Takfiri, Penyebab Munculnya Embrio Radikalisme

1
769
KH.Hasyim-Muzadi

Semarang, nujateng.com- Kita harus menyadari bahwa di dunia ini tidak hanya Islam saja, ada aqidah yang lain. Kemudian dalam bidang syari’ah dan negara, ini yang kemudian melahirkan sebuah paham bahwa negara itu harus formal negara Islam. Ini  mungkin akan terjadi ketika dalam suatu negara itu hanya ada satu agama, yaitu agama Islam. Hal tersebut diungkapkan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres), KH. Hasyim Muzadi, dalam seminar dan lokarkarya dengan tema “Penanggulangan Paham Radikal atas Nama  Agama”, kemarin.

Hasyim lebih lanjut menjelaskan, bahwa  ketika di dalam suatu negara yang banyak agama, tentu tidak mungkin menjalankan satu model agama tertentu untuk melaksanakan suatu pemerintahan. Contohnya pada waktu setelah nabi hjirah dari Mekkah ke Madinah.

“Di Madinah terjadi Mitsqul Madinah, itu merupakan kesepakatan orang Madinah, bukan membawa negara,”terangnya.

Dijelaskannya, dalam kesepakatan tersebut ada 47 pasal, salah satu isinya, ukhwah bainal muslimin, yaitu menjalin hubungan yang baik antara kelompok orang muslim. Makna pada pasal tersebut jelas, bahwa yang bermasalah itu perilaku penganut agama Islamnya, bukan Islamnya.

“Kalau ada keributan di Syiria dan negara lain itu bukan Islamnya, tapi pengikutnya,” tambahnya.

Namun, menurutnya perbedaan tersebut berbeda pada perbedaan fiqh, seperti halnya  orang NU dengan Muhammadiyah dalam hal Qunut shalat dan penentuan awal bulan qamariyah. Takfiri dalam paham Islam ada dua kelompok, ada yang Takfiri semuanya selain kelompoknya dan  kelompok yang mentakfirkan sebagian. Takfiri sendiri artinya adalah gerakan yang suka mengkafirkan orang.

“Inilah embrio munculnya radikalisme. Semuanya dianggap kafir ketika berlainan aliran dengannya, maka ini tentu semakin keras gerakannya, mereka tidak memberi ruang untuk kebenaran bagi yang lain,” jelas mantan ketua umum Nahdlatul Ulama ini.  [Abdus Salam/003]