KH Abu Hapsin: Berakhlaklah Seperti Akhlak Tuhan

0
1191
Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abu Hapsin, Ph.D

Semarang, nujateng.com- Setiap agama mengajarkan umatnya untuk mencintai sesamanya. Kalau dalam agama Islam, itu biasanya kita mau mengerjakan apapun diawali dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Bismillahirrahmanirrahim.

Hal itu disampaikan KH Abu Hapsin, Ph.D dalam diskusi dengan tema ‘Cinta Menembus Batas, Melayani Tanpa Pamrih, Harmoni dalam Perbedaan’ yang diselenggarakan oleh Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jawa Tengah di Aula lantai 15 Semarang Town Square (Setos) Jl Petempen 294 Gajahmada Semarang, Senin (22/02/16).

Menurut Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah itu, Nabi Muhammad mengajarkan bahwa manusia harus memiliki akhlak ketuhanan, yakni menebar kasih sayang kepada semua makhluk.

“Kita itu harus berakhlak, bertatakrama seperti tatakrama Tuhan, berakhlak seperti akhlak Tuhan. Kalau Tuhan saja selalu mengedepankan rahman dan rahim, kasih dan sayang, sebenarnya umatnya pun begitu. Umatnya nabi Muhammad ini harus mengedepankan cinta dan kasih sayang,” paparnya.

Karena itu, Kiai Abu menambahkan, jika dalam praktiknya umat Nabi Muhammad tidak memiliki akhlak seperti itu, berarti umat tersebut telah melakukan penyimpangan, yakni tidak menjalankan ajaran Nabi yang sesungguhnya.

“Kenapa demikian, karena Tuhan sebenarnya ketika meminta kita untuk berakhlak seperti Tuhan itu wajar. Secara teologis saya kira ada kesamaan, khususnya dengan teologi Kristiani. Kalau dalam Kristiani, manusia atau Adam itu diciptakan dari imago dei (citra Tuhan, red). Setelah Tuhan menciptakan bumi, dalam Kitab Kejadian, Tuhan kemudian menciptakan Adam dari citranya,” jelasnya.

Lebih jauh dosen UIN Walisongo Semarang itu, memaparkan bahwa makna serupa dapat ditemukan dalam al-Quran. Al-Quran mengatakan, Adam diciptakan dari ruh, dari spirit. Jadi kalau dalam al-Quran manusia itu diciptakan dari ruh, wa nafakhtu fîhi min rûhî (dan telah Aku tiupkan kedalamnya ruh-Ku, red), maka seperti dalam Kitab Kejadian, manusia itu diciptakan dari image, citra Tuhan.

Karena itu, kata Kiai Abu, sangat wajar jika kemudian manusia diperintah untuk berkarakter seperti karakter Tuhan yang mengasihi dan menyayangi.

“Mencintai, menembus batas apapun, batas etnis, batas religious background, itu adalah sebuah perbuatan yang mulia, karena itu sesungguhnya ini diminta juga oleh Tuhan,” tuturnya.

Hadir sebagai pembicara lain dalam diskusi ini, rohaniwan Katolik Romo Aloys Budi Purnomo, budayawan Prie GS, Ketua PSMTI Jawa Tengah Dewi Susilo Budiharjo, dan tokoh masyarakat Kota Semarang Soemarmo Hadi Saputro. [AR/002]