan dan penguasaan teknologi dan peradaban diawali dengan pemberian perhatian yang besar terhadap pendidikannya. Inilah tantangan bangsa ini ke depan untuk melahirkan manusia saleh baik secara individu, sosial dan profesi.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah shalat idul adha yang dimuliakan Allah SWT.
Memberikan Kontribusi Kebaikan

Kehadiran seorang muslim saleh di tengah-tengah masyarakat Indonesia maupun dunia harus melahirkan kebaikan-kebaikan, memberikan solusi terhadap permasalahan yang berkembang. Mendorong terjadinya perubahan dan lahirnya banyak kebaikan. Bukan saja dia produktif dalam kebaikan, tapi juga mendorong produktifitas kebaikan di tengah-tengah masyarakat semakin meningkat. Sesuai dengan perintah Allah SWT yang menggambarkan secara menyeluruh profil orang yang sukses:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj 77).

Ayat ini adalah perintah untuk membangun hablum minallah (hubungan dengan Allah) yang kokoh melalui ruku’, sujud dan melakukan ibadah-ibadah sebagaimana kita banyak dianjurkan melakukannya dalam bulan yang mulia ini. Lalu dilanjutkan perintahnya dengan waf’alul khaira (perbuatlah kebaikan), agar kita memproduksi, melahirkan banyak kebaikan-kebaikan, la’allakum tuflihun, agar kalian menjadi orang-orang yang berhasil.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

=== الخُطْبَةُ الثَّانيةُ ===

اَللهُ اَكْبَرُ ,اَللهُ اَكْبَرُ ,اَللهُ اَكْبَرُ ,اَللهُ اَكْبَرُ, اَللهُ اَكْبَر,اَللهُ اَكْبَرُ ,اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا، وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا الله. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah Shalat Id Yang Dimuliakan Allah.

Dari uraian khutbah kita yang singkat pada pagi ini, dapat kita simpulkan bahwa merupakan suatu keniscayaan bagi kemajuan peradaban suatu bangsa tersedianya SDM yang saleh yang dihasilkan melalui pendidikan yang integratif. Dan keharusan kita untuk memproduksi berbagai kebaikan yang mengantarkan kita kepada kemenangan. Akhirnya marilah kita tutup ibadah shalat Id kita pada pagi ini dengan sama-sama berdo’a:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ. اْلأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْناَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ

اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ. وَافْتَحْ لَنَا فَإِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. وَاغْفِرْلَنَا فَإِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ. وَارْحَمْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. وَارْزُقْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ. وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ. وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الْجَاهِلِيْنَ. وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الْمُنَافِقِيْنَ. وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
اَللَّهُمَّ رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
اَللَّهُمَّ اَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ. وَاَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا. وَسَعْيًا مَشْكُوْرًا. وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا. وَعَمَلاً صَالِحًا مَقْبُوْلاً. وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ

اَللَّهُمَّ اَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى اْلأُمُوْرِ كُلِّهَا. وَاَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلأَخِرَةِ
اَللَّهُمَّ اَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ. وَانْصُرِ اْلاِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ. وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ. مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ. مِنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَآصَّةً. وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَكَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

**Khutbah ini akan disampaikan besok pada Hari Raya Idul Adha 1437 H / 2016 M di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).