Islam Nusantara, Islam Yang Menerima Pancasila

0
1075
Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abu Hapsin, Ph.D

Semarang, nujateng.com- Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Abu Hapsin, Ph.D mengatakan, bahwa pada intinya Islam Nusantara adalah Islamnya Indonesia. Islam yang standarnya menggunakan nilai-nilai universal Islam itu sendiri, yakni menebar kasih sayang kepada semesta (rahmatan lil ’alamin) tanpa ‘dikotak-kotakkan’.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana aplikasi Islam Nusantara supaya bisa menjadi rahmatan lil ’alamin? Kiai Abu memaparkan, bahwa kontekstualisasi Islam Nusantara paling tidak bisa dilihat dari tiga aspek penting. Ketiganya itu menyangkut 1) politik kebangsaan, 2) hukum (sosiologi hukum), dan 3) antropologi.
“Islam Nusantara paling tidak, aplikatif dalam tiga aspek, yakni: politik, hukum, dan kajian antropologi. Ketiga aspek ini, selalu menjadi wacana dan perdebatan yang memicu konflik antar kelompok dalam Islam. Maka Islam Nusantara hadir untuk membantu menjernihkan pemahaman itu,” katanya, saat disambangi di kediamannya beberapa waktu lalu.

Mari kita ‘preteli’ satu per satu gagasan mantan Ketua Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jateng ini mengenai aplikasi Islam Nusantara. Pertama, aplikasi Islam Nusantara dalam aspek politik kebangsaan. Ia mengatakan, Islam Nusantara adalah Islam yang menerima Pancasila sebagai dasar negara.
”Islam Nusantara adalah Islam yang menerima Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara. Islam Nusantara juga menerima UUD 1945 sebagai konstitusi Indonesia. Islam yang menyatakan NKRI harga mati. Islam Nusantara adalah Islam yang tidak memaksakan syariat Islam menjadi dasar negara (din wa ad-daulah) di Indonesia,” tukasnya.

Hukum Islam Nusantara
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang yang lama nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri ini menjelaskan, Pancasila dan UUD 1945 tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Kerangka yang digunakan adalah nilai-nilai ajaran Islam yang universal. Dalam Pancasila dan UUD 1945 terkandung nilai-nilai universal ajaran Islam.
Dengan dasar itu, lanjutnya, Islam Nusantara tidak perlu memaksakan syariat Islam menjadi dasar negara. Islam Nusantara tidak seperti kelompok kecil muslim Indonesia yang getol menyuarakan supaya Islam menjadi dasar negara. “Nilai-nilai universal Islam cukup menjadi spirit dasar negara, ya bentuknya Pancasila dan UUD 1945,” sambungnya.
Selanjutnya aplikasi Islam Nusantara dari aspek hukum. Ya, selama ini di Indonesia masih ada kelompok yang menghendaki hukum Islam menjadi hukum negara. Abu Hapsin berpandangan, memaknai syariat Islam tidak bisa tekstualis, kaku, apa adanya. Namun, harus dimaknai elastis sesuai dengan tujuan ayatnya.
“Bisa kita ambil contoh ayat tentang punishment (hukuman, red) bagi orang yang mencuri. Dalam al-Quran itu kan teks-nya, kalau ada orang yang mencuri itu dipotong tangannya. Ayat ini tak bisa begitu saja dipahami tekstualis, bahwa setiap orang yang mencuri harus dipotong tangannya,” katanya.
Menurut Kiai Abu, QS. al-Maidah 38 yang menyatakan, wa as-sâriqu wa as-sâriqatu fa-qtha’û aidiyahumâ (laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya, red) harus dipahami maksudnya, bukan murni teksnya. “Tujuan dari ayat ini adalah perlindungan harta. Ayat ini bertujuan supaya orang tidak seenaknya mengambil harta orang lain,” tegasnya.
Karena itu, sambungnya, apabila hukuman bagi pencuri di Indonesia dengan penjara, maka tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Alasannya, nilai universalitas ayat tentang hukuman mencuri itu adalah perlindungan harta. “Apabila hukuman 10 tahun penjara misalnya, bagi yang mencuri itu sudah dianggap membuat pelakunya jera, maka itu sudah Qurani. Tidak perlu dipotong tangannya,” tambah Kiai Abu.

Ritus-ritus Islam Nusantara
Aspek yang ketiga dari aplikasi Islam Nusantara adalah dari sisi antropologi tentang ritus-ritus keagamaan di Indonesia. Ya, hingga sekarang masih banyak kelompok Islam yang menganggap menyisipkan bacaan-bacaan al-Quran dalam ritual tradisi adalah haram. Kelompok muslim ini menganggap, bahwa ritual keagamaan Islam yang tidak ada dalam teks al-Quran itu salah. Alasannya tidak Qurani.
Kiai Abu Hapsin memandang, pemikiran seperti ini sangat rigid atau kaku. Islam Nusantara hadir sebagai alternatif pencerahan bahwa ritus-ritus keagamaan Islam di Indonesia sesuai dengan ajaran Islam. “Banyak tradisi di Indonesia yang tidak ada dalam teks al-Quran dan sunnah, tapi sejatinya sesuai dengan al-Quran dan sunnah,” katanya.
Apa contohnya? Ya, selain mencontohkan mengenai selametan tujuh bulanan bagi orang yang sedang hamil, Kiai Abu juga mencntohkan ritual yang sangat popular. Yakni, sedekah bumi, sedekah laut, skatenan, tahlillan, ziarah kubur, dan lain sebagainya. Ritual-ritual itu, katanya, sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai universal Islam.
”Ritual itu memang pada mulanya merupakan local wisdom (kearifan lokal, red). Namun, substansinya adalah berdoa yang itu diperintahkan oleh al-Quran. Maka substansi ritual itu disisipkan dengan bacaan Islam. Islami atau tidak jika demikian? Ya sangat Islami. Inilah Aplikasi dari Islam Nusantara, Islam yang menjadi sumber kebaikan,” tandasnya. [Ceprudin/002]