PWNU Jateng Terima Staf Kedubes Jepang

0
906
Yamamoto Hiroko (ketiga dari kanan) dan jajaran pengurus PWNU Jawa Tengah. [Foto: PWNU]

Semarang, nujateng.com– Sekitar 200 lebih warga negara Jepang tinggal di Kota Semarang dan sekitarnya. Mereka bekerja di pelbagai sektor, termasuk banyak diantaranya mahasiswa yang sedang menempuh studi di beberapa perguruan tinggi di Jawa Tengah. Kedutaan besar Jepang di Indonesia, tentu memiliki kepentingan untuk memastikan bahwa keberadaan mereka di Indonesia secara umum, bisa terjamin keamanannya.

Hal tersebut diungkapkan sekretaris bidang politik dan keamanan Kedutaan Besar Jepang, Yamamoto Hiroko saat berkunjung ke kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Jum’at (13/5) lalu. Di kantor PWNU, Yamamoto diterima oleh Ketua PWNU, Drs. H. Abu Hapsin, Ph.D, Sekretaris PWNU, Dr. M. Arja Imroni, Wakil Rais Syuriyah, Drs. H. Muhammad Adnan, MA dan Sekretaris PW Lakpesdam NU, Tedi Kholiludin.

Dalam kesempatan itu, Yamamoto meminta masukan kepada PWNU mengenai peta kehidupan keagamaan di Jawa Tengah. Situasi tentang kehidupan keagamaan ini menjadi bahan masukan yang berharga bagi Kedubes untuk merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan kehidupan warga mereka yang ada di Indonesia.

“Jawa Tengah memiliki karakter yang khas dalam pola pemahaman keagamaan masyarakatnya. Dan sebagian besar diantaranya pola ini sepaham dengan nilai kebangsaan. Kelompok radikal memang ada, tetapi sesungguhnya kecil secara kuantitas. Hanya saja memang perlu diwaspadai aktivitasnya,” papar Abu Hapsin.

Saat disinggung soal perkumpulan masyarakat Jepang yang ada di Jawa Tengah, Yamamoto mengaku akan segera meminta mereka untuk silaturahmi ke PWNU Jawa Tengah. “Di setiap wilayah ada strukturnya. Kami akan meminta mereka yang ada di Jawa Tengah untuk sowan ke Pak Abu,” terang alumnus Sastra Indonesia tersebut

Menurun

Sejarah hubungan Indonesia dan Jepang memang terjalin lama. Itu sebabnya mengapa cukup banyak Indonesianis asal Jepang. Sebut saja misalnya, Akira Nagazumi, Takashi Shiraisi, Aiko Kurasawa dan lain-lain. “Karya-karya mereka cukup otoritatif. Kalau mau bicara soal Budi Utomo pasti Nagazumi adalah rujukan utamanya,” sambung Tedi Kholiludin.

Yamamoto menyadari tentang situasi intelektual tersebut. Namun pihaknya mengakui bahwa geliat masyarakat Jepang untuk studi tentang keindonesiaan tidak sekuat tahun 1960-1990an. “Ada situasi politik yang memang berpengaruh terhadap kehidupan para akademisi. Jika dulu hubungan bilateral itu banyak dilakukan, sekarang negara-negara relatif membangun relasi yang multilateral. Sehingga seorang yang belajar tentang Indonesia juga harus paham Malaysia, Thailand dan lainnya. Jadi yang studi tentang Indonesia sesungguhnya tetap ada, tapi mungkin tidak sebanyak dulu,” Yamamoto menambahkan. [TKh/001]