Rawat Kerukunan Dengan Dialog

0
748
Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abu Hapsin, Ph.D (kiri) dalam diskusi yang diselenggarakan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jawa Tengah di Aula lantai 15 Setos Jl Petempen 294 Gajahmada Semarang, Senin (22/02/16). [Foto: AR]

Semarang, nujateng.com- Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Abu Hapsin, Ph.D mengatakan, umat Islam seharusnya selalu menebar cinta kasih kepada semua umat manusia. Cinta kasih kepada sesama dapat ditumbuhkan melalui jalan dialog.

“Bagaimana supaya rasa cinta ini tumbuh, saya kira tidak ada cara lain yang sudah teruji selain dengan dialog,” paparnya dalam diskusi dengan tema ‘Cinta Menembus Batas, Melayani Tanpa Pamrih, Harmoni dalam Perbedaan’ yang diselenggarakan oleh Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jawa Tengah di Aula lantai 15 Semarang Town Square (Setos) Jl Petempen 294 Gajahmada Semarang, Senin (22/02/16).

Kendati demikian, menurutnya, diskusi yang dilakukan perlu disesuaikan dengan tingkat intelektualitas masyarakat. Apabila masyarakat bagian dari akademisi, maka dialog bisa dilakukan dengan cara dialog akademik yang membahas tentang persamaan dan perbedaan eskatologi atau teologi yang diyakini masing-masing antar umat beragama.

“Dialog ini untuk tingkatan elitis. Untuk tingkatan masyarakat, saya kira akan lebih baik kalau dialog-dialog itu dalam bentuk aksi,” katanya.

Dialog aksi maksudnya mengerjakan aktivitas sosial bersama. Dialog bentuk ini sangat efektif ditempuh oleh masyarakat secara umum. “Dalam dialog aksi ini tidak usah bertanya apa keyakinan agamamu, apa ideologimu. Ini hanya mungkin bisa kita lakukan hanya ada ketika kita berada di dalam ruang akademik bersama orang-orang yang terbatas,” tuturnya.

Dalam dialog aksi, menurut dosen UIN Walisongo Semarang itu, yang paling penting bisa bertukar pengalaman dalam menganut agama masing-masing.

“Makanya pertanyaannya itu bukan apa keyakinanmu, apa ideologimu. Tapi (dalam dialog aksi, pertanyaannya, red) bagaimana pengalaman anda sebagai seorang Katolik. Bagaimana pengalaman anda sebagai orang Budha. Bagaimana pengalaman anda sebagai muslim. Bagaimana pengalaman anda sebagai penganut Hindu, dan seterusnya. Dan yang terpenting mendialogkan bagaimana supaya masing-masing dapat bekerjasama dalam membangun kemanusiaan ini,” jelasnya.

Dua macam bentuk dialog ini, menurut Ketua Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah periode 2009-2013 itu, tidak hanya dapat dipraktikkan dalam hubungan antar umat beragama, tapi bisa dilakukan juga dalam hubungan antar etnis, marga atau yang lain demi menciptakan kehidupan yang harmoni.

“Tak kenal maka tak sayang. Pepatah ini tidak akan lapuk saya kira. Nah jalannya adalah dengan dialog,” tegasnya. [AR/002]