Polda Jateng: Teroris Banyak Yang Dari Jawa Tengah

0
954
Seminar ‘Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-Isu Terorisme’. Foto: Abdus Salam

Semarang, nujateng.com- Terorisme adalah kejahatan transnasional, kejahatan yang terorganisir, melibatkan semua negara. Karena itu dunia harus bersama-sama memerangi kejahatan ini. Kita tidak bisa memeranginya sendiri.

Pandangan tersebut disampaikan Kepala Bagian, Analis Dit Intelkam Polda Jawa Tengah, Bambang Purwadadi dalam acara ‘Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-Isu Terorisme’ yang diadakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah di Hotel Semesta Jl KH Wahid Hasyim No 125-127 Semarang, Kamis (21/4).

Bambang menjelaskan, terorisme bermula dari radikalisme. Karena itu perekrutan anggota teroris juga bermula dari kelompok-kelompok pengajian yang berpaham radikal.

“Orang-orang yang kelihatan militan dalam pengajian, lalu didekati, didoktrin dengan nahi munkar (mencegah kemunkaran, red), lalu diajak ke tempat hiburan supaya menyaksikan kemungkaran secara langsung. Dari sini kemudian, seseorang akan melakukan sweeping, hingga pada akhirnya ada yang melakukan aksi bom bunuh diri,” paparnya.

Di Jawa Tengah sendiri, kata Bambang, ada banyak teroris, baik yang melakukan aksinya di Jawa Tengah maupun di luar Jawa Tengah. “Akar dari terorisme adalah radikalisme. Di Jawa Tengah ini radikalisme tinggi,” katanya.

Preman Bertato

Meski kelompok radikal kerap menggunakan istilah-istilah agama seperti nahi munkar dan jihad, namun pada kenyataannya banyak yang badannya bertato.

“Sebagai contoh pada tahun 2008 kita bisa mengamankan kelompok radikal di Surakarta. Pada saat itu mereka mengatasnamakan ormas Islam. Kemudian melakukan sweeping di Surakarta, pakai cadar, bawa senjata tajam, melakukan penganiayaan, yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia. Setelah kita melakukan penangkapan, ternyata di dalamnya ada orang-orang yang gambarnya ada di foto ini (orang-orang bertato, red),” jelas Bambang sembari menunjukkan foto-foto kelompok radikal yang badannya bertato.

Hal ini paradoksal dengan slogan-slogan agama yang biasa diteriakkannya. “Bekas preman. Preman kalo pensiun, bagus. Tapi kalau masih melakukan tindak kekerasan lagi berarti belum insaf. Tidak dibenarkan di negara kita melakukan tindakan kekerasan,” tegasnya. [AR/003]