Lazisnu Jawa Tengah Gelar Silaturahim dan Rapat Koordinasi

0
729
[Foto: Kurnia Adib]

Semarang, nujateng.com- Pengurus Wilayah Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (PW LAZIS NU) Jawa Tengah menggelar kegiatan silaturahim dan rapat koordinasi yang dihadiri pengurus cabang LAZISNU se Jawa Tengah, pada hari Minggu, (27/12/15) pukul 09.00-17.00 di Aula Lantai 3 Gedung PWNU Jateng Jl. Dr. Cipto 180 Semarang.

Kegiatan ini dihadiri 54 orang utusan dari 19 PC LAZISNU se Jawa Tengah.  Acara ini dibuka oleh Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH. Ubaidillah Shodaqoh. Dalam sambutan, Mbah Ubaid –sapaan akrab KH. Ubaillah Shodqoh- berharap agar kita semua serius mengelola LAZISNU.

Menurut Ketua PW LAZISNU Jateng, H. Muhammad Mahsun, S.IP, kegiatan tersebut sebenarnya sudah dirancang lama karena menjadi agenda tahunan. Namun karena proses penataan di internal PW LAZISNU Jateng dan kondisi PP LAZISNU yang sedang terjadi pergantian pengurus maka baru bisa diadakan sekarang. Kegiatan ini dihadiri Ketua PP LAZISNU yang baru yaitu Gus H Syamsul Huda yang diangkat oleh PBNU hasil muktamar Jombang beberapa waktu yang lalu.

“Selama ini LAZISNU di daerah sudah bekerja sesuai dengan polanya masing-masing. Kami di PW LAZISNU pada tahun pertama lebih banyak melakukan pendampingan, bahkan ada NU Ranting yang datang membutuhkan pendampingan. Salah satunya di Gunungpati yang sekarang sudah berjalan dengan baik dan pernah dijadikan obyek penelitian skripsi salah seorang mahasiswa UIN Walisongo. Pada tahun kedua PW LAZISNU mulai menata manajemen dengan melakukan fundraising karena banyak cabang yang meminta konsultasi soal fundraising dan pelaporan,” kata Mahsun.

Potensi zakat sangat besar, per tahun bisa 100 trilyun tapi baru bisa 1,5 trilyun. Untuk itu peluang dan kesempatan LAZISNU untuk berkhidmah bagi umat sangat besar. Sedangkan potensi zakat di Jateng, jika umat Islam di Jateng ada 25 juta jiwa. Diasumsikan warga NU ada 40% atau 10 juta jiwa maka jika variasi muzakki 600 ribu berpendakatan 4 juta sebulan, 600 ribu berpendapatan 2 juta sebulan dan 200 ribu berpendapatan 1 juta sebulan. Maka potensi zakat warga NU ada 97,5 milyar dalam setahun. Namun fakta penghimpunan dana LAZISNU pusat mengalami penurunan dalam tahun 2011, 2012 dan 2013. Tahun 2011 menghimpun dana Rp. 5.645.586.535. Tahun 2012 turun menjadi Rp. 4.891.253.369 (turun 86,63%) dan Tahun 2013 turun lagi menjadi Rp. 3.786.429.455 (turun 77,41%).

Untuk itu, PW LAZISNU Jateng berupaya untuk melakukan penataan kelembagaan dengan membenahi manajemen. Program yang dilakukan PW LAZISNU Jateng selama setengah periode (2,5 tahun) ini menggunakan dua strategi yaitu intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi di antaranya mendorong berdiri dan aktifnya tim fundrising melalui instrumen kotak infaq dan CSR perusahaan. Di antara program utama untuk fundraising selain membangun kerjasama dengan perusahaan juga dengan individu lewat menyebar kotak infaq ke pengurus PWNU, pengurus Banom NU, politisi, akademisi, pengusaha dan warga nahdliyin yang mau menjadi donatur LAZISNU. Sudah ada hampir seratusan kotak infaq yang tersebar di Semarang dan sekitarnya. Dalam evaluasi setahun ini sudah berjalan bagus namun di lapangan masih ada kendala teknis yaitu ketepatan. Hal ini karena SDM yang ada di LAZISNU masih butuh penataan. Untuk itu ke depan akan ditambah tim relawan atau duta zakat PW LAZISNU yang fokus bergerak di fundraising. Setelah itu, sistem informasi pelaporan zakat harus ditata untuk memenuhi regulasi yang semakin menuntut akuntabiltas demi membangun kepercayaan masyarakat. Selama ini LAZISNU belum punya standart pelaporan yang baku yang bisa terkoneksi dari pusat hingga daerah. Banyak cabang yang tanya soal manajemen dan pelaporan yang akuntabel. “Sebenarnya animo publik untuk membayar zakatnya melalui LAZISNU sangat tinggi, maka manajemen dan SDM di LAZISNU butuh perbaikan,” kata Mahsun.

Adapun strategi ekstentifikasi adalah kerja sama dengan pemerintah dan BAZNAS agar sinergi dalam membangun peradaban zakat, kerja sama dengan lembaga keuangan syariah dalam hal pengumpulan, penyetoran, dan penyaluran dana ZIS, kerja sama dengan perusahaan swasta dan BUMD dalam penggalangan dana, kerja sama dengan perguruan tinggi dan kerja sama dengan berbagai lembaga sosial ekonomi di masyarakat.

NU-Care LAZISNU

Ketua PP LAZISNU H Gus Syamsul Huda, mengutarakan, agar LAZISNU mudah dikenal publik maka PP LAZISNU periode sekarang merubah LAZISNU menjadi NU-CARE LAZISNU. Program-program NU-Care di dalamnya sudah mencakup NU-Smart, NU-Skill dan NU-Preneur. Insya Allah dalam beberapa waktu ke depan juklak dan juknis tentang tata kelola kelembagaan LAZISNU sudah jadi dan bisa diterapkan di pusat dan daerah.

 

“Sekarang pusat juga sedang menyiapkan format pelaporan akuntansi zakat LAZISNU yang bisa berlaku secara nasional berbasis teknologi informasi. Jadi nanti terkoneksi. Kita bisa nmegecek wilayah atau cabang mana saja yang sudah aktif dan melakukan fungsi fundraising dan pendayagunaan dengan benar karena ini menyangkut audit dana zakat,” ungkap Gus Huda.

 

Peserta dari PC LAZISNU yang hadir sangat mengapresiasi diadakannya forum tersebut, bahkan banyak meminta diadakan enam bulan sekali sehingga penataan LAZISNU bisa semakin cepat karena kondisi di daerah butuh sharing dengan LAZISNU di daerah lain agar bisa saling memperbaiki kekurangan. Dalam waktu dekat setelah panduan dari pusat terbit maka segera akan mengundang kembali PC LAZISNU untuk koordinasi dan sosialisasi format kelembagaan yang baru termasuk diklat manajemen LAZISNU termasuk format pelaporannya yang diseragamkan karena ini tuntutan pusat dalam rangka menjawab regulasi zakat yang baru.

“Kita perlu mendidik tim lebih profesional misalnya tentang fundrising maka perlu ada diklat fundraising, tim program juga perlu diklat pemberdayaan umat, dan tim keuangan juga perlu diklat akuntansi dan teknik pelaporan yang akuntabel,” kata Zaenuddin Zen, sekteratis PW LAZISNU yang memimpin diskusi. [Kurnia Adib/002]