NKRI Itu Warisan Para Ulama

2
959
Apel Banser GP Ansor Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes dalam rangka memperingati Harlah GP Ansor ke 82 di halaman SMA Walisongo Jl Sudirman Ketanggungan Brebes, Minggu (24/4/16). [Foto: Ahmad Fauzan]

Brebes, nujateng.com- Kemerdekaan Indonesia adalah perjuangan para ulama. Dulu perang 10 November di Surabaya diawali Resolusi Jihad NU yang disuarakan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari selaku Rois Akbar Nahdlatul Ulama.

Hal itu disampaikan Dr KH Faris Fuad Hasyim dalam ceramahnya pada acara tabligh akbar dalam rangka memperingati Harlah GP Ansor ke 82 yang diselenggarakan Pengurus Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes di halaman SMA Walisongo Jl Sudirman Ketanggungan Brebes, Minggu (24/4/16).

Lebih jauh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Arifah Buntet Cirebon itu menjelaskan, bahwa Indonesia didirikan oleh para ulama. Resolusi Jihad merupakan salah satu bukti nyata keterlibatan para ulama dalam kemerdekaan.

“Kakek saya sendiri, Mbah KH Abbas Abdul Djamil dari Buntet, ditunjuk sebagai panglima perang oleh KH Hasyim Asy’ari dalam perang 10 November di Surabaya. Makanya kalian kader Ansor, Banser, sebagai benteng ulama harus menjaga NKRI sebagai warisan para ulama,” pesannya.

Menurut Koordinator Acara, Ahmad Fauzan El Azizi, tabligh akbar ini bagian dari serangkaian acara Harlah GP Ansor yang diadakan PAC GP Ansor Kecamatan Ketanggungan. Sebelum tabligh akbar, telah dilangsungkan acara ‘Halaqoh Aswaja’ dengan menghadirkan KH Marhadi Muhayar Lc., MA., atau akrab dikenal dengan nama Syaikh Idahram sebagai pembicara.

Selain itu juga diadakan apel Banser yang diikuti sekitar 150-an Banser dari berbagai ranting. “Semoga ini menjadi tonggak kebangkitan NU di wilayah Kecamatan Ketanggungan khususnya, serta bisa menjalar ke wilayah lain di Kabupaten Brebes pada umumnya,” kata Fauzan kepada nujateng.com.

Ketua Panitia, Fadholi HM S.Ag., dalam sambutannya berharap, kegiatan-kegiatan serupa baik dalam bentuk tabligh akbar maupun halaqoh yang bertema tentang ke-NU-an bisa terus dilaksanakan, terutama di dalam hari-hari besar Islam atau NU. “Kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan setiap momen-momen penting NU agar warga nahdliyin Ketanggungan makin lebih hidup ghirahnya (semangatnya, red),” jelasnya. [Ahmad Fauzan-AR/002]