KH. Hasyim Muzadi: Narkoba Membungkus Kematian dengan Kenikmatan

0
736
KH. Hasyim Muzadi saat melakukan kunjungan kerja ke Kementerian Agama. Foto: Gpenk

Jakarta, nujateng.com– Teroris membunuh orang. Namun Narkoba membunuh kehidupan orang yang masih hidup. Narkoba membungkus kematian dengan kenikmatan, membuat orang ketagihan dan jika tidak mampu membeli, maka akan membunuh dengan cara yang mengerikan.

Pandangan tersebut diungkapkan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) KH. Hasyim Muzadi dalam silaturrahim ke kantor Kementerian Agama Republik Indonesia, belum lama ini.

Dalam kunjungannya tersebut, Kiai Hasyim menyatakan tegas bahwa narkoba benar-benar lebih kejam dari teroris keras. Dan juga mayoritas masyarakat yang terjebak narkoba adalah masyarakat miskin, sedangkan mayoritas gembong narkoba justru tidak mengkonsumsi obat terlarang tersebut.

“Awalnya gratis, lalu jika sudah ketagihan, harus beli, jika tidak mampu, maka harus jadi agen dan begitu terus. Ini harus segera dihentikan,” jelas Kiai Hasyim.

“BNN tidak akan sanggup menghentikan Narkoba di negeri ini. Karenanya, saya telah bersilaturahim ke BNN, Ketua MPR dan kini Ke Menag. Ke depan, ada Kemendagri, Kemensos, Kemenses dan beberapa Kementerian/lembaga negara terkait, untuk melakukan gerakan nasional secara bersama-sama,” tambahnya.

Kiai Hasyim menunjukkan, akan berat melawan narkoba, karena para gembong internasional tidak akan tinggal diam. Merekapun akan melakukan suap kepada kita (Pemerintah), maka dari itu perlu beberapa pimpinan antar lembaga negara harus bersatu.

Sementara itu, Kiai Hasyim menyatakan, daya hancur Narkoba jauh lebih dahsyat dari pada teror bom dan bahkan korupsi.

“Tiap hari, 40 nyawa melayang secara menyedihkan. Jika 5,8 juta yang kena narkoba tersebut, 10 % saja tidak mampu membeli, apa yang akan terjadi? Karenanya, ada tiga komponen yang harus bekerjasama untuk menanggulangi masalah ini. Jika hanya mengandalkan BNN, tidak akan mampu,” terang Kiai Hasyim

“Pertama, Lembaga Negara. Seperti BNN, Kemenag, Kemendagri, Kemensos, Kemenses, aparat penegak hukum dan lain sebagainya harus bekerjasama. Kedua, Imunitas Masyarakat. Jadi, masyarakat harus dilibatkan, tidak sekedar diberi info, tapi diajak pro aktif dengan pola kerja jelas. Ketiga, Narkoba. Itu adalah serangan yang dibungkus dengan kenikmatan. Para pecandunya hidup dalam keadaan yang mengerikan dan ditutup dengan kematian. Para bandar narkoba internasional tidak akan tinggal diam. Mereka akan melawan. Dan kita mau tidak mau harus siap. Atau jika didiamkan, kita akan seperti Meksiko yang sudah sedemikian parahnya,” imbuh Kiai Hasyim.[Gepenk Pujianto/003]