RMI Jateng Serukan Kebersihan Pesantren

0
789
Ketua Pengurus Pusat RMI NU KH Abdul Ghaffar Razin.

Salatiga, nujateng.com- Dalam rangka memperbaiki citra pesantren yang selama ini dipahami sebagian orang sebagai tempat yang kumuh, Pengurus Wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama Jawa Tengah menggelar kegiatan ‘Pesantrenku Bersih Pesantrenku Keren (PBPK)’ di lima pondok pesantren di Jawa Tengah, yaitu Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Kabupaten Blora, Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam (PPTI) Al-Falah Kota Salatga, Pondok Pesantren Al-Qura’aniyyah Kabupaten Kendal, Pondok Pesantren Maslakul Huda Kabupaten Pati, dan Pondok Pesantren Raudlatul Mubtadi’in Jepara.

Kegiatan yang menjadi kelanjutan dari ‘Gerakan Ayo Mondok’ itu berlangsung secara bergilir selama bulan Mei 2016. “Ketika masyarakat sudah terpengaruh dengan gagasan pesantren itu kumuh, masyarakat akan berpikir dua kali ketika hendak memasukkan anak, saudara dan kerabatnya ke pesantren. Bahkan ada sebagian masyarakat yang takut jika anaknya di pesantren akan terkena kudis (gudik),” tutur Ketua RMI NU Jawa Tengah Gus Miftah dalam sambutannya pada acara ‘Training Housekeeping Pesantren dalam rangka Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat Pesantrenku Keren’ di PPTI Al Falah Kota Salatiga, Kamis-Jumat (5-6/5).

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Mubtadi’in Jepara itu menjelaskan, bahwa kegiatan tersebut sebagai usaha RMI dalam membenahi pesantren khususnya bidang kebersihan. “Sehingga tidak ada lagi rumor kumuh di pesantren dan agar gerakan ‘Ayo Mondok, Pesantrenku Keren’ dapat terlaksana,” jelasnya.

Santri Kosmopolit

Hadir sebagai pembicara, Ketua Pengurus Pusat RMI NU KH Abdul Ghaffar Razin. Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan tiga poin penting yang harus dimiliki pesantren, yaitu: pemikiran pesantren, pendidikan pesantren, dan kemampuan fisik pesantren yang mencakup kebersihan dan rasa nyaman.

“Jaman saya mondok dulu, mau ke toilet saja harus berjalan 3 meter dari pesantren. Harus bawa air dari sumur dan berjalan melewati pepohonan bambu yang gelap. Kalau sudah malam nggak berani kecuali mendesak,” kenangnya.

Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah (Staimafa) Pati itu sangat bersyukur dengan keadaan pondok pesantren sekarang yang semuanya serba mudah. “Karena itu saya juga sangat mendukung adanya gerakan ‘Ayo Mondok, Pesantrenku Keren’. Tujuannya agar pondok pesantren lebih dikenal di masyarakat, dan juga untuk membentuk santri kosmopolit. Tidak hanya di Negara Indonesia atau Asia saja, tetapi di seluruh penjuru dunia,” harapnya. [Evie Yunianti-AR/002]