Hasyim Asy’ari, Calon Anggota KPU

0
1265
Hasyim Asyari

Semarang, nujateng.com – Setelah setahun menjadi tenaga pengajar di Fakulas Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang, Hasyim Asy’ari mulai aktif dalam kegiatan Pemilu. Pada 1999, dia menjabat Sekretaris Presidium Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) untuk Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Seperti ditulis profile.merdeka.com, selain aktif sebagai pengajar, Hasyim juga juga menjadi peneliti di berbagai lembaga. Seperti BAPPENAS bidang hukum dan kelembagaan, peneliti pada Pusat Kajian Konstitusi, Fakultas Hukum, UNDIP, dan hingga saat ini sebagai salah satu konsultan di ‘Partnership for Governance Reform in Indonesia’.

Konsistensinya pada kajian dan aktivitasnya pada bidang hukum mengantarkan dia menjadi anggota  Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Tengah periode 2003-2008. Sejak September 2011 – April 2012, dia menjadi Ketua tim ahli prakarsa pendaftaran pemilih KPU. Dari pengalaman sebagai penyelenggara Pemilu 2009, dia begitu paham peran dan tugas KPU. Menurut dia, pasal-pasal dalam undang-undang pemilu harus tegas.

“KPU nantinya harus berkonsultasi dengan pembuat UU Pemilu agar KPU tidak salah tafsir dalam menerapkannya menjadi aturan untuk peserta Pemilu,” tegasnya, seperti dikutip merdeka.com, Sabtu (17/3).

Komandan Banser

Dia mencontohkan sering menimbulkan multitafsir pada Pemilu 2009 adalah aturan tentang konversi suara menjadi kursi. Selain aktif dan konsen dalam bidang Pemilu. Dari namanya, yang sama dengan salah pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia seperti memanggilnya untuk ikut aktif di NU.

Aktif di NU bukan hanya diikuti dalam hitungan tahun, sejak 1988 Hasyim aktif di Ikatan Putera Nahdlatul Ulama (IPNU) Cabang Kudus. Hingga saat ini, di NU dia diberi amanah sebagai Komandan Banser Jawa Tengah hingga 2014. Dalam menyampaikan ide-idenya tentang hukum dan konstitusi, Hasyim juga aktif menulis.

Tulisannya tidak hanya dalam bahasan yang serius yang dimuat dalam berbagai jurnal, namun juga merabat ke berbagai media nasional hingga lokal. Tidak ketinggalan juga karya-karya dalam bentuk buku, baik yang ditulis sendiri maupun gabungan.

Ragam tema bahasan tulisannya tidak hanya stagnan pada kajian hukum dan Pemilu semata, dia juga konsisten dengan isu-isu perempuan, dankajian tentang Islam. (Ceprudin/003)