KH Khammad Ma’sum Al Hafidz, Padupadankan Ilmu Fikih dengan Kondisi Kekinian

0
1352
KH Khammad Ma'sum Al Hafidz

 

Semarang, nujateng.com- Murah senyum kepada semua orang yang dijumpainya. Bahkan, sosok bapak tiga anak ini tidak terlihat jika dirinya merupakan penghafal Alquran. Salahsatu pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Quran Jalan Kauman Glondong Nomor 352 ini sehari-hari juga beraktifitas sebagai pedagang dan jasa konstruksi.

Alumni Fakultas Teknik Undip ini pun mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan non formal di pondok pesantren, tetapi ilmu agamanya termasuk proses menghafal Alqurannya dibimbing langsung oleh sang bapak, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Quran, KH Turmudzi Taslim.

”Saya menghafal Alquran mulai kelas 2 SMP dan Alhamdulillah selesai ketika lulus kuliah. Kemudian disahkan oleh KH Harir Muhammad, pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Quran BUQ Betengan, Demak,” tuturnya saat ditemui di Masjid Agung Semarang.

Suami dari Tutik Kushidayati (45) kelahiran Semarang 13 September 1968 ini pun sehari-hari juga mengajar para santri ilmu fikih dan Alquran. Dalam mengajarkan ilmu fikih melalui kitab kuning, Gus Mad, sapaan akrab KH Khammad Ma’sum, selalu memadupadankan dengan kondisi kehidupan terkini.

Misalnya, terapan ilmu fikih dalam kasus bayi tabung, penggunaan Alquran dalam gadget atau smartphone hingga persoalan-persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Seperti membangun kekerabatan dengan masyarakat di Kauman secara psikologis agar pesantren menjadi lebih kuat. Hingga kajian terkait bunga bank.

Bapak dari Jihan Nafisah (20), Farah Salsabila (16) dan Refa Nabila (13) ini juga sering nampak mendampingi masyarakat yang sedang dilanda masalah. Misalnya kasus penggusuran warga Kampung Kebonsari beberapa waktu lalu.

”Saya juga yang pertama kali mengupayakan kembalinya bandha masjid Kauman. Karena, bandha masjid ini adalah hak umat, tidak boleh disalahgunakan, dan harus dikembalikan. Alhamdulillah, beberapa sudah kembali dan menjadi bermanfaat, salahsatunya tanah yang sekarang berdiri Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT),” kata Gus Mad yang juga pengurus Takmir Masjid Agung Semarang ini.

Sebagai pondok pesantren salaf (tradisional), imbuh Gus Mad, santri yang menetap di asrama tidak diperbolehkan melakukan kegiatan rutin selain mengaji Alquran dan kitab-kitab klasik. Artinya, santri yang menetap tidak diperbolehkan sekolah, kuliah, ataupun bekerja. Tetapi, pesantren mengusahakan pendidikan keterampilan yang bermanfaat sebagai bekal hidup tanpa mengganggu kewajiban mengaji.

”Waktunya full untuk gladi hafalan kitab suci. Mereka harus setor hafalannya kepada ustad tiga kali sehari, pagi, sore dan malam. Menghafal langsung di depan guru atau sorogan,” jelasnya.

Waktu yang dibutuhkan untuk menghafal Alquran pun tidak terlalu lama. Bisa tiga atau empat tahun rampung, tapi tergantung pribadinya. Rata-rata tujuh tahun. Usai lulus dari pondok, banyak yang kembali melanjutkan ke sekolah formal atau menjadi pemimpin agama di kampung halaman.

Sebagaimana umumnya pondok hafalan Alquran, standar keilmuan di pesantren juga ketat. Pengasuh hanya memberi ijazah kepada penghafal yang benar-benar bagus bacaannya, benar makhroj-nya, dan tajwid-nya. Jika memenuhi, berhak menyandang titel Alhafidz. (Kang Syukron/003)