NU Harus Jadi Garda Depan Lawan Gerakan Radikal

0
1063
SAMPAIKAN TAUSIAH: Pengasuh Pondok Pesantren Al Ishlah Meteseh, Tembalang, KH Budi Harjono menyampaikan tausiah dalam Peringatan Isro Mi'roj Nabi Muhammad SAW NU Ranting Jambu. [Foto: Kang Syukron]

Semarang, nujateng.com- Sambil melambaikan tangan ke kanan dan ke kiri, ratusan warga yang menghadiri Peringatan Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW Pengurus NU Ranting Jambu, Desa Jambu, Kecamatan Jambu terus melantunkan shalawat yang dipimpin oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al Ishlah Meteseh, Tembalang, KH Budi Harjono di sela-sela memberikan tausiahnya, Kamis (5/5) malam.

Lambaian tangan warga pun terlihat seiring dengan alunan alat musik grup Swara Kalimasada dari Ampel, Boyolali. Nampak Camat Jambu Agus Susilo Utomo, Kepala Desa Jambu Rohmat Subintoro, KH Ahmad Fauzi, KH Turhamun, KH Muharom, KH Ali Taman, Kyai Achmad Shodiq juga turut serta melambaikan kedua tangannya.

Akan tetapi, beberapa warga yang berada di samping kanan dan kiri panggung hanya melantunkan shalawat, karena tangan kanannya mengabadikan tarian sufi dua santri Pondok Pesantren Al Ishlah dengan kamera ponsel.

Peringatan Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW yang berlangsung di depan SD Negeri Jambu 01 itu tidak hanya menghadirkan KH Budi Harjono sebagai penceramah, akan tetapi KH Miftah asal Dusun Klepon, Desa Jambu hadir memberi ceramah pertama kali.

”Warga NU Desa Jambu harus mewaspadai kaum radikalis. Jangan mudah tercerai, warga harus galang kekuatan dan menjadi garda depan dalam melawan gerakan radikalisme,” tutur KH Miftah.

Hal senada juga disampaikan pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Jambu, Kyai Achmad Shodiq. Warga Jambu saat ini harus tetap berpegang teguh kepada Alquran dan Hadis.

”Apalagi anak-anak muda sekarang. Kalau memiliki pertanyaan soal keagamaan, jangan ke google meski telah menguasai teknologi, tetapi kepada para kyai dan ulama,” ujarnya.

KH Budi Harjono pun mengingatkan, NU sebagai organisasi sosial keagamaan sejak didirikan oleh para kyai terus menjaga NKRI dari gerakan merongrong ideologi negara.

”NU sebagai kelompok tradisional justru sampai hari ini tetap solid. Hadirnya kelompok modernis dan radikal jangan dicontoh, karena tidak sesuai dengan budaya dan peradaban kita,” katanya.

Apalagi, kata Budi Harjono, Islam yang masuk ke Indonesia tidak melalui kekerasan dan pemaksaan, tetapi melalui persuasi budaya. Karena, bangsa Indonesia memiliki karakter yang bisa menerima Islam rahmatan lil alamin.

”Ajakan para kyai untuk istighotsah harus disambut, karena dapat membiasakan lidah dan mulut bertutur yang baik dan benar,” tandasnya.

Menyinggung peristiwa Isro’ Mi’roj, Budi Harjono pun mengisahkan jejak Nabi Muhammad SAW yang mengalami proses ikhtiar yang penuh dengan suka dan duka, demi sebuah kemulyaan.

”Kemulyaan yang dicapai Nabi Muhammad SAW tanpa proses yang instan, begitu juga Indonesia yang merdeka. 350 tahun dijajah Belanda, kemudian Jepang dan komunisme. Bentuk penjajahan sekarang melalui berbagai sektor. Termasuk pertanian. Padahal, tanah kita ini ditanami apa saja, subur, dan kaya raya,” paparnya.

Di sela tausiahnya, Kyai Budi pun meminta Camat Jambu Agus Susilo Utomo menyerahkan 10 bibit tanaman kepada perwakilan jamaah yang hadir. Sambil berpesan, tanaman-tanaman itu dirawat agar memberikan hasil dan manfaat bagi masyarakat. [Kang Syukron/002]