Berkacamata Hitam, Ribuan Warga Semarang Salat dan Lihat Gerhana Matahari

0
598
Ribuan warga semarang salat gerhana matahari di pelataran Masjid Agung Jawa Tengah, Rabu (9/3/2016) pagi. NUJateng/@nazaristik

SEMARANG, nujateng.com – Gerhana Matahari total yang terjadi hari ini, Rabu (9/3/2016) harusnya disikapi secara dewasa. Gerhana juga bisa dijadikan sebagai momentum untuk mengingat kebesaran Tuhan.

Setidaknya lebih dari 5 ribu umat Islam memadati pelataran di Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang. Sebagian menggunakan kaca mata hitam. Selain melaksanakan salah gerhana, mereka juga menyaksikan fenomena alam yang langka tersebut.

“Jadi, jangan dikait-kaitkan dengan keyakinan-keyakinan tertentu,” kata Anggota DPR RI, Noor Ahmad, saat memberikan Khutbah salat Gerhana di Masjid Agung Jawa Tengah.

Ketua Umum Pengurus Masjid Agung Jawa Tengah tersebut, mengatakan dalam melihat gerhana yang patut dikerjakan ialah bertakbir, doa hingga melakukan sadaqah.

Fenomena gerhana matahari juga merupakan hal biasa. Sehinga, tidak perlu dipersepsikan dengan kisah-kisah yang bermacam-macam.

“Gerhana matahari ini bentuk kebesaran Allah. Ini bukan sekedar tontonan, tapi sekaligus mengagumi kebesarannya,” imbuhnya.

Atas hal itulah, fenomena gerhana matahari penting untuk dijadikan bahan peringatan terhadap semua, di tengah hingar bingar persoalan-persoalan bangsa.

Salat gerhana matahari di MAJT dilaksanakan pada pukul 07.30 WIB. Salat gerhana dipimpin oleh Kiai Ulil Abshor, dengan khatib Dr. Noor Ahmad.

Bukan Cerita Buto
Kisah gerhana matahari total bagi masyarakat bukan berupa kisah bahwa matahari dimakan “buto” atau makhluk buas pemakan matahari. Kisah tersebut tidak benar, karena fenoma gerhana bisa dijelaskan secara ilmiah.

Menurut Rektor UIN Semarang, Prof Muhibbin, fenomena gerhana matahari total ialah fenomena alam biasa yang terjadi dalam kurun waktu tertentu. Gerhana matahari juga bisa dijelaskan secara ilmiah, melalui serangkaian penelitian.

“Gerhana ini bukan hal buruk, tapi hal biasa. Kalau dimakan buto itu gak benar. Ini bisa dijlaskan secara ilmiah,” kata Muhibbin.

Kepala Kantor Kementerian Agama Jateng Ahmadi juga menyapaikan, gerhana matahari yang hari ini terjadi merupakan angerah yang diberikan Tuhan kepada umat manusia. [Nazar Muhammad/003]