Harlah NU Ke-90 dan Universalisme Islam

0
779

Oleh Muhammad Syuhada*

Tahun 2016 (tepatnya tanggal 31 januari), NU sebagai organisasi sosial keagamaan (Jam’iyah) telah memasuki usianya yang ke-90. Dari awal berdirinya NU telah membuktikan komitmennya terhadap keindonesiaan dan keislaman. Sama sekali tak pernah terjadi benturan di antara keduanya, seperti menolak konsep “The Clash of Civilization”.

Inti dari tradisi keilmuan yang dianut NU adalah perpautan antara tauhid, fiqih, dan tasawuf secara tidak berkeputusan. Yang dalam jangka panjang menumbuhkan pandangan terpautnya sendiri antara dimensi duniawi dan ukhrawi dari kehidupan. Perpautan dimensi duniawi dan ukhrawi dari kehidupan ini merupakan mekanisme kejiwaan yang berkembang di lingkungan NU untuk menghadapi tantangan sekularisme yang timbul dari proses modernisasi (Islam Kosmopolitan, 2007).

Sebagai Jam’iyah (Ormas) terbesar di indonesia, bahkan terbesar di seluruh dunia, yang berpaham ahlussunah wal jamaah, maka sudah seharusnya bagi NU untuk turut serta mempengaruhi peradaban Islam. Sebuah peradaban yang dulu sempat disebut oleh sejarawan agung Inggris Arnold Toynbee sebagai “oikumene peradaban Islam”. Oikumene Islam ini, menurut Arnold adalah salah satu dari enam belas oikumene peradaban yang menguasai dunia (Islam Kosmopolitan, 2007). Secara lebih spesifik, NU harus terus mendorong terwujudnya perdamaian dunia. Apalagi hari ini kita masing-masing menyaksikan kondisi di Timur Tengah yang berada dalam suasana politik yang memanas yang berdampak pada perang saudara yang tak kunjung usai.

Dalam usia ke-90 ini, NU harus terus membuktikan eksistensinya terhadap dunia. Ada beberapa hal yang harus dilakukan NU dalam harlahnya yang ke-90 demi terwujudnya Islam yang progresif.

Pertama, sebelum bergerak lebih jauh, NU perlu berbenah diri, menyelesaikan segala permasalahan internal, dan mengevaluasi sejauh mana program-program kerja tahunan yang telah diagendakan dapat terlaksana.

Kedua, awal tahun 2016, Indonesia telah dipelikkan oleh berbagai macam problem-problem tanah air yang terkait dengan sosial, ekonomi, dan politik. Dari mulai diskriminasi kaum minoritas, pelemahan KPK, kegaduhan DPR, darurat narkoba, sampai masalah kontrak perpanjangan Freeport. Terakhir, publik digemparkan teror bom sarinah.

Oleh sebab itulah, posisi strategis NU sangat diperlukan dalam hal ini. Misalnya, turut melakukan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang menelantarkan kehidupan masyarakat, meningkatkan kualitas pendidikan madrasah dan pesantren agar tak termarjinalkan dalam arus modernitas, terutama pendidikan nirkekerasan, meningkatkan pembangunan layanan kesehatan masyarakat semisal rumah sakit (mengingat masih sangat minimnya rumah sakit NU). Terlebih penting lagi adalah terkait dengan pengembangan dan reformasi kualitas sumber daya manusia.

Ketiga, dunia Arab kini sedang krisis peradaban. Buya Syafi’i Maarif menyebutnya dengan istilah “Krisis Peradaban Arab Muslim”. Menurut Khaled Abou El Fadl dalam artikelnya yang berjudul “The End of Arab Spring, the Rise of ISIS and the Future of Political Islam” dalam Religion and Ethics, 23 April 2015 menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan dunia Arab mengalami krisis peradaban. Faktor-faktor itu dilukiskan dengan sebuah ucapan yang ia kutip dari pernyataan penulis Arab Mahmoud Khaled.

Mahmoud menyatakan: “Para pemimpin Arab yang korup, pemerintahan Barat yang rakus dan rasis, massa Arab yang tergoncang berat, dan kelompok badut (buffoons) yang angkuh yang mengklaim berbicara untuk Islam.”

Dari pernyataan itu dapat disimpulkan tiga faktor yang menyebabkan kebangkrutan peradaban muslim Arab. Pertama, para elit politik yang korup. Kedua, pihak barat yang menguasai peta politik internasional yang rakus. Ketiga, kelompok jihadis berideologi radikal (ISIS) yang bertindak secara amoral namun mengklaim sebagai umat yang beragama Islam. Di sinilah peran penting NU untuk ikut andil menciptakan Islam rahmatan lil ‘alamin dan perdamaian bagi peradaban dunia.

Saat Muktamar ke-32 di Jombang, NU dengan tema besarnya “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Membangun Peradaban Indonesia dan Dunia” semakin relevan. Meskipun ide Islam Nusantara diklaim oleh Jeremy Menchik dalam artikelnya yang berjudul “An escapist view of extremism” (artikel ini dimuat dalam “New Mandala” pada 14 januari 2016) sebagai sebuah gagasan yang menarik, namun juga memiliki kesalahan konsep. Gagasan bahwa kultur dan kebudayaan Nusantara, khususnya Jawa dapat diekspor ke negeri lain adalah sebuah kesalahpahaman (Misunderstanding) NU. Artikel Jeremy sebenarnya melupakan bagian terpenting dari gagasan “Islam Nusantara.” Gagasan NU tersebut bukan hendak mengekspor kultur dan kebudayaan masyarakat Nusantara. Tetapi gagasan bahwa Islam dapat mengakomodasi budaya dan nilai-nilai lokal; baik itu di Timur Tengah, Amerika, Afrika, Eropa, dan Australia. Islam Nusantara bukan Islam global, melainkan Islam lokal (a local Islam; not a global Islam).

Keempat, kaitannya NU dan perkembangan islam di Indonesia. Aspek-aspek utama dari pengaitan NU kepada proses perkembangan Islam di Indonesia dapat dilihat pada hal-hal berikut ini: tradisi keilmuagamaan tradisional yang dikembangkan oleh NU, salah satu sikap keberagamaan yang menonjol dalam panggung realitas masyarakat NU (baik eksklusif, dan inklusif), dan cara pengambilan keputusan umum sebagai otoritas keagamaan masyarakat NU serta penyelesaian (rekonsiliasi) konflik internal organisasi.

Jika keempat hal tersebut dapat diperankan NU dengan baik dan benar, maka tercapailah cita-cita yang disebut Gus Dur dengan istilah Universalisme Islam. Universalisme Islam yang tercermin dalam berbagai manifestasi ajaran-ajaranya. Rangkaian ajaran yang meliputi berbagai bidang, seperti hukum agama (fiqih), keimanan (tauhid), serta etika kemanusiaan (akhlak). Namun dalam prakteknya, ajaran-ajaran ini sering kali direduksi oleh kalangan umat islam yang memiliki kedangkalan berfikir hingga hanya menjadi sebatas kesusilaan belaka dalam sikap hidup. Padahal, elemen-elemen itulah yang menjadi dasar dan sekaligus inti keberislaman.

Dengan demikian, dalam konteks peringatan Harlah NU Ke-90 ini menjadi benar-benar bermakna bagi kehidupan masyarakat tradisional dan neo-tradisional NU, serta umat Islam Indonesia secara keseluruhan. [002]

* Muhammad Syuhada, Santri Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak