Islam Nusantara, Islamnya Indonesia

0
850
Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abu Hapsin, Ph.D

Semarang, nujateng.com- Sejak istilah Islam Nusantara digunakan sebagai tema besar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 33 di Jombang Jawa Timur tahun 2015 lalu, istilah ini terus diperbincangkan di pelbagai ruang diskusi maupun media massa.

Berbagai pendapat baik yang pro maupun kontra terus mengemuka bak jamur di musim hujan. Namun yang terpenting dari perdebatan itu, terletak pada pertanyaan dasar: Apa yang dimaksud Islam Nusantara? Apakah Islam Nusantara berbeda dengan Islam yang ada di luar Nusantara?

Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abu Hapsin, Ph.D menyatakan, Islam Nusantara adalah Islamnya Indonesia.

Untuk menjernihkan pemahaman tentang Islam Nusantara, ia mengkritik hasil penelitian Clifford James Geertz di Mojokuto (tempat ini kemudian diasumsikan di Pare, Kediri, Jawa Timur).

”Pandangan Clifford Geertz tentang Islam yang ada di Indonesia itu keliru. Ia melakukan penelitian di Indonesia, setelah ia membaca Islam yang ada di luar Indonesia (Timur Tengah). Jadi, ia melakukan penelitian tentang Islam di Indonesia dengan ‘patokan’ Islam diluar Indonesia,” terangnya, saat ditemui di kediamannya, Senin, (14/3/16) malam.

Mantan ketua FKUB Jateng ini menambahkan, meneliti Islam yang ada di Indonesia, dengan kacamata Islam Timur Tengah akan menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat. Pasalnya, Islam Indonesia itu original, Islam khas Indonesia. Tanpa bisa diukur oleh kerangka Islam manapun.

“Karena itu, tidak bisa Islam Indonesia diukur oleh Islam Timur Tengah. Kalau yang dilakukan Clifford Geertz itu kan dia meneliti Islam Indonesia dengan kerangka Islam al-Quran dan Hadis yang ada di Timur Tengah. Ya jelas hasilnya keliru. Karena ritus-ritus yang ada di Indonesia menjadi tidak sesuai dengan standar Islam yang oleh dia dijadikan kerangka teori dalam penelitian,” tambahnya.

Hematnya, kesimpulan Geertz mengenai Islam di Indonesia yang dikategorikan dengan Islam abangan dan lainnya, kurang tepat. “Ya kalau yang dipakai kacamatanya standar Timur Tengah hasilnya begitu. Ritual-ritual keagamaan yang ada di Idonesia menjadi sinkretis, antara ritual Nusantara dan ajaran Islam. Padahal itu bukan sinkretis, tapi itulah Islam Nusantara,” paparnya.

Standarnya Nilai

Lalu apa standar yang dipakai Islam Nusantara, jika bukan Islam Timur Tengah? Abu Hapsin berpandangan, yang dijadikan patokan dalam Islam itu bukan tempatnya atau negara asalnya. Hematnya, sebuah negara atau tempat seperti Timur Tengah tidak bisa dijadikan ukuran kebenaran Islam Nusantara.

”Yang menjadi standar Islam Nusantara itu apa? Ya nilai, nilai-nilai Islam yang universal. Jadi standarnya bukan asal mulanya, tapi yang menjadi standar itu nilai-nilai kebaikan universal yang terkandung dalam Islam. Jika nilai yang menjadi patokan, maka Islam Nusantara merupakan asli Islam Indonesia. Tanpa harus dibanding-bandingkan dengan Islam di negara lain,” tandasnya.

Berdasarkan pandangannya itu, maka ritual-ritual keagamaan yang ada di Indonesia tidak menyimpang dari ajaran Islam. Sejauh masih mengandung nilai-nilai universalitas, katanya, maka itu merupakan ritual dalam berislam ala nusantara. Dengan begitu, maka seseorang tidak akan terjebak dengan saling menyalahkan ritual keagamaan.

Kiai Abu mencontohkan, salah satunya ritual mendoakan orang yang mengandung. Dalam teks al-Quran dan hadis, jelas ritual empat atau tujuh bulanan orang hamil tidak ada. Namun, hematnya, dalam pandangan Islam Nusantara sangat baik karena sesuai dengan nilai-nilai universalitas Islam.

”Ritual mendoakan empat atau tujuh bulan itu jelas tidak ada kan dalam teks al-Quran dan hadis. Tapi ritual ini mengandung nilai-nilai universalitas Islam. Nilai universalnya apa, yaitu mendoakan, atau berdoa. Dalam ajaran Islam apakah berdoa hanya di masjid dan ketika selesai sholat? Tentu tidak,” tukasnya.

Kiai Abu melanjutkan, berdoa bersama untuk mendoakan supaya orang hamil itu diberikan keselamatan dan kelancaran merupakan nilai universal Islam. Karena itu, katanya, mengadakan ritual tujuh bulanan untuk mendoakan orang hamil itu sesuai dengan prinsip universal Islam.

”Itu baru satu contoh kasus, saja. Banyak ritual ala Nusantara yang mengandung nilai-nilai universalitas Islam dan secara tekstual dalam Alquran dan Sunnah memang tidak ada,” tandasnya.  [Ceprudin/002]