Al-Quran Bukan Kitab Kekerasan

0
667
Wakil Rektor II UIN Walisongo Semarang, Dr H Imam Taufiq menyerahkan buku karyanya “al-Quran Bukan Kitab Teror” pada bedah buku di aula I Kampus I UIN Semarang, Rabu, (20/4) lalu. Foto: Dokumentasi

 

Semarang, nujateng.com – Wakil Rektor II UIN Walisongo Semarang, Dr. H. Imam Taufiq menegaskan bahwa al-Quran bukan kitab teror. Al-Quran bukan kitab “sponsor” kekerasan atasnama agama. Kitab suci umat Islam ini justru sumber ajaran kedamaian serta ketundukan.

“Buku ini merupakan pengukuhan Islam sebagai agama yang secara esensial bermakna ketundukan dan kedamaian. Pemahaman terhadap al-Quran tidak semata-mata dilihat secara tekstual, tetapi juga sejarah dan konteksnya,” pada acara bedah buku “al-Quran Bukan Kitab Teror” di aula I Kampus I UIN Semarang, Rabu, (20/4) lalu.

Buku yang dibedah oleh UIN Semarang ini merupakan karya Dr Imam Taufiq. Hadir pada kesempatan itu para civitas akademik UIN Semarang. Pengasuh pesantren B-Songo ini menyampaikan bahwa al-Quran mengandung pesan damai sejak diajarkan Nabi Muhammad 14 abad yang lalu.

“Al-Qur’an yang dianggap sebagai kitab teror itu merupakan pemikiran sempit. Mereka belum memahami sepenuhnya tentang ajaran al-Qur’an. Al-Quran secara fitrah tidak mengajak pada kekerasan. Nabi Muhammad SAW selalu mengajak pada kedamaian dan berbuat baik kepada sesame,” terangnya.

Pakar tafsir alumnus Al-Azhar Mesir, Leiden University Belanda, dan Freie Universitat Berlin Jerman Dr Phil Munirul Ikhwan yang menjadi narasumber menyampaikan al-Quran kerap disalahgunakan untuk tidak kekerasan.

“Ada fakta-fakta kekerasan yang mengatasnamakan agama, banyak orang-orang Islam melakukan kekerasan dengan landasan ajaran agama. Bahkan al-Qur’an menjadi justifikasi terutama tentang terorisme, kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan di masyarakat,” katanya.

Narasumber lainnya, Munirul Ikhwan membedah buku tersebut dengan perspektif tradisi keilmuan di Barat. Keterkaitan al-Quran dengan perdamaian dan kekerasan, menurutnya, lebih merupakan fenomena modern. Meskipun kekerasan  pada zaman dulu juga ada, tapi belum seheboh sekarang. “Bagaimanapun konflik itu sunnah kehidupan, hanya bagaimana umat Islam perlu menyikapinya,” jelasnya.

 

Menjustifikasi Kekerasan

Pendiri Gerakan Peace Generation Jakarta, Irfan Amali yang juga menjadi narasumber pada kesempatan itu menyoroti fenoma al-Quran yang kerap “dimanfaatkan” oleh kelompok tertentu untuk menjustifikasi kekerasan.

Menurutnya, materi informasi yang menyebar sangat cepat pada era kontemporer ini harus diwaspadai. Hal itu karena kekuatan teknologi dapat dimanfaatkan untuk menginisiasi kekerasan oleh pihak tertentu. “Agama sama, kitab juga sama, tapi inspirasinya bisa beda,” ungkapnya.

Wakil Rektor I UIN Walisongo Dr H Musahadi yang berkesempatan hadir menyampaikan apresiasi tinggi terhadap terbitnya buku “Al-Quran Bukan Kitab Teror”. Menurut mantan Wakil Dekan I Fakultas Syariah, buku tersebut menjadi penting kehadirannya dalam kerangka visi besar UIN Walisongo untuk spirit humanity (kemanusiaan) dan civilization (peradaban).

“Bagaimanapun kemanusiaan dan peradaban tidak terwujud jika kita tidak damai atau hidup ini penuh teror,” tuturnya.

Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Dr H Muhsin Jamil menyatakan bahwa acara bedah buku ini merupakan kontribusi akademik dalam rangkaian dies natalis UIN Walisongo ke-46.

Menurutnya karya Dr Imam Taufiq ini menjadi penting dalam kerangka kontranarasi terhadap asupan-asupan informasi bahwa Islam lekat dengan kekerasan atau teror. “Meskipun ini tidak mudah tetapi narasi-narasi untuk mencegah terorisme sangat penting hari-hari ini,” jelasnya. [Ceprudin/003]