Faktor Nikah Dini Terjadi Karena “Kecelakaan”

0
831
Peserta Halaqah dan Bahtsul Masail Pernikahan Usia Dini di Lasem Kabupaten Rembang. Foto: Ichwan

Lasem, nujateng.com –Fenomena nikah misyar (nikah kontrak yang dilegalkan wahabi) yang terjadi di kawasan wisata Puncak, Bogor dan sekitarnya. Para pelaku nikah adalah turis-turis dari Arab, dan dilakukan di saat musim haji karena mereka sedang liburan hingga tiga bulan. Sedangkan korbannya, adalah anak-anak perempuan yang dijual oleh orang tuanya untuk dinikahi secara misyar, semata-mata untuk memperoleh keuntungan finansial.

Pandangan tersebut disampaikan  Dr. Mukti Ali dalam  presentasinya di acara Halaqah dan Bahsul Masaildi di  Pondok Pesantren Kauman Lasem, Rembang, kemarin.

“Yang kita harus soroti seharusnya nikah misyar orang wahabi di kawasan wisata Puncak. Itu sungguh memprihatinkan. Anak-anak kecil dijual orang tuanya untuk mendapat uang mahar dari para turis Arab. Calonya dan ustad yang menikahkan juga dapat uang. Itu jadi komiditi yang menggiurkan.  Faktor kemiskinan lagi-lagi menjadi kambing hitam,” ujarnya.

Keprihatinan lain, seratus persen problem nikah dini saat ini adalah faktor terjadinya zina. Yakni anak-anak usia dini yang sudah terlanjut berzina, lantas karena orang tuanya malu, menikahkan mereka dengan mengajukan dispensasi nikah ke Pengadilan Agama. Dikenal dengan istilah Married By Accident (MBA).

Salah satu peserta halaqah, Abdullah Muava, menceritakan bahwa, dulu di zaman orang tua kita, anak-anak dinikahkan usia dini karena takut kalau anaknya berbuat dosa, takut anaknya pacaran dan sebagainya.

“Sekarang ini setiap hari ada orang dikawinkan secara terpaksa karena sudah terlanjur “kecelakaan” alias telah melakukan zina. Data lengkap ada di setiap kantor Pengadilan Agama daerah,” ujar.

Sementara itu, peserta lain, Asrorun Niam Soleh,  menyampaikan, menurut UU Perlindungan Anak, nikah usia dini yang merugikan hak anak bisa dipidanakan. Yaitu jika pelaku terbukti melakukan pelanggaran dengan misalnya pencabulan.

“Pemerkosaan dalam perkawinan juga tidak boleh. Marital Rape itu dilarang,” ujarnya.

Selain itu perlu adanya   work shop dan bahsul masail lanjutan untuk merumuskan lebih rinci mengenai aturan yang harus dibuat oleh negara. Terlebih jika hendak mau dimasukkan dalam peraturan perundang-undangan.  [Ichwan/003]