KH.Fuad Affandi:NU Lahir Karena Pengetahuan Ulama yang Brilian

0
1080
Fuad Affandi

Badung,nujateng.com- Peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama yang ke-90 dalam pandangan KH.Fuad Affandi harus menjadi lahirnya kebangkitan pemikiran baru. Menurut pengasuh Pondok Pesantren Al-Ittifaq Rancabali Kabupaten Bandung ini, Nahdlatul Ulama dilahirkan dari titik tolak pemikiran sebelum menjadi gerakan.

“NU senyawa dengan Islam. Ada ilmu ada amal. Antara ilmu dan amal tak bisa dipisahkan. Ada teori harus teruji dalam tindakan. Jika ada tindakan tanpa ilmu, itu sama saja jalan dikegelapan. Lahirnya NU sebagai gerakan lahir, karena pengetahuan yang brilian dari para ulama untuk menjawab tantangan zaman kala itu. Sekarang tantangan kita sudah berbeda. NU sudah 90 tahun, dan apa yang harus kita lakukan?” ujar Kiai yang menahkodai pesantren Agrobisnis ini kepada nujateng.com, Minggu (31/1) kemarin.

Atas dasar itu, KH.Fuad Affandi bermaksud menawarkan terobosan pemikiran kepada orang NU yang berada di jajaran struktural maupun NU kultural. Pertama, orang NU menurutnya harus terus inovatif dalam mengembangkan pengetahuan untuk menjawab persoalan.

Ngaji menurutnya adalah kewajiban. Tapi sekadar menjalankan kewajiban tanpa usaha untuk menjawab persoalan itu sama juga memisahkan antara ilmu dengan amal. Maka sebaiknya setiap santri atau pelajar wajib menyadari pentingnya kebutuhan diri sendiri dalam mencari ilmu. Banyak ilmu bukan berarti semua harus dikeruk. Sebaiknya ada pengetahuan yang harus bisa menjawab kebutuhan hidup diri sendiri, baru kemudian kebutuhan masyarakat luas, dan diabdikan pada kepentingan bangsa.

“Dari sekian banyak ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah lumayan maju, saya melihat ada kelemahan warga NU dan ini juga berlaku untuk masyarakat di luar NU, yaitu kelemahan mencari sumber penghasilan yang halal dan berdaya guna menyelesaikan urusan rumah tangga.Jangankan yang kurang berpendidikan. Banyak sarjana juga susah mencari kebutuhan hidup. Hal ini salahsatunya disebabkan karena tidak kreatifnya seseorang menggunakan ilmu untuk kehidupan sehari-hari,” terangnya.[Makmun Yusuf/003]