Habib Umar: Jihad Itu Di Jalan Allah, Bukan Di Jalan Thamrin

0
829
Habib Umar Mutohar menyampaikan tausiah pada acara Dies Natalis Unnes dengan gema bersholawat, Sabtu (16/4). Foto: Ceprudin

Semarang, nujateng.com Habib Umar Mutohar menyampaikan dengan tegas bahwa perilaku teroris bukan termasuk jihad yang diridhoi Allah. Hal itu ia sampaikan karena banyaknya jamaah yang bertanya mengenai terorisme setelah kejadian teror di pusat keramaian di Jalan MH Thamrin Jakarta.

”Saya jawab begini, ’teroris itu masuk pada Jihad ndak?’. Ada yang tanya kepada saya, jihad di Jalan Tamrin kemarin jihad apa ndak? Saya tegas jawab, itu bukan jihad, jihad itu dijalan Allah, bukan dijalan Thamrin,” tegas Habib, pada acara Dies Natalis Universitas Negeri (Unnes)Semarang, Sabtu, (16/4) malam.

Berdasarkan itu, ia berpesan kepada seluruh jamaah sholawat supaya dalam belajar agama tidak sembarangan. Menjadi mahasiswa harus pandai-pandai mencerna pengetahuan dan informasi. Mahasiswa yang sedang haus-hausnya dengan pengetahuan menjadi rawan disusupi paham yang salah.

”Berawal dari paham yang salah itu, maka menimbulkan salah paham dan perselisihan.  Karena itu ben kampuse berkah lan lanfaat, mari bersholawat. Nek kampuse berkah lanfaat, maka lulusan-lulusane yo berkah lanfaat. Kalau mahasiswa tidak dikenalkan sholawat, tidak dikenalkan ulama bisa-bisa masuk pada golongan sing pahame salah,” papar Habib.

Peran Guru

Habib juga menyinggung peran dosen yang berperan sentral dalam mendidik mahasiswa. Hematnya, jika gurunya menganut paham yang salah, maka tak mustahil jika muridnya juga ikut-ikutan paham yang salah. ”Jika gurunya salah, maka muridnya juga salah. Karena itu belajar ilmu agama harus hati-hati,” tambahnya.

Habib menyampaikan, tegaknya agama karena adanya empat pilar atau tiang. Tiang pertama, ketika ditengah masyarakat itu ada orang-orang pintar intelektual yang mau mengamalkan ilmunya.

Tiang kedua, ada orang-orang yang terus menerus belajar, tapi bersamaan dengan ketinggian ilmunya itu semakin bertakwa kepada Allah. ”Jangan sampai orang semakin pintar itu semakin sombong,” pesannya.

Tiang ketiga, ada orang yang kaya yang mau berjuang atau menyumbang perjuangan dijalan Allah. ”Keempat, ada orang yang tidak punya tapi tetap teguh dan konsisten tidak tergoda harta,” sambungnya.

Habib juga berpesan kepada seluruh mahasiswa ketika mempunyai keinginan untuk sukses maka harus rajin sholat malam. Hematnya, mendapat gelar sarjana saja itu tidak cukup, tapi harus dibarengi dengan kemanfaatan di masyarakat.

”Kalau pengen jadi sarjana, sing genah usahane, melek bengi, belajar dan sholat tahajud ya berdzikir. Insya Allah jadi sarjana yang sarjono. Kalau sarjono itu melamar sana sini ditompo. Jadi tak cukup hanya dengan sarjana. Kegiatan seperti ini sepertinya spele, tapi sangat bermanfaat karena mengingat Nabi Muhmmad SAW,” tandasnya Habib. [Ceprudin/003]